Knowledge is Power Brother!!!

Oktober 1, 2007

Konfrontasi Terhadap Konsep Subyek

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — rezaantonius @ 7:48 am
Tags: , , , , ,

 

 

“Konfrontasi” terhadap Konsep Subyek

 

Filsafat Modern dan Subyek Transendental

Menurut Martin Heidegger

 

            Sosoknya tidak begitu mengesankan. Wajahnya juga pasaran, tidak mirip seorang cendekiawan. Ia lebih mirip petani yang sering memakai topi pet.[1] “Perawakan professor pendek dan ramping”, demikian tulis Stefan Schimanski, “rambutnya hitam tebal dengan lintasan-lintasan putih. Ketika muncul dari pondoknya, ia naik ke puncak bukit, lalu menyalami saya. Ia berpakaian ala petani, pakaian yang sering ia kenakan ketika menjabat sebagai rektor di Freiburg. Sepatu botnya besar, dan itu semakin menandakan keterikatannya dengan tanah.“[2]

            Sosok bersahaja ini adalah salah satu filsuf terbesar di dalam sejarah filsafat Barat. Namanya adalah Martin Heidegger. Dari foto-fotonya, orang bisa melihat bahwa ia memiliki mata yang tajam. Foto-foto itu juga memiliki keunikan tersendiri. Ia sering difoto dari belakang, sehingga yang tampak hanya punggungnya saja. Pose ini seringkali mengundang beragam tafsiran tentang karakter Heidegger. Bukan hanya riwayat hidupnya yang multi tafsir, pemikiran dan filsafatnya pun penuh dengan lika liku yang mengundang beragam tafsiran kontroversial.

Martin Heidegger berfilsafat dalam konteks tanggapannya terhadap filsafat-filsafat sebelumnya. Karya magnum opusnya, Being and Time, dapat dipandang sebagai suatu tanggapan kritis terhadap pemikiran filsafat yang muncul sebelumnya, walaupun buku itu sendiri tidaklah selesai pada akhirnya. Bagian kedua buku itu juga bertujuan untuk “melakukan destruksi terhadap ontologi”.[3] Di samping itu, ia juga banyak menulis tentang sejarah filsafat. Ia menulis tentang filsafat Plato, Leibniz, Hegel, dan Nietzsche yang kemudian juga ditanggapinya secara kritis.

            Salah satu kritiknya adalah, bahwa sejarah filsafat, yang baginya merupakan sejarah metafisika, haruslah dihancurkan, sehingga pertanyaan tentang Ada dapat sungguh-sungguh diajukan dan direfleksikan lebih jauh. Akan tetapi, di dalam proses destruksi atas metafisika itu, pembedaan antara Ada dan Pengada, yang di dalam Being and Time bagian awal menjadi sangat penting, justru menghilang. Dengan demikian, satu-satunya cara untuk mengajukan pertanyaan tentang Ada adalah dengan memeriksa bagaimana Ada tersebut dipikirkan di dalam tradisi.

“Bagi kita sekarang,” demikian tulis Carr dalam bukunya tentang Heidegger, “tampaknya satu-satunya cara untuk memikirkan tentang Ada adalah dengan memikirkan bagaimana Ada telah dipikirkan oleh yang lain.”[4] Dengan demikian, tulisan-tulisan Heidegger selanjutnya, yang lebih memfokuskan refleksinya pada tema-tema seperti seni, bahasa, dan teknologi, sangat mengutamakan dimensi sejarah. Filsafat, oleh karena itu, hanya dapat dilakukan secara historis di dalam “aliran sungai sejarah”.

Di dalam bukunya yang berjudul The Paradox of Subjectivity, terutama pada bab pertama, David Carr hendak melihat bagaimana pendapat Heidegger tentang sejarah filsafat (1). Kemudian, ia memfokuskan studinya pada pembacaan Heidegger atas karya-karya para filsuf, mulai dari Descartes sampai Nietzsche (2). Dua bab pertama akan saya simpulkan terlebih dahulu (3). Pada bagian berikutnya, Carr menyempitkan fokus pada pembacaan Heidegger atas karya-karya Kant dan Husserl (4). Memang, menurut Heidegger sendiri, Kant dan Husserl adalah para filsuf yang dianggapnya mewakili tradisi filsafat transendental yang menjadi obyek kritiknya. Pandangan Carr tentang Heidegger di dalam buku The Paradox of Subjectivity inilah yang hendak saya jabarkan di dalam tulisan ini. Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan (5).

 

1. Sejarah Filsafat

            Pembacaan Heidegger terhadap seluruh sejarah filsafat mencangkup dua hal. Yang pertama adalah studinya terhadap filsuf-filsuf yang dilakukan secara individual. Yang kedua adalah studinya terhadap seluruh perkembangan filsafat mulai dari Descartes sampai Nietzsche, yang kemudian berakhir pada Husserl. Di dalam studinya tersebut, Heidegger memberikan kerangka baru di dalam prosesnya mempelajari seluruh sejarah filsafat, yakni bahwa “semua filsafat adalah suatu penafsiran atas Ada dari semua Pengada.”[5]

Seringkali, para filsuf melihat perkembangan sejarah sebagai suatu proses yang dialektis, yakni proses ide-ide yang saling berkonflik (conflicting ideas) yang dimulai dengan sebuah argumen dan kemudian ditanggapi dengan sebuah kritik. Heidegger menolak pendekatan seperti itu. Alih-alih memandang perkembangan sejarah secara dialektis, ia berpendapat bahawa sejarah adalah “perkembangan variatif dari satu tema” (developments of variations on a theme). Dengan kerangka ini, yang penting adalah kesatuan yang mendasari seluruh perdebatan, dan bukan perbedaan-perbedaan tema yang direfleksikan. Perbedaan tema dianggapnya sebagai sesuatu yang superfisial.

            Di dalam studinya tentang sejarah filsafat, walaupun Heidegger menjabarkan pemikiran para filsuf, terutama konsep-konsep dasar yang mereka ajukan, secara jernih dan distingtif, tetapi ia tidak pernah menjelaskan mengapa para filsuf tersebut mengajukan pemikiran mereka. Dengan kata lain, ia mau berpendapat bahwa pemikiran seorang filsuf bukanlah melulu hasil dari pengaruh kondisi dan situasi jamannya saja, tetapi juga merupakan “gerakan dan perkembangan dari Ada yang menampakkan dirinya.”[6] 

            Kecenderungan para filsuf, untuk tidak lagi melihat faktor tindakan manusia sebagai pertimbangan utama di dalam analisis sejarah, telah banyak banyak menyebar di dalam filsafat. Foucault, Derrida, Rorty, dan para pemikir filsafat sejarah lainnya, juga terpengaruh oleh Heidegger dalam hal ini. Faktor agensi, yakni subyek yang memiliki kehendak bebas dan bertindak aktif, tidak lagi menjadi pertimbangan utama di dalam menganalisis proses pergerakan sejarah. Dengan kata lain, subyektifitas tidaklah menjelaskan apapun, tetapi justru menjadi obyek yang harus dijelaskan terlebih dahulu.  

            Argumen ini sebenarnya searah dengan apa yang hendak dilakukan Heidegger sendiri, yakni menyerang filsafat subyek, di mana subyek dijadikan titik tolak sekaligus pusat refleksi. Kecenderungan semacam ini banyak ditemukan di dalam filsafat modern. Baginya, filsafat modern menjadikan subyek sebagai “tuhan”, sehingga seluruh pergerakan sejarah seolah-olah bisa diterangkan sebagai aktivitas dari subyek. Bagi Heidegger, yang menjelaskan sejarah filsafat bukanlah aktivitas dari para filsuf yang berada di dalamnya, melainkan sebaliknya, yang menjelaskan aktivitas para filsuf adalah sejarah filsafat itu sendiri. Bahkan, sang filsuf tidak selalu dapat menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam pemikiran mereka.

            Di sisi lain, Heidegger juga berbicara tentang relasi antara epistemologi dan ontologi. Para filsuf modern banyak bergulat dengan epistemologi, yakni problem di dalam filsafat pengetahuan. Akan tetapi, Heidegger melihat bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah epistemologi, tetapi ontologi. “Teori tentang pengetahuan”, demikian Heidegger, “dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu, pada hakekatnya adalah metafisika yang ditemukan di atas kebenaran dan dilihat sebagai kepastian dari representasi.”[7]

            Lebih dari itu, ia juga melihat bahwa ada keterkaitan yang bersifat utuh antara filsafat modern dengan filsafat abad pertengahan, dan juga dengan filsafat klasik Yunani Kuno. Keterkaitan itu bukanlah sesuatu yang sesuatu yang fragmentatif, melainkan sesuatu yang bersifat utuh (unity) dan berkelanjutan (continuity). Memang, filsafat modern ditandai juga dengan refleksi yang intensif terhadap problem pengetahuan manusia. Penekanan pada epistemologi ini jugalah yang membedakan filsafat modern dengan filsafat sebelumnya. Akan tetapi, menurut Heidegger, semua bentuk filsafat tersebut memiliki satu tema yang sama yang mendasarinya semuanya, yakni tema tentang Ada (Being).

            Dengan demikian, Heidegger berhasil menyempitkan seluruh sejarah filsafat di dalam satu tema tunggal, yakni tema tentang Ada. Filsafat adalah ontologi, yakni penyelidikan terhadap seluruh realitas dari sudutnya yang paling mendasar. Kecenderungan untuk menyempitkan seluruh tema ke dalam satu tema tunggal juga dapat ditemukan di dalam pemikiran banyak filsuf lainnya, bahkan juga di dalam diri seorang ilmuwan saintifik. Dalam konteks ini, cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika dan filsafat politik, yang notabene punya sejarahnya sendiri, tampak diabaikan oleh Heidegger, dan justru diserap ke dalam ontologi.

            Walaupun begitu, di balik kecenderungan untuk melihat seluruh realitas dalam satu kesatuan tema, Heidegger masih mengakui adanya perkembangan dan perubahan di dalam sejarah. Bahkan, di dalam proses pembacaannya atas tulisan-tulisan para filsuf sebelumnya, Heidegger seringkali membuat suatu penafsiran yang negatif. Walaupun, hal itu disangkalnya. Tulisan-tulisan Heidegger juga mengembangkan filsafat ke dimensi-dimensi yang sebelumnya masih asing dimasuki oleh para filsuf, yakni refleksi filsafat tentang ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Dalam hal ini, ia dipengaruhi oleh trend akademik yang berkembang pada masa itu.

Akan tetapi, tema-tema tersebut, baik tentang ilmu pengetahuan modern maupun tentang teknologi, juga direfleksikannya dalam satu kesatuan tematis, yakni di dalam filsafat, atau lebih spesifik lagi, di dalam ontologi. Jadi, seluruh realitas, termasuk yang tampaknya paling tidak filosofis, dapat dijelaskan melalui pusat dari semua ilmu, yakni melalui filsafat. Walaupun begitu, Heidegger sendiri nantinya secara eksplisit mengatakan bahwa filsafat justru mengarah pada masa keberakhirannya, dan digantikan oleh cara berpikir teknologis.

 

2. Dari Subyek Murni Menuju Kehendak Untuk Berkuasa

            Menurut Heidegger, salah satu momen terpenting di dalam sejarah filsafat modern adalah munculnya konsep subyek. Tentu saja disini, ia mengacu pada pemikiran Descartes dengan konsep aku berpikirnya, Cogito. Bagi Descartes, konsep manusia individual, atau aku, adalah konsep yang paling sentral di dalam filsafat. Konsep tersebut dapat dilihat “benih-benihnya” pada pemikiran Yunani Kuno dan abad Pertengahan, namun baru dilihat secara khusus di dalam filsafat modern.

            Dengan demikian, konsep yang menjadi perdebatan adalah konsep subyek. Konsep ini seringkali dikaitkan dengan konsep substansi (substantia), dan kata ini diambil dari bahasa Yunani hypokeimenon yang kemudian diterjemahkan Heidegger sebagai das Zugrunderliegende, atau dasar yang melatarbelakangi seluruhnya. Konsep ini sebenarnya bisa dirunut kembali ke pemikiran Aristoteles, yakni tentang substansi. Esensi dari substansi ini adalah menjadi, berarti untuk menjadi berarti adalah untuk-menjadi-substansi.

            Heidegger pun banyak memberikan perhatian terhadap konsep ini, jelas karena konsep ini merupakan fundamen dari seluruh ontologi di dalam filsafat barat, yakni suatu upaya untuk menemukan Ada (Being) dari seluruh Pengada (beings). Di dalam tulisannya yang berjudul The Origins of the Work of Art, ia menulis bahwa hilangnya fondasi metafisis di dalam filsafat barat (Die Bodenlosigkeit des abendländischen Denkens) dimulai, ketika filsafat Romawi dengan tradisi Latinnya menggantikan filsafat Yunani.[8]

            Pada awalnya, Heidegger bersikap kritis terhadap konsep sentral, yakni Ada, di dalam metafisika ini. Di dalam Being and Time, ia membedakan antara benda-benda yang ada di depan kita (Vorhandenheit) dan benda-benda yang siap digunakan (Zuhandenheit). Akan tetapi, di dalam The Origins of the Work of Art, ia kemudian berpendapat bahwa benda-benda yang siap digunakan tersebut telah mendominasi filsafat barat. Akibatnya, filsafat barat menjadikan peralatan (gear) sebagai prioritas. Dan karena peralatan berkaitan dengan tindak bekerja (Werk), maka bekerja pun kemudian dianggap sebagai modus mengada (modes of being) manusia.

            Manusia yang aktif dan berpartisipasi di dalam dunia pun menjadi pengandaian antropologis universal di dalam filsafat modern. Subyek menjadi pusat metafisis dari seluruh realitas. „Ontologi“, demikian tulis Heidegger di dalam Grundprobleme der Phänomenologie, „memandang subyek sebagai entitas yang diidealkan, dan menafsirkan konsep Ada dengan cara melihatnya sebagai modus mengada subyek, yakni dengan cara bagaimana subyek itu dijadikan problem ontologis yang utama.“[9] Dengan demikian, konsep ontologis Ada, yang menjadi fokus di dalam sejarah filsafat barat sebelumnya, kini disempitkan pada permasalahan mengenai manusia sebagai subyek di dalam filsafat modern.

            Argumen ini telah dirumuskan Heidegger di dalam Being and Time. Ia juga berpendapat bahwa Dilthey, Scheler, dan Husserl telah berupaya melampaui kecenderungan filsafat subyek semacam itu dengan menggunakan konsep alternatif lainnya, seperti konsep dunia (Leben) ataupun konsep persona (person). Akan tetapi, Heidegger berpendapat bahwa alternatif yang mereka ajukan tidaklah memadai, terutama pada Husserl, karena ia masih menggunakan konsep subyek di dalam filsafatnya. „Setiap penggunaan konsep subyek“, demikian tulis Heidegger, „sebenarnya masih mengacu secara ontologis kepada hypokeimenon, entah disadari atau tidak.“[10]

            Kritik semacam ini sebenarnya ditulisnya untuk memperkenalkan konsep Dasein sebagai alternatif dari semua konsep sebelumnya tentang manusia. Bagi Heidegger, setiap konsep manusia di dalam filsafat barat selalu masih terkena dampak dari pandangan metafisika tradisional, yakni melihat manusia sebagai suatu substansi yang utuh dan cukup diri. Pertanyaan kemudian, apakah yang sungguh-sungguh membedakan manusia dengan Pengada lainnya? Apakah karena manusia memiliki akal budi dan menggunakan bahasa? Apakah karena manusia diciptakan sesuai dengan citra Tuhan? Nah, konsep Dasein yang digunakannya mau menawarkan suatu pendekatan yang berbeda terhadap manusia dan keberadaannya.

            Akan tetapi, pendekatan Heidegger di tulisan-tulisannya kemudian tampak menunjukkan adanya tema baru yang harus direfleksikan. Memang, beberapa argumen di dalam Being and Time masih dapat ditemukan, tetapi ia tidak lagi memusatkan analisisnya pada konsepsi ontologis dari keberadaan manusia. Ia pun mengembangkan analisisnya pada realitas sebagai keseluruhan, terutama hubungan antara manusia dengan Pengada-pengada lainnya. Di dalam tulisannya yang berjudul Die Frage nach dem Ding, Heidegger mendeskripsikan apa yang ia sebut sebagai „perubahan yang menggetarkan“ (grundstürzeder Wandel). „Sebelum Descartes“, demikian tulis Heidegger, „segala sesuatu ada disana dihitung sebagai sebagai subyek, tetapi sekarang „Aku“ menjadi subyek yang istimewa dalam relasinya dengan hal-hal lainnya.“[11]

            Ada dua poin yang kiranya bisa ditafsirkan dari pernyataan itu. Yang pertama adalah bahwa subyek dipandang sebagai substansi universal. Konsep subyek pun digunakan untuk merefleksikan hakekat manusia secara ontologis. Yang kedua adalah bahwa „Aku“ menjadi subyek yang diprioritaskan, dan segala sesuatu di luar „Aku“ dianggap tidak signifikan, karena sepenuhnya ditentukan oleh „Aku“. Semua benda pada akhirnya dilihat dalam relasinya dengan subyek. „Benda-benda lain“, demikian tulis Heidegger kemudian, „dilihat secara esensial dari sudut pandang dan relasinya dengan subyek berhadapan dengan obyek.“[12] Dalam konteks ini, Heidegger mengklaim bahwa konsep obyek dan subyek di dalam filsafat haruslah diubah. Awalnya, subyek adalah sesuatu yang sungguh-sungguh real dan diprioritaskan, dan obyek adalah sesuatu yang pada hakekatnya hanyalah imajinasi dari subyek. Kini, yang obyektif adalah yang real dan sungguh-sungguh ada. Sedangkan, subyek hanyalah imajinasi.

            Sekilas, tampak tidak ada yang baru dari tesis Heidegger tersebut. Di dalam mengajukan tesis ini, ia menulis dengan bahasa yang tajam dan lugas, terutama karena menimbang ironi yang ada di dalamnya. Di balik semua bentuk kritik terhadap cara pandang yang berpusat pada subyek dan kemudian memberikan prioritas pada obyek, ada pengandaian yang justru memiliki karakter kualitatif yang bersifat sebaliknya. Artinya, dari luar tampak sebagai kritik terhadap filsafat subyek, tetapi diam-diam sebenarnya masih mengandung paradigma filsafat subyek yang hendak dikritiknya. Di dalam sains modern, di mana prioritas terhadap dunia obyektif menjadi sangat besar, justru yang menjadi prioritas utama dan sebenarnya adalah subyek „Aku“. Yang obyektif pun dipandang sebagai sesuatu yang sekunder. Dengan kata lain, walaupun hampir seluruh filsafat kotemporer mengumandangkan kritik tajam terhadap filsafat subyek yang menjadi ciri dari filsafat modern, tetapi cara pandang ontologis yang melihat subyek sebagai prioritas lebih dari obyek tidaklah hilang, dan justru malah terpelihara.[13]       Nah, seluruh filsafat Heidegger sebenarnya adalah sebuah cerita tentang bagaimana ironi ini bisa terjadi dan kemudian bertahan. „Di dalam filsafat Cartesian“, demikian tulisnya, „apa yang dianggap yang lain selalu dianggap begitu dari sudut pandang subyek.“[14] Dengan demikian, yang lain selalu dipandang sebagai yang lain dengan mengacu dari sudut pandang subyek. Nah, menurut Heidegger, seluruh filsafat modern adalah suatu upaya untuk melampaui yang lain (the other), dan kemudian mereduksikannya menjadi yang sama (the same).

Dalam konteks epistemologi, relasi antara subyek dan obyek adalah relasi pengetahuan. Akan tetapi, problem filosofis di dalam epistemologi justru muncul, karena adanya pengandaian naif bahwa subyek dianggap sebagai yang mengetahui, sementara obyek adalah sesuatu yang diketahui. Pengandaian ini bersifat metafisis, dan seringkali diandaikan begitu saja tanpa dipertimbangkan lebih jauh. Dalam arti inilah ontologi, menurut Heidegger, harus diprioritaskan daripada epistemologi.

Proses penafsiran Ada dari semua pengada sebagai subyek dalam dikotominya dengan obyek merupakan cara pandang yang digunakan di dalam filsafat modern. Memang, menurut Heidegger, setiap jaman memiliki caranya sendiri di dalam memahami Ada. Akan tetapi, ia tidak pernah menjelaskan secara eksplisit proses dan alasan perubahan dari cara pandang yang satu ke cara pandang yang lain. Dalam arti ini, pertanyaan “mengapa” tampak lolos dari refleksinya.

Cara pandang modern, yang melihat Ada sebagai relasi antara subyek dan obyek dengan prioritas terhadap subyek ini, memberikan pengertian khusus, tentang apa yang sesungguhnya yang dimaksud dengan mengetahui. Konsep Descartes, yakni Cogito, atau aku berpikir, sungguh menjadi prinsip utama dari rasionalitas. Rasio manusia pun disempitkan melulu ke dalam konsepsi matematis yang diproduksi oleh subyek, dan tidak menjadi bagian obyektif dari alam. Rasionalitas menjadi melulu masalah metode atau prosedur yang dirumuskan oleh subyek. Heidegger pun berpendapat bahwa upaya Descartes untuk sampai pada pengetahuan yang sepenuhnya pasti adalah suatu perjalanan untuk sampai pada „rasa nyaman“ dan kepastian akan obyek yang bersifat permanen.

Oleh karena itu, konsep cogito Descartes sebenarnya adalah suatu bentuk kesadaran diri. Setiap bentuk kesadaran yang dimiliki manusia (human consciousness), menurutnya, adalah suatu bentuk kesadaran diri (self-consciousness). Untuk menghadirkan sesuatu berarti juga sekaligus menghadirkan sesuatu bagi subyek tertentu. Di dalam kuliah-kuliahnya tentang Nietzsche, Heidegger banyak berbicara tentang hakekat dan arti penting kesadaran diri di dalam filsafat modern. Ia pun mengartikan kesadaran diri sebagai bagian dari metafisikanya. “Aku” menjadi pusat dan subyek dari semua bentuk pengetahuan. Sekaligus, “aku” adalah obyek pengetahuan yang hanya ada sejauh obyek itu ada bagi subyek.[15]

Di sisi lain, Heidegger berpendapat bahwa tujuan mendasar dari pengetahuan di dalam filasfat modern adalah untuk memungkinkan pengada-pengada tampak bagi representasi akal budi manusia. Untuk mengetahui sesuatu, menurutnya, berarti mampu menjelaskannya secara detil dan kemudian memprediksinya di masa depan. Oleh karena itu, untuk mengetahui (to know) berarti sama dengan untuk menghitung (to calculate). Dengan demikian, kebenaran adalah kepastian pengetahuan manusia yang bersifat matematis.

Pengetahuan pun dipandang sebagai suatu intervensi aktif manusia terhadap dunia, dan suatu kemampuan untuk melampaui Ada. Di titik ini, obyek disempitkan pada suatu yang dianggap obyektif. Obyek juga disamakan dengan segala sesuatu yang bisa direduksikan ke dalam pengetahuan kalkulatif. Dunia menjadi suatu gambaran yang hampir sepenuhnya mekanis. Kemampuan aktif manusia di dalam mengetahui dunianya inilah yang mengubah fokus refleksi Heidegger dari filsafat Descartes ke filsafat Leibniz.

Di dalam pemikiran Leibniz, Heidegger melihat adanya suatu upaya filosofis untuk menyatukan representasi sebagai bentuk pengetahuan dan kehendak (atau nafsu). Penyatuan itu kemudian memuncak di dalam pemikiran Schopenhauer dan Nietzsche. Menurut mereka, yang muncul dari dalam diri subyek tidak hanya rasionalitas dan penalaran kalkulatif ala Cartesian, tetapi juga nafsu dan kehendak. Pada akhirnya, rasio dan nafsu manusia pun menjadi satu kesatuan yang sama.[16]

Argumentasi ini sangatlah sentral di dalam pembacaan Heidegger atas sejarah filsafat modern. “Di dalam filsafat modern dan metafisika”, demikian tulis Heidegger, “konsep subyektifitas mengekspresikan esensi yang penuh dari Ada, hanya jika kita tidak memikirkan karakter representasional dari Ada, tetapi ketika nafsu dan karakter dasar dari Ada menjadi terkuak serta menjadi jelas. Ada, sejak awal mula metafisika modern, adalah kehendak.“[17] Di dalam filsafat modern, kehendak itu mencangkup „kehendak untuk mencapai rasio, kehendak dari roh… kehendak atas cinta dan kehendak untuk berkuasa.“[18]

Pada akhirnya, filsafat Leibniz memberikan tempat yang sentral bagi konsep subyek, yakni konsep monad. Semua benda adalah subyek, menjadi sesuatu adalah menjadi-monad, atau menjadi-subyek. Subyek ini persis sama dengan subyek di dalam filsafat modern, yakni subyek Cartesian. Nah, bagi Heidegger, kecenderungan filsafat modern untuk menjadikan subyek sebagai pusat realitas dapat dilihat paling jelas di dalam filsafat Hegel, terutama di dalam karyanya yang berjudul Phenomenology of Spirit.

Di dalam dialektika Hegel, subyek mentransendensi dirinya sendiri dan memandang obyek sebagai “yang lain”. Akan tetapi, yang lain itu pun akan dilampaui, sehingga subyek akhirnya akan kembali ke dirinya sendiri dengan membawa obyek bersamanya. Subyektifitas di dalam filsafat Descartes diradikalkan oleh Hegel. Pola dari dialektika subyek semacam ini dapat juga dipandang sebagai deskripsi proses pembentukan pengetahuan manusia, dan sebagai karakter dominasi teknologis yang kemudian mencemarkan alam di dalam dunia modern. Dua hal itu juga dapat dijelaskan dengan konsep kehendak untuk berkuasa (the will to power) yang dirumuskan oleh Nietzsche.[19]  

 

3. Kesimpulan Sementara

            Marilah kita simpulkan beberapa hal penting, sebelum maju lebih jauh. Heidegger, terutama di dalam tulisan-tulisan akhirnya, berpendapat bahwa semua filsafat pada dasarnya adalah ontologi, yakni filsafat yang hendak memikirkan tentang Ada sebagai keseluruhan realitas.[20] Di dalam filsafat Yunani kuno dan filsafat abad pertengahan, filsafat semacam ini ditandai dengan refleksi atas konsep substansi sebagai hypokeimenon, atau subjectum. Dengan kata lain, substansi dipandang sebagai fondasi yang memberikan kerangka bagi seluruh realitas. Substansi adalah realitas primer. Segala sesuatu berada „di dalam“ substansi, sehingga segala sesuatu hanyalah sekunder, jika dibandingkan dengan substansi tersebut.

            Nah, filsafat modern adalah suatu bentuk variasi dari tema ini, tentunya dengan beberapa perubahan yang kecil, namun signifikan. Dengan filsafat Descartes, manusia diandaikan sebagai mahluk yang sadar diri, yakni sebagai substansi dan memiliki peran yang primer. Seluruh metafisika, yang berarti juga seluruh filsafat, menurut Heidegger, ditandai dengan pencarian hypokeimenon. Akan tetapi, di dalam filsafat modern, pencarian ini digantikan dengan pencarian subyektifitas.[21] Subyek adalah entitas primer. Segala sesuatu berada dan tergantung dari subyek. Subyek mendapatkan status sebagai obyek pada dirinya sendiri. Subyektifitas semacam ini, terutama di dalam filsafat Leibniz, Hegel, dan Nietzsche, dipandang sebagai suatu aktivitas, baik aktivitas akal budi maupun kehendak, yang mereduksikan obyek menjadi obyek kalkulasi. Segala sesuatu pun dipandang sebagai produk dari subyektifitas manusia.[22]

            Konsep subyektifitas ini dapat dilihat mulai dari tulisan-tulisan Descartes di dalam Discours, sampai metode dialektika yang dirumuskan oleh Hegel. Konsep ini juga dapat dirunut jauh ke dalam metode-metode saintifik, penelitian eksperimental, dan prosedur teknis di dalam sains. Bahkan, menurut Heidegger, titik puncak dari seluruh filsafat modern adalah perkembangan dan suksesnya penerapan teknologi. „Akhir dari filsafat“, demikian tulisnya, „tampak dari kemenangan tatanan yang dapat dimanipulasi yakni dunia yang saintifik-teknis.“[23] Sejauh ini, saya memang belum menyebut dua filsuf yang dipandang Heidegger sebagai filsuf-filsuf terpenting di dalam perkembangan filsafat modern, yakni Kant dan Husserl. Carr, di dalam tulisannya tentang Heidegger, juga memberikan pendapat sama. Bab berikutnya mau melihat pembacaan Heidegger atas tulisan kedua filsuf tersebut.

 

4. Kant dan Husserl

            Di dalam Being and Time, Heidegger sebenarnya sudah menyatakan bahwa ia akan memberikan perhatian besar terhadap filsafat Kant. Hal itu pun kemudian terwujud  di dalam bukunya yang kemudian terbit, yakni Kant und Das Problem Der Metaphysik. Di dalam Being and Time sendiri, Heidegger juga sudah banyak mengacu pada filsafat Kant. Begitu pula di dalam Die Gesamtausgabe dari kuliah-kuliah Heidegger, terutama di dalam Grundprobleme der Phänomenologie di 1927, ia banyak sekali menulis tentang Kant.[24]

            Pandangan Heidegger tentang Kant di dalam tulisan-tulisan ini mendua, yakni sekaligus negatif dan sekaligus positif. Heidegger melihat bahwa Kant hampir saja menemukan konsep Dasein dan karakter temporalistiknya di dalam paruh pertama buku Kritik atas Rasio Murni. Akan tetapi, ia akhirnya „mundur“,[25] dan kembali menggunakan kerangka berpikir filsafat modern, sesuai dengan jaman di mana ia hidup.

            Heidegger lebih jauh berpendapat, bahwa pemikiran Kant pada paruh pertama buku Kritik atas Rasio Murni adalah suatu metafisika, dan bukan epistemologi. [26] Heidegger juga mengambil beberapa kutipan langsung dari buku tersebut, yakni „Apa itu manusia?“[27]. Di titik ini, ia melihat bahwa Kant sudah sampai di ambang pintu penemuan konsep Dasein. Akan tetapi, pengaruh filsafat modern, bahwa manusia adalah subyek penahu (knowing subject), masihlah melekat di dalam filsafat Kant, sehingga ia tidak menemukan konsep Dasein.

            Argumen Heidegger adalah, bahwa Kant masihlah „terpeleset…. kembali kepada ontologi yang tidak memadai yang sama tentang substansi yang fondasi ontisnya adalah „aku“…“[28] Dengan menafsirkan konsep „I“ sebagai fondasi utama bagi proses pengetahuan manusia, Kant menganggap bahwa „I“ itulah yang menjadi substansi, atau hypokeimenon.[29] Ia menafsirkan „I“ sebagai dasar yang tetap yang menjadi fondasi dari segala perubahan. Pada akhirnya, pandangan Kant tentang subyek sangatlah mirip dengan pandangan Descartes, yakni subyek sebagai cogito, aku berpikir, atau sesuatu yang berpikir.[30] Bagi Kant, subyek, atau „I“, adalah sesuatu yang tidak berada di dalam waktu (timeless), dan permanen.[31]

            Dengan demikian, Heidegger menempatkan filsafat Kant sama seperti seluruh filsafat modern lainnya yang menjadi obyek kritiknya. Para filsuf modern, termasuk Kant, telah menafsirkan manusia dengan konsep-konsep metafisis tertentu. Dan dengan begitu, mereka telah mereduksi kompleksitas hakekat manusia. Oleh karena itu, walaupun banyak sekali inspirasi filosofis yang dapat ditimba dari pemikiran Kant, tetapi bagi Heidegger, Kant tetap saja merupakan perantara dari Descartes menuju Hegel. „Karena Kant adalah orang pertama yang membuat eksplisit pernyataan yang telah ada di dalam Descartes dan Leibniz,“ demikian tulis Heidegger, „yakni I sebagai subjectum- di dalam filsafat Yunani disebut sebagai hypokeimenon- Hegel dapat berkata kemudian: substansi yang sesungguhnya adalah subyek, atau arti sesungguhnya dari substansialitas adalah subyektifitas.“[32] Kesimpulannya, ia berpendapat bahwa Kant telah memberikan kontribusi besar bagi kesalahpahaman dalam memahami eksistensi manusia. Kesalahpahaman inilah yang nantinya, menurut Heidegger, akan diubah menjadi kebenaran di dalam filsafatnya.

            Setelah Being and Time dan Kant and the Problem of Metaphysics, pembacaan Heidegger atas filsafat Kant berjalan paralel dengan pembacaannya terhadap para filsuf modern lainnya. Artinya, Kant hanya dipandang sebagai salah satu filsuf saja di dalam filsafat modern, dan tidak lagi memiliki tempat istimewa. Semua upaya Heidegger untuk menemukan basis metafisika bagi filsafatnya di dalam pemikiran Kant otomatis terhenti. Kant dipandang sejajar dengan Descartes dan para filsuf modern lainnnya sebagai “wakil dari metafisika modern” yang hendak dipelajari Heidegger, dan kemudian dilampauinya. Ia pun spesifik menjadikan filsafat modern Barat sebagai perhatian utamanya.

            Dalam arti tertentu, kita dapat berkata bahwa yang menjadi perhatian Heidegger sekarang ini hanyalah sisi negatif dari filsafat Kant. Selain telah salah memahami manusia, bagi Heidegger, Kant juga telah berpartisipasi secara aktif membentuk apa yang disebut sebagai filsafat subyek. “Filsafat transendental Kant,” demikian tulis Heidegger, “sebenarnya adalah bentuk modern dari metafisika.”[33] Salah satu kritiknya atas Kant adalah, bahwa Kant telah mengabsolutkan substansi manusia. Dalam skema Heidegger, Kant telah memandang manusia, yang merupakan salah satu pengada, sebagai Ada. Akan tetapi, dengan konsepnya yang disebut „original synthetic unity of transcendental apperception“, Kant dianggap telah menjelaskan konsep kesadaran diri secara memadai, lebih memadai daripada apa yang sebelumnya dijabarkan oleh Descartes.

            Arti penting filsafat Kant juga terletak pada argumennya yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah suatu proses aktif dari manusia, dan pengetahuan akan obyek adalah produksi dari pikiran manusia. Akan tetapi, Heidegger juga mengingatkan kita bahwa ia tidak memaksudkan bahwa obyek adalah produk dari proses-proses psikologis manusia. Ia juga melihat bahwa Kant telah merumuskan fakultas-fakultas (faculty of rules) apriori akal budi yang kemudian berkembang di dalam sains modern menjadi prosedur ataupun metode untuk sampai pada pengetahuan. Penemuan fakultas apriori ini merupakan langkah penting yang nantinya akan sampai pada konsep subyek Nietzsche yang melihat subyektifitas sebagai kehendak untuk berkuasa (will to power).[34]           

            Di sisi lain, pembacaan Heidegger terhadap filsafat Husserl jugalah sangat menarik, sekaligus sangat rumit. „Relasi antara Heidegger dan Husserl“, demikian tulis Carr, „sudah selalu kompleks.“[35] Karya magnum opus Heidegger, Being and Time, membahas filsafat Husserl dengan cara yang hampir sepenuhnya positif. „Bahkan sampai sekarang“, demikian Heidegger, „saya masih menganggap diri saya sebagai seorang murid dari Husserl“.[36] Di dalam kuliah-kuliahnya, ia memberikan banyak argumen untuk mempertahankan filsafat Husserl dari kritik yang diajukan oleh para filsuf neo-Kantian.[37] Heidegger melihat bahwa konsepsi Husserl tentang intensionalitas merupakan konsep yang sangat sentral di dalam fenomenologi.[38] Heidegger pun berpendapat bahwa konsep intuisi kategoris (categorial intuition) di dalam Logical Investigations, yakni bahwa Ada dapatlah dialami dan dapat menjadi fenomena pengetahuan manusia, jugalah sangat penting.[39]  

            Baginya, konsep intuisi kategoris berhasil menghubungkan fenomenologi dengan ontologi. Akan tetapi, Husserl tampaknya tidak memandang penting hubungan ini. Ia juga tampak mengabaikan pertanyaan tentang Ada.[40] Kritik Heidegger terhadap transcendental unity of apperception Kant juga dapat diterapkan untuk mengkritik ego transendental Husserl. Secara umum, Heidegger berpendapat bahwa pembalikan transendental yang dilakukan oleh Husserl, terutama setelah Logical Investigations, merupakan salah satu tanda menjauhnya Husserl dari ide dasar fenomenologi.

            Ketika Heidegger mulai melakukan pembacan ulang terhadap seluruh sejarah filsafat, Husserl, bersama dengan para filsuf sejamannya, seperti Jaspers, Scheler, dan Dilthey, praktis tidak lagi disebutkan. Tampaknya, Heidegger ingin menjaga jarak dari pengaruh para filsuf yang hidup sejaman dengan dia. Mereka pun tidak dianggap sebagai bagian dari sejarah filsafat yang hendak dianalisis oleh Heidegger. Sejarah filsafat, baginya, tampak berakhir dengan Nietzsche.

            Akan tetapi, sangat menarik melihat bahwa di dalam tulisan-tulisan akhirnya, Heidegger justru kembali menganalisis kembali filsafat Husserl. Bahkan, Husserl diberikan tempat terhormat, sejajar dengan Hegel, sebagai wakil dari seluruh filsafat modern, atau dalam bahasa Heidegger, metafisika modern. Walaupun, ia sendiri berpendapat bahwa Husserl merupakan filsuf terakhir sekaligus penanda akhirnya cara berpikir metafisika modern. Pertanyaan yang menggantung kemudian di dalam tulisan-tulisan Heidegger adalah, „apa yang bisa dilakukan oleh tindak berpikir manusia setelah filsafat telah berakhir?“[41]

            Memang, ada perbedaan mendasar antara filsafat Hegel dan filsafat Husserl. Akan tetapi, menurut Heidegger, Hegel dan Husserl merumuskan suatu filsafat yang menghubungkan subyektifitas (subjectivity) di satu sisi dan metode (method) di sisi lain. Mereka berdua pun dianggap sebagai wakil dari gambaran menyeluruh filsafat modern yang dirumuskan oleh Heidegger. „Subyektifitas dari kesadaran“, demikian tulisnya, „adalah apa yang mereka berdua kejar, dan mereka berdua hendak merumuskan prosedur untuk menemukan subyektifitas itu.“[42] Ia juga menulis tentang konsep inti filsafat Husserl, yakni ego transendental, yang merupakan hasil derivasi dari reduksi transendentalnya. Dengan konsep ini, Husserl hendak merumuskan fondasi „obyektifitas bagi semua obyek“ dengan melalui subyektifitas. Subyektifitas transendenal mengungkapkan dirinya sebagai „entitas absolut murni“.[43]

            Ia juga menulis tentang metode. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis yang menunda semua asumsi dari subyek, maka obyek akan menampakan dirinya kepada subyek sejernih mungkin. Metode ini disebut juga sebagai reduksi, karena berusaha mereduksikan dunia sampai pada status representasi (representation).[44] Di dalam proses pengetahuan, subyek transendental itu sampai pada kepenuhannya.

Filsafat Husserl juga menjadi salah satu tema diskusi intensif pada Seminar Zähringen 1973, tiga tahun sebelum Heidegger meninggal. Di dalam kuliah-kuliahnya, terutama pada 1927, Heidegger juga menjabarkan konsep intuisi kategoris Husserl dengan cara yang sangat positif. Konsep inilah yang nantinya juga mempengaruhi cara Heidegger merumuskan konsep Ada di dalam filsafatnya. Ia melihat bahwa Huserl memberikan sumbangan sangat besar, terutama dalam melampaui filsafat Kant dan Neo Kantian. Ia juga melihat bahwa Husserl memberikan peluang bagi kita untuk mengetahui Ada pada dirinya sendiri, dan bukan hanya sebagai bagian dari forma-forma apriori pengetahuan manusia.

Akan tetapi, Husserl tampaknya tidak melanjutkan ke langkah berikutnya untuk mengajukan pertanyaan tentang hakekat dari Ada. Ia mengandaikan bahwa Ada itu adalah Ada-untuk-menjadi-obyek.[45] Dan obyek pun diartikan sebagai obyek bagi kesadaran manusia. Di dalam karya-karya awal Heidegger, kesadaran bukan lagi fokus refleksi, tetapi Dasein-lah yang menjadi fokus. Ia kemudian menuliskan relasi antara Dasein dan kesadaran, dan menjelaskan kenapa ia mengganti fokus refleksinya.   

Kesadaran, bagi Heidegger, selalu terkait dengan imanensi. Untuk menjadi sadar akan sesuatu berarti untuk menyadarinya di dalam kesadaranku. Bagi Heidegger, jika kita mengkaitkan begitu saja konsep intensionalitas dengan kesadaran, seperti yang dilakukan oleh Husserl, maka kita sebenarnya tidak berbuat apa-apa. „Di samping intensionalitas“, demikian Heidegger, „Husserl tetaplah terikat di dalam imanensi.“[46] Di sisi lain, di dalam Being and Time, Heidegger justru menolak penyamaan obyek dengan kesadaran, karena obyek memiliki status ontologisnya sendiri di dalam dunia empiris.

Baginya, kita tidak mungkin bisa melepaskan diri dari dunia imanen, jika kita masih menggunakan paradigma cogito di dalam filsafat modern. Cogito itu bagaikan ruang tertutup tanpa ada jendela untuk berhubungan dengan dunia di luar dirinya. Kontras dengan itu, Dasein, atau manusia, menurut Heidegger, selalu sudah mengacu pada dunia di luar dirinya. „Kita“, demikian tulisnya, „berhadapan dengan dunia secara langsung, dan bukan hanya representasi dari dunia itu.“[47]

Dengan demikian, ia berpendapat bahwa Husserl telah bersifat konformis terhadap tradisi. Artinya, Husserl masih berada di dalam tradisi metafisika modern yang hendak dikritik oleh Heidegger. Memang, Husserl tampak berusaha untuk sampai pada Ada dari semua Pengada. Tetapi, ia tetap tidak berhasil. Ada dianggap masih menjadi bagian dari representasi kesadaran subyek. Akibatnya, ego transendental yang dirumuskan Husserl tampak hanya merupakan versi terakhir dari hypokeimenon yang ada di dalam filsafat Yunani Kuno.[48]

 

5. Kesimpulan

            Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Heidegger membaca sejarah filsafat sebagai suatu perkembangan ide yang memiliki dasar kesatuan yang sama. Semua filsafat adalah suatu cara untuk menemukan Ada (Being) di antara semua Pengada (beings). Sejak Yunani Kuno, Ada telah ditafsirkan sebagai subyek, yakni dalam arti sebagai substansi atau hypokeimenon. Perkembangan pemahaman akan Ada pun berlanjut. Di dalam filsafat modern, substansi di dalam Filsafat Yunani Kuno pun dipahami sebagai subyek penahu (knower). Obyek pun dipahami juga sebagai obyek-bagi-subyek. Maka, yang menjadi prioritas adalah subyek. Pengetahuan juga dipahami sebagai kontrol dan dominasi atas dunia. Dan seperti yang dipahami oleh Nietzsche, relasi manusia dengan Ada pun dipahami sebagai relasi yang dilumuri nafsu dan kehendak untuk berkuasa.

            Heidegger juga berpendapat bahwa filsafat transendental, yang diwakili oleh filsafat Kant dan Husserl, juga sebenarnya masih berada di dalam tradisi berpikir filsafat modern. Dengan kata lain, filsafat transendental sebenarnya hanyalah salah satu bentuk dari metafisika modern yang sangat menekankan peran subyek penahu. Ia pun berpendapat walaupun filsafat modern kental dengan refleksi epistemologi, termasuk juga filsafat transendental, tetapi sebenarnya apa yang dilakukan oleh para filsuf modern tersebut adalah metafisika, yakni sebuah upaya untuk menemukan Ada di antara semua pengada.  

            Semua bentuk metafisika modern, atau filsafat modern, menurut Heidegger, sebenarnya adalah suatu bentuk variatif saja dari idealisme, yakni cara berpikir yang melihat realitas sepenuhnya bergantung pada subyek. Dengan kata lain, realitas di luar diri sebenarnya hanyalah bagian dari kesadaran subyek. Subyek penahu ini mengambil peran sebagai substansi. Segala sesuatu pun direduksi ke dalam kualitas-kualitas subyek, baik sebagai bagian dari kesadaran ataupun imanensi dari subyek. Di dalam filsafat transendental, realitas juga dipandang sebagai konstruksi dan produk dari aktivitas subyektif manusia. Di dalam sains modern, alam adalah entitas yang dipandang sejauh entitas itu bisa dimanipulasi, dikalkulasi, diprediksi, dan dikontrol. Semua perdebatan di dalam filsafat modern, seperti perdebatan antara idealisme dan realisme, antara skeptisisme dan para filsuf epistemologi, bagi Heidegger, tampak hanya merupakan obrolan tanpa makna, atau Gerede.

            Di dalam tulisannya, Carr mengkritik penyamaan yang dilakukan Heidegger terhadap filsafat transendental. Bagi Carr, filsafat transendental bukanlah sebuah metafisika ataupun epistemologi tentang subyek. Filsafat transendental bukanlah suatu bentuk filsafat substantif, atau hypokeimenon. Filsafat transendental, yang dirumuskan Kant dan Husserl, sebenarnya hendak merumuskan suatu pertanyaan baru, dan bukan merumuskan jawaban baru atas pertanyaan lama. Di dalam proses perkembangannya, filsafat transendental membuka pertanyaan yang belum pernah diajukan sebelumnya. Jelas, menurut Carr, Heidegger telah salah memahami para filsuf transendental. Akan tetapi, penafsiran Heidegger atas filsafat transendental, walaupun diwarnai kesalahpahaman, tetap saja memiliki pengaruh yang sangat besar. Kesalahpahaman yang tampaknya diteruskan di dalam penafsiran atas pemikiran Kant dan Husserl di abad ke-20.[49]

 

Daftar Acuan

Carr, David, The Paradox of Subjectivity, Oxford, Oxford University Press, 1999

Heidegger, Martin,  Die Frage nach dem Ding, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1962

———————–, “Der Unrsprung der Kunstwerks”, dalam Holzwege, Frankfurt am Main: Vittorio Klostermann, 1957

————————, Grundprobleme der Phänomenologie, Frankfurt am Main, Vittorio Klostermann, 1975

———————–, Sein und Zeit, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1957

———————–, Nietzsche, Zweiter Band, Pfullingen, Neske, 1989

——————–, “Das Ender der Philosophie und die Aufgabe des Denkens”, dalam Zur Sache des Denkens, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1969

———————-, Kant und Das Problem Der Metaphysik, Frankfurt am Main, Vittorio Klostermann, 1951,

———————-, Prolegomena zur Geschichte des Zeitbegriffs, Frankfrut am Main, Vittorio Klostermann, 1979

———————–, “Seminar in Zähringen 1973”, dalam Vier Seminare, Frankfurt am Main, Vittorio Klostermann, 1977

Schimanski, Stefan, Heidegger, Existence and Being, London, Vision Press, 1956

 

 

           

           

 

 

 

           

           




[1] Lihat, Paul-Heinz Koesters, Deutschland deine Denker, Hamburg, Gruner und Jahr, hal. 250.

[2] Stefan Schimanski, Heidegger, Existence and Being, London, Vision Press, 1956, hal. 9.

[3] Lihat, David Carr, The Paradox of Subjectivity, Oxford, Oxford University Press, 1999, hal. 11. Seluruh teks Heidegger yang saya gunakan mengacu pada tulisan Carr ini.

[4] Ibid, hal. 12.

[5] Ibid, hal. 13.

[6] Martin Heidegger, Die Frage nach dem Ding, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1962, hal. 77.

[7] Heidegger, “Űberwindung der Metaphysik”, dalam Vorträge und Aufsätz, hal. 75, seperti dikutip Carr, 1999, hal. 14.

[8] Lihat, Heidegger, “Der Unrsprung der Kunstwerks”, dalam Holzwege, Frankfurt am Main: Vittorio Klostermann, 1957, hal. 13.

[9] Heidegger, Grundprobleme der Phänomenologie, Frankfurt am Main, Vittorio Klostermann, 1975, hal. 174.

[10] Heidegger, Sein und Zeit, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1957, hal. 46.

[11] Heidegger, 1962, hal. 81.

[12] Ibid, hal. 82.

[13] Lihat, Carr, 1999, hal. 18.

[14] Heidegger, “Űberwindung der Metaphysik”, hal. 74.

[15] Lihat, Carr, 1999, hal. 19.

[16] Lihat, ibid, hal. 21.

[17] Heidegger, Nietzsche, Zweiter Band, Pfullingen, Neske, 1989, hal. 452.

[18] Ibid.

[19] Lihat, Carr, 1999, hal. 22.

[20] Lihat, Heidegger, “Das Ender der Philosophie und die Aufgabe des Denkens”, dalam Zur Sache des Denkens, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1969, hal. 61.

[21] Lihat, Heidegger, 1989, hal. 450ff.

[22] Lihat, Carr, 1999, hal. 23.

[23] Heidegger, 1962, hal. 65.

[24] Lihat, Carr, 1999, hal. 23.

[25] Heidegger, 1957, hal. 23.

[26] Lihat, Heidegger, Kant und Das Problem Der Metaphysik, Frankfurt am Main, Vittorio Klostermann, 1951, hal. 13f.

[27] Lihat, ibid, hal. 187.

[28] Heidegger, 1957, hal. 319.

[29] Lihat, ibid.

[30] Lihat, Heidegger, 1975, hal. 177.

[31] Lihat, Heidegger, 1951, hal. 174f.

[32] Heidegger, 1975, hal. 178f.

[33] Heidegger, “Űberwindung der Metaphysik”, hal. 74.

[34] Lihat, Carr, 1999, hal. 26.

[35] Ibid.

[36] Heidegger, Prolegomena zur Geschichte des Zeitbegriffs, Frankfrut am Main, Vittorio Klostermann, 1979, hal. 168.

[37] Lihat, ibid, hal. 41ff.

[38] Lihat, ibid, hal 46ff.

[39] Lihat, ibid, hal. 63ff.

[40] Lihat, ibid, hal. 148.

[41] Heidegger, 1969, hal. 66.

[42] Ibid, hal. 69.

[43] Ibid, hal. 70.

[44] Lihat, Carr, 1999, hal. 28.

[45] Lihat, Heidegger, “Seminar in Zähringen 1973”, dalam Vier Seminare, Frankfurt am Main, Vittorio Klostermann, 1977, hal. 378.

[46] Ibid, hal. 382.

[47] Ibid, hal. 384.

[48] Lihat, Carr, 1999, hal. 30.

[49] Lihat, ibid, hal. 31. Saya tidak akan membahas kesalahpahaman ini, karena tulisan ini akan menjadi tidak fokus. Cukuplah dikatakan, bahwa banyak ahli Kant di abad ke-2o berpendapat bahwa penafsiran Heidegger atas filsafat Kant tidaklah tepat.

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.