<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Knowledge is Power Brother!!!</title>
	<atom:link href="http://rezaantonius.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rezaantonius.wordpress.com</link>
	<description>Thinking is working.... just Try to see the world from my point of view</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Sep 2009 04:48:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rezaantonius.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ab6f0911b2e3553f423b585997256cee?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Knowledge is Power Brother!!!</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Hermeneutika Hans-Georg Gadamer</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/hermeneutika-hans-georg-gadamer/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/hermeneutika-hans-georg-gadamer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 04:48:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[





e








Hermeneutika 
Hans-Georg Gadamer
Reza A.A Wattimena
 
 Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya, di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya, teori kritis memiliki satu pengandaian dasar, bahwa rasionalitas universal manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=200&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="color:#888888;font-weight:bold;font-size:18px;background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;position:relative;width:auto;background-position:initial initial;border-color:initial;border-style:none none solid;border-width:1px;">
<table style="font-size:12px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:3px 3px 3px 5px;" width="24"></td>
<td style="font-size:20px;padding:3px;"></td>
<td style="font-size:11px;font-weight:normal;line-height:11px;text-align:right;color:#999999;padding:0 5px 8px 0;">e</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div>
<div style="background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;position:relative;clear:both;width:auto;background-position:initial initial;border:1px none #999999;margin:0;padding:0 0 10px;">
<div id="item_body"><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"><strong><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:justify;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://www.phillwebb.net/history/TwentiethCentury/Continental/Phenomenology/Gadamer/Gadamer.jpg" border="0" alt="" /></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Hermeneutika </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Hans-Georg Gadamer</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="line-height:54px;"><strong><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Reza A.A Wattimena</span></span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab sebelumnya kita sudah melihat inti dasar dari teori kritis yang menjadi salah satu pisau analisis sosial paling tajam di abad kedua puluh. Dan juga seperti sudah disebutkan sebelumnya, di samping beragam bentuk pemikiran yang ada di dalamnya, teori kritis memiliki satu pengandaian dasar, bahwa rasionalitas universal manusia mampu melakukan kritik atas kapitalisme, dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu sosial yang membuat manusia tidak mampu mengembangkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin. Pada bab ini saya ingin memperkenalkan sebuah metode yang sangat berkembang pada awal dan pertengahan abad kedua puluh, yakni hermeneutika, terutama hermeneutika yang dirumuskan oleh Hans Georg Gadamer.</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah retorika dan filsafat praktis (etika). Di dalam sejarahnya retorika dan hermeneutika memang selalu terkait. Retorika adalah seni untuk memaparkan pengetahuan. Sementara hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. Teks ini memang dalam bentuk tulisan. Akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas, yakni realitas itu sendiri. Dalam arti ini juga dapat dikatakan, bahwa hermeneutika dan retorika saling membutuhkan satu sama lain. Retorika mengandaikan orang memahami teks. Sementara pemahaman tidak boleh berhenti di dalam diri seseorang saja, melainkan juga dapat disampaikan dengan jernih kepada orang lain. Gadamer sendiri berulang kali menegaskan, bahwa hermeneutika dan retorika lebih merupakan seni, dan bukan ilmu pengetahuan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di dalam beberapa tulisannya, termasuk </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Truth and Method</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, yang merupakan karya terbesarnya, Gadamer mencoba untuk melepaskan hermeneutika dari wilayah ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial. Untuk melakukan itu ia kemudian kembali membaca tulisan-tulisan Plato. Menurut Gadamer hubungan antara pembaca dengan teks mirip seperti hubungan dialog antara dua orang yang saling berbicara. Dalam arti ini dialog kehilangan dimensi rigorus saintifiknya, dan menjadi percakapan rasional untuk memahami suatu persoalan. Selain itu Gadamer juga membaca tulisan-tulisan Aristoteles, terutama pada bagian etika. Gadamer menjadikan etika sebagai dasar bagi hermeneutika. Tujuan utamanya tetap yakni melepaskan hermeneutika dari ilmu pengetahuan yang cenderung rigorus, saintifik, dan sifatnya instrumental.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pengertian Sebagai Kegiatan Pikiran</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftnref1"><strong><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></strong></a></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Jika membaca tulisan-tulisan Gadamer langsung, anda akan mendapatkan kesan bahwa ia senang sekali bermain kreatif dengan bahasa untuk menciptakan pemahaman-pemahaman baru. Menurutnya bahasa tidak pernah bermakna tunggal. Bahasa selalu memiliki beragam makna, dan itu justru harus diakui dan dirayakan. Beragam makna di dalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang bersifat esensial, tetap, dan universal di dalam bahasa itu sendiri. Artinya bahasa itu memiliki sesuatu yang sifatnya khas pada dirinya sendiri, dan lepas dari pikiran manusia. Di dalam bahasa terdapat pengertian, dan tugas hermeneutika adalah memahami pengertian tersebut, dan membuka kemungkinan bagi pemahaman-pemahaman baru.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Berdasarkan penelitian Jean Grodin, hermeneutika, yakni proses untuk memahami teks, memiliki tiga arti. Hermeneutika selalu terkait dengan pengertian tentang realitas. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang pertama</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> pengertian selalu terkait dengan proses-proses akal budi (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">cognitive process</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Untuk memahami berarti untuk menyentuhnya dengan akal budi. Untuk memahami berarti untuk melihatnya secara lebih jelas. Untuk memahami berarti untuk menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang lebih luas. Untuk memahami sesuatu berarti untuk menggenggamnya dengan kekuatan akal budi. Inilah arti dasar dari hermeneutika sebagai proses untuk memahami sesuatu, atau memahami teks.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Konsep pengertian atau pemahaman (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">understanding</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) juga bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial. Inilah yang kiranya menjadi argumen utama Wilhelm Dilthey, seorang filsuf ilmu-ilmu sosial yang hidup pada abad ke-19. Di dalam proses memahami realitas sosial, setiap bentuk tindakan dan ekspresi seseorang selalu mencerminkan apa yang dihayatinya di dalam kehidupan. Inilah yang disebut Dilthey sebagai pengalaman hidup (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">life experience</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Pengalaman hidup tersebut dapat dipahami melalui proses rekonstruksi ulang yang dilakukan peneliti melalui penelitiannya. Maka dari itu menurut saya, searah dengan penelitian Dilthey, ilmu-ilmu sosial tidak dapat menggunakan metode ilmu-ilmu alam, karena tujuan ilmu-ilmu alam bukanlah memami pengalaman hidup, melainkan mengkalkulasi yang untuk mengeksploitasi dan memprediksi fenomena alamiah. Konsep pengertian sendiri memang sudah tertanam di dalam tradisi hermeneutika sejak lama. Di dalam tradisinya hermeneutika berfokus pada upaya untuk memahami teks-teks kuno, terutama teks kitab suci. Konsep hermeneutika Gadamer juga berakar pada tradisi tafsir teks-teks kitab suci ini.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pengertian sebagai Kegiatan Praktis</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang kedua</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hermeneutika selalu terkait dengan pengertian yang bersifat praktis. Dalam arti ini orang yang mengerti bukan hanya ia memahami pengetahuan tertentu, tetapi juga memiliki ketrampilan praktis untuk menerapkannya. Misalnya anda adalah seorang guru yang baik. Artinya anda tidak hanya memahami pengetahuan teoritis tentang cara mengajar dan arti pengajaran itu sendiri, tetapi mampu mengajar dengan baik. Seorang koki yang baik tidak hanya memahami konsep teoritis bumbu, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sebuah masakan yang enak. Untuk memahami sudah selalu mengandaikan mampu menerapkan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di dalam hidupnya manusia selalu mencari arah baru untuk dituju. Untuk menemukan arah yang tepat, manusia haruslah memiliki pengertian yang tepat tentang dirinya sendiri. Hanya dengan memahami diri secara tepatlah manusia bisa mewujudkan potensi-potensinya semaksimal mungkin. Di dalam proses merumuskan filsafatnya, Gadamer sangat terpengaruh pada filsafat Heidegger, terutama tentang fenomenologi adanya. Namun Gadamer tidak mengikuti jalur yang telah dirintis oleh Heidegger, yakni proses untuk memahami eksistensi ada melalui manusia. Gadamer memfokuskan hermeneutikanya lebih sebagai bagian dari penelitian ilmu-ilmu manusia. Untuk memahami manusia menurutnya, orang harus peduli dan mampu memaknai manusia tersebut dalam konteksnya. Kepedulian dan pemaknaan itu membuat tidak hanya teks yang menampilkan dirinya, tetapi juga si peneliti yang membentuk makna di dalam teks itu.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dapat juga dikatakan bahwa filsafat Gadamer lebih bersifat terapan, jika dibandingkan dengan filsafat Heidegger. Sifat praktis ini diperoleh Gadamer, ketika ia mulai secara intensif membaca tulisan-tulisan Aristoteles tentang kebijaksanaan praktis. Kebijaksanaan praktis juga melibatkan pengertian tertentu. Dalam konteks pengertian ini, penerapan adalah sesuatu yang amat penting. Penerapan adalah soal tindakan nyata. Bertindak baik tidak sama dengan memahami hakekat dari yang baik, seperti yang dilakukan Plato di dalam filsafatnya.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftnref2"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pengertian sebagai Kesepakatan </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Gadamer juga berpendapat bahwa pengertian selalu melibatkan persetujuan. Untuk mengerti berarti juga untuk setuju.   Di dalam bahasa Inggris, kalimat yang familiar dapa dijadikan contoh, “</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">we understand each other</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">”. Kata </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">understand </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">bisa berarti mengerti atau memahami, dan juga bisa berarti saling menyetujui atau menyepakati. Memang pengertian itu tidak seratus persen berarti persetujuan, namun ada hal-hal mendasar yang telah disetujui sebelumnya, ketika orang mengerti. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Grondin, ada dua alasan yang mendorong Gadamer merumuskan pengertian sebagai bagian dari persetujuan. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang pertama</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> bagi Gadamer, untuk memahami berarti juga untuk merekonstruksi makna dari teks sesuai dengan yang dimaksud penulisnya. Di dalam proses pemahaman itu, pembaca dan penulis teks memiliki kesamaaan pengertian dasar (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">basic understanding</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) tentang makna dari teks tersebut. Misalnya saya membaca teks tulisan Immanuel Kant. Ketika membaca saya tidak hanya mencoba memahami secara pasif tulisan Kant, namun pemikiran saya dan pemikiran Kant bertemu dan menghasilkan persetujuan dasar.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pemahaman atau pengertian dasar (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">basic understanding</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) itu disebutnya sebagai </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">sache</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, atau subyek yang menjadi tema pembicaraan. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Sache</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> inheren berada di dalam setiap proses pembacaan ataupun proses dialog. Dalam arti ini proses </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">sache</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> tidak lagi berfokus untuk membangkitkan maksud asli dari penulis teks, melainkan berfokus pada tema yang menjadi perdebatan yang seringkali berbeda dengan maksud asli si penulis teks. Di dalam hermeneutika tradisional, tujuan utamanya adalah membangkitkan maksud asli pengarang. Namun di dalam hermeneutika Gadamer, maksud asli pengarang hanyalah hal sekunder. Yang penting adalah apa yang menjadi tema utama pembicaraan. Dan tema utama pembicaraan (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">subject matter</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) itu dapat terus berubah. Maksud asli pengarang tetap ada. Namun kita hanya dapat mengerti maksud tersebut, jika kita memiliki beberapa pengertian dasar yang sama dengan pengarang. Namun tetaplah harus diingat, bahwa fokus dari hermeneutika, atau proses menafsirkan, menurut Gadamer, adalah untuk membangkitkan makna tentang tema utama pembicaraan, dan tidak semata-mata hanya untuk menjelaskan maksud asli dari penulis teks.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftnref3"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang kedua</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> menurut Gadamer, setiap bentuk persetujuan selalu melibatkan dialog, baik dialog aktual fisik, ataupun dialog ketika kita membaca satu teks tulisan tertentu. Di sisi lain persetujuan juga selalu melibatkan bahasa dan percakapan. Inilah yang disebut Gadamer sebagai aspek linguistik dari pengertian manusia (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">linguistic elements of understanding</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Dalam arti ini untuk memahami berarti untuk merumuskan sesuatu dengan kata-kata, dan kemudian menyampaikannya dengan kejernihan bahasa. Bagi Gadamer elemen bahasa untuk mencapai pengertian ini sangatlah penting. Bahkan ia berpendapat bahwa pengalaman penafsiran (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">hermeneutic experience</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) hanya dapat dicapai di dalam bahasa. Maka perlulah ditegaskan bahwa bagi Gadamer, tindak memahami selalu melibatkan kemampuan untuk mengartikulasikannya di dalam kata-kata dan menyampaikannya di dalam komunikasi. Di dalam proses ini, peran bahasa sangatlah penting. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Namun begitu bukankah tidak semua hal dapat disampaikan dengan kata-kata? Seringkali kita mengerti sesuatu, tetapi tidak bisa mengartikulasikannya secara jernih melalui bahasa. Misalnya saya mengerti sebuah simbol. Saya juga bisa memahami keindahan dari suatu karya seni. Saya juga bisa memahami keindahan suatu musik. Tidak hanya itu seringkali perasaan dan bahkan kebenaran itu sendiri tidak dapat dikurung di dalam rumusan kata-kata. Di dalam bukunya yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Truth and Method</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, Gadamer berpendapat bahwa para seniman, termasuk pelukis, pematung, dan pemusik, tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif, karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Jika bahasa tidak lagi bermakna, lalu bagaimana proses pengertian atau memahami bisa terjadi? Menurut Gadamer bahasa memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar kata-kata. Dalam beberapa kasus tarian dan bahkan diam juga bisa menjadi sebentuk bahasa yang menyampaikan pesan tertentu. Semua bentuk komunikasi itu bisa membuka ruang untuk penafsiran dari pendengar ataupun penerima pesan. Tentu saja orang bisa salah tangkap, sehingga tercipta kesalahpahaman. Namun hal itu terjadi, karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Maka dari itu di dalam komunikasi, kita perlu memperhatikan juga apa yang tak terkatakan, di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. Dengan demikian walaupun sifatnya terbatas, namun bahasa, dalam arti luas, merupakan alat komunikasi yang universal untuk mencapai pemahaman.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Konsep Lingkaran Hermeneutis</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftnref4"><strong><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></strong></a></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Gadamer juga dikenal dengan argumennya soal proses penafsiran, atau yang disebutnya sebagai lingkaran hermeneutis. Argumennya begini setiap bentuk penafsiran selalu mengandaikan pengertian dasar tertentu. Pengertian dasar itu disebut Gadamer sebagai antisipasi. Konsep lingkaran hermeneutis ini sangatlah dipengaruhi oleh filsafat Heidegger. Oleh karena itu konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer sangatlah berbau fenomenologi. Seperti sudah sedikit disinggung, menurut Gadamer, setiap bentuk penafsiran untuk memperoleh pemahaman selalu melibatkan pemahaman dasar lainnya. Artinya untuk memahami kita juga memerlukan pemahaman. Tentu saja dari sudut logika, hal ini tidak bisa diterima. Logika berpikir menolak sebuah penjelasan atas suatu konsep yang terlebih dahulu mengandaikan konsep tersebut, seperti untuk menafsirkan guna memahami sesuatu, orang perlu memiliki pemahaman. Namun jika dilihat secara fenomenologis, seperti yang dilakukan Heidegger dan Gadamer, hal itu mungkin.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dasar dari hermeneutika Gadamer adalah sebuah logika klasik, bahwa orang bisa memahami keseluruhan dengan terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya. Hal yang sama dapat diterapkan untuk memahami suatu teks. Maksud utama dari keseluruhan teks dapat dipahami dengan berpusat pada bagian-bagian teks tersebut, dan sebaliknya bagian-bagian teks itu dapat dipahami dengan memahami keseluruhan teks. Tujuan utama Gadamer adalah untuk memahami teks di dalam kerangka berpikir yang lebih menyeluruh, dan bukan hanya terjebak pada apa yang tertulis atau terkatakan saja. Teks harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yang tentunya melibatkan teks-teks lainnya. Ini adalah salah satu kriteria untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, menurut Gadamer.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftnref5"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pengandaian hermeneutika Gadamer adalah, bahwa keseluruhan (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">whole</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dan bagian (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">parts</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) selalu koheren. Supaya dapat memperoleh pemahaman yang tepat, si pembaca teks haruslah memahami koherensi antara makna keseluruhan dan makna bagian dari teks tersebut. Setiap bentuk pemahaman juga mengandaikan adanya kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya ingin dipahami. Jika kesepakatan tentang tema apa yang sebenarnya sungguh dipahami ini tidak ada, maka proses penafsiran akan menjadi tidak fokus. Jika sudah begitu maka pemahaman yang tepat pun tidak akan pernah terjadi.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Jika dilihat dengan kaca mata ini, maka konsep lingkaran hermeneutis yang dirumuskan Gadamer tetap mengandung unsur logika yang tinggi.           Tidak hanya itu proses untuk memahami keseluruhan melalui bagian, dan sebaliknya, adalah proses yang berkelanjutan. Pemahaman adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari, dan bukan sesuatu yang sudah ditemukan lalu setelah itu proses selesai. Dalam arti ini Gadamer memiliki perbedaan mendasar dari Heidegger. Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan. Sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literatur. Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme. Sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Bagi Heidegger fokus dari pengertian manusia adalah untuk memahami masa depan dari eksistensi manusia. Sementara bagi Gadamer fokus dari pengertian adalah upaya untuk memahami masa lalu dari teks, serta arti sebenarnya dari teks tersebut. Juga bagi Heidegger proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta di dalam proses penafsiran tersebut. Artinya untuk memahami orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu. Sementara bagi Gadamer konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan, dan sebaliknya. Maksud utuh dari teks dapat dipahami dengan memahami bagian-bagian dari teks tersebut. Dan sebaliknya bagian-bagian dari teks dapat dipahami dengan terlebih dahulu memahami maksud keseluruhan dari teks tersebut.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di sisi lain seperti sudah disinggung sebelumnya, fokus dari proses penafsiran (hermeneutika) dari Heidegger adalah eksistensi manusia. Sementara fokus dari hermeneutika Gadamer adalah teks literatur dalam arti sesungguhnya.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftnref6"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dalam arti ini fokus dari hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik, yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia. Sementara bagi Gadamer fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. Namun keduanya sepakat bahwa musuh utama dari proses penafsiran untuk mencapai pemahaman adalah prasangka. Prasangka membuat orang melihat apa yang ingin mereka lihat, yang biasanya negatif, dan menutup mata mereka dari kebenaran itu sendiri, baik kebenaran di level eksistensi manusia, maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam teks.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Walaupun banyak memiliki perbedaan, namun Gadamer dan Heidegger setidaknya identik dalam satu hal, yakni bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. Dengan demikian kita bisa memastikan, bahwa walaupun filsafat Heidegger sangat mempengaruhi pemikiran Gadamer, namun keduanya tidaklah sama. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger. Namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik, yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat. Inilah inti dari Hermeneutika Gadamer. Ia memberikan kepada kita prinsip-prinsip untuk menafsirkan teks-teks dari masa lalu. Dan dengan itu ia membantu kita memahami apa artinya menjadi manusia dengan berdasarkan pada historisitas kehidupan itu sendiri.***</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"><br />
</span></span></div>
<hr size="1" />
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftn1"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bagian ini saya mengacu pada Jean Grondin, “Gadamer’s Basic Understanding of understanding”, dalam </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Cambridge Companion to Gadamer</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">,  Cambridge: Cambridge University Press, 36.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftn2"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid, </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">hal. 40.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftn3"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 41.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftn4"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 46.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftn5"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 47.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123dad023e6ee16c__ftn6"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 49. </span></span></p>
</div>
</div>
<p></span></div>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=200&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/hermeneutika-hans-georg-gadamer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.phillwebb.net/history/TwentiethCentury/Continental/Phenomenology/Gadamer/Gadamer.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat, Terorisme, dan Kebenaran</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/filsafat-terorisme-dan-kebenaran/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/filsafat-terorisme-dan-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 04:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[















Filsafat, Terorisme, 
dan Pencarian Kebenaran
Reza A.A Wattimena
 
 Apa kaitan antara filsafat, terorisme, dan kebenaran? Pertanyaan itu kiranya patut menjadi perhatian kita bersama, terutama dengan ketakutan dunia internasional, termasuk Indonesia, akan bahaya terorisme itu sendiri, sekaligus sebagai momen refleksi peringatan tragedi 11/9 di Amerika Serikat 8 tahun yang lalu. Bom Kuningan beberapa waktu lalu masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=198&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="page_start" style="text-align:left;padding:0 10px;">
<table style="font-size:12px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="padding:0 20px 0 0;">
<div id="item_rezaantonius:journal:241">
<div style="color:#888888;font-weight:bold;font-size:18px;background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;position:relative;width:auto;background-position:initial initial;border-color:initial;border-style:none none solid;border-width:1px;">
<table style="font-size:12px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody></tbody>
</table>
</div>
<div>
<div style="background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;position:relative;clear:both;width:auto;background-position:initial initial;border:1px none #999999;margin:0;padding:0 0 10px;">
<div id="item_body">
<div style="text-align:center;"><span style="border-collapse:collapse;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;line-height:54px;"><strong><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://www.causes-of-terrorism.net/images/taliban2PT.jpg" border="0" alt="" /></strong></span></span></span></div>
<p><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:54px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;">Filsafat, Terorisme, </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:54px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;">dan Pencarian Kebenaran</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span><span style="line-height:54px;"><strong><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Reza A.A Wattimena</span></span></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Apa kaitan antara filsafat, terorisme, dan kebenaran? Pertanyaan itu kiranya patut menjadi perhatian kita bersama, terutama dengan ketakutan dunia internasional, termasuk Indonesia, akan bahaya terorisme itu sendiri, sekaligus sebagai momen refleksi peringatan tragedi 11/9 di Amerika Serikat 8 tahun yang lalu. Bom Kuningan beberapa waktu lalu masih segar diingatan kita. Fakta bahwa ada orang yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk memusnahkan nyawa orang lain atas nama pandangan dunia tertentu tampak begitu menakutkan. Terorisme pun menggantung sebagai sebuah kemungkinan yang mengerikan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pencarian Kebenaran</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Filsafat adalah bentuk upaya manusia untuk memahami seluruh dimensi kehidupannya, termasuk yang terkait dengan Tuhan dan alam semesta, secara rasional dan terbuka, serta mencoba menyentuh prinsip-prinsip terdasar semua dimensi kehidupan tersebut. Dalam arti ini filsafat memiliki peran penjernihan teoritis. Filsafat adalah bagian dari aktivitas manusia untuk memahami dunianya secara rasional dan mendalam.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Namun filsafat tidak hanya berkutat soal teori. Filsafat juga memiliki maksud praktis. Inilah yang disebut sebagai etika. Dengan pemahaman yang bersifat mendalam terkait dengan semua dimensi kehidupan manusia, orang diharapkan mampu bertindak dan membuat keputusan secara bijaksana di dalam kehidupannya. Orang tidak hanya perlu tahu, tetapi ia juga perlu menerapkannya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di sisi lain terorisme adalah suatu tindakan menyebar ketakutan dengan menggunakan medium kekerasan. Ada banyak bentuk terorisme, mulai dari sabotase gardu listrik, penyanderaan, bom bunuh diri, penculikan, dan sebagainya. Tindakan teror adalah tindakan yang dikenai pada pihak partikular tertentu, namun dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Itulah esensi teror.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Tindakan kekerasannya sendiri seringkali tidak dirasakan langsung. Namun ketakutan bahwa saya atau anda akan mengalaminya menciptakan ketakutan tersendiri. Teror adalah ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi, namun memiliki kemungkinan akan terjadi. Kemungkinan itulah yang menciptakan teror.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Lalu apa kaitan antara filsafat dan terorisme? Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa tujuan filsafat adalah mencapai kebenaran. Asumsinya adalah bahwa kebenaran itu belum ditemukan, namun masih terus diupayakan. Di sisi lain terorisme berpijak pada suatu pemahaman tertentu yang mengklaim kebenarannya sebagai kebenaran mutlak. Artinya dasar dari pemahaman para teroris adalah, bahwa mereka sudah menemukan kebenaran. Semua pandangan yang berbeda dengan pandangan mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Anti-filsafat</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Dalam arti ini dapatlah dikatakan, bahwa terorisme, dengan pandangan dunia yang melandasinya, adalah suatu anti-filsafat, terutama filsafat sebagai aktivitas pencarian kebenaran. Filsafat terus berusaha menemukan kebenaran dalam proses. Sementara terorisme yakin secara dogmatis, bahwa mereka sudah sampai pada kebenaran, dan memutuskan untuk memusnahkan pandangan-pandangan yang bertentangan dengannya. Di dalam pencarian kebenaran, filsafat bersifat terbuka, sementara terorisme bersifat tertutup.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Terorisme adalah suatu tindak menyebar ketakutan dengan menggunakan medium kekerasan, sekaligus dilandasi suatu pandangan yang mengklaim kebenaran mutlak. Dalam arti ini terorisme menghalalkan segala cara untuk mewujudkan tujuannya. Tajuk rencana Kompas 12 September lalu mencap terorisme sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Oleh sebab itu terorisme harus dilawan dengan berbagai cara.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pendekatan kekerasan dengan menggunakan senjata dan militer untuk memusnahkan terorisme terbukti gagal. Maka kita perlu merumuskan suatu pendekatan baru yang lebih bersifat non-kekerasan, namun mengedepankan rasionalitas dan filsafat. Filsafat sebagai pencarian kebenaran yang bersifat terbuka harus menjadi obat bagi terorisme yang bersifat tertutup. Walaupun terorisme adalah anti-filsafat, namun filsafat bisa terbuka untuk memahami dan membongkar kesempitan berpikir para teroris.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Kunci utama untuk membongkar terorisme adalah membongkar kesempitan cara berpikir. Para teroris haruslah disadarkan, bahwa kebenaran mutlak itu sifatnya hanyalah klaim, dan bukan sesuatu yang obyektif. Maka dari itu tindak memusnahkan kelompok-kelompok yang bertentangan dengan klaim itu sangatlah tidak masuk akal. Filsafat dengan kemampuannya untuk membongkar mitos dan memperkenalkan cara berpikir kritis mampu menjadi obat tawar bagi racun dogmatisme yang menjangkiti begitu banyak pemikiran para teroris di seluruh dunia.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di sisi lain filsafat juga bisa menjadi alat untuk berpikir kritis terhadap pihak-pihak yang menyebabkan timbulnya fenomena terorisme tersebut. Kita semua tahu bahwa terorisme tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari ketidakadilan yang menyebabkan penderitaan begitu banyak orang, baik fisik maupun mental. Keberanian untuk melakukan kritik diri, keterbukaan pada pada kebenaran yang ditemukan di dalam proses, serta penggunaan akal budi untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial adalah prinsip-prinsip yang harus juga diterapkan pada para pihak yang menyebabkan munculnya ketidakadilan di level internasional.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:32px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pada akhirnya kebenaran mutlak memang hanyalah klaim. Kita manusia terlempar ke dunia dan harus menelan fakta, bahwa kita adalah mahluk yang sangat terbatas, termasuk dalam pencarian kebenaran.***</span></span></span></p>
<p></span></div>
</div>
</div>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=198&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/filsafat-terorisme-dan-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.causes-of-terrorism.net/images/taliban2PT.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gempa Eksistensial</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/gempa-eksistensial/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/gempa-eksistensial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 04:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[





Gempa Eksistensial 
Reza A.A Wattimena
  
Beberapa waktu yang lalu, gempa mengguncang kota-kota di Jawa Barat. Infrastruktur hancur. Korban nyawa pun terus bertambah. Banyak orang masih khawatir akan kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan skala lebih besar. 
Gempa tersebut adalah sebuah musibah. Namun yang terserang gempa ternyata bukan hanya kota dengan infastrukturnya, tetapi juga gempa eksistensial, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=194&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="color:#888888;font-weight:bold;font-size:18px;background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;position:relative;width:auto;background-position:initial initial;border-color:initial;border-style:none none solid;border-width:1px;"><span style="color:#000000;font-size:small;"><span style="font-weight:normal;line-height:normal;"><br />
</span></span></div>
<div>
<div style="background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;position:relative;clear:both;width:auto;background-position:initial initial;border:1px none #999999;margin:0;padding:0 0 10px;">
<div id="item_body"><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"><strong><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://welovecomments.files.wordpress.com/2009/08/sichuan-earthquake.jpg" border="0" alt="" /></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Gempa Eksistensial</span></span><span style="font-size:large;"> </span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="line-height:54px;"><strong><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">Reza A.A Wattim<span style="font-family:arial, sans-serif;font-size:13px;font-weight:normal;"><strong><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">ena</span></span></strong></span></span></span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> </span></span><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">Beberapa waktu yang lalu, gempa mengguncang kota-kota di Jawa Barat. Infrastruktur hancur. Korban nyawa pun terus bertambah. Banyak orang masih khawatir akan kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan skala lebih besar.</span></span><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">Gempa tersebut adalah sebuah musibah. Namun yang terserang gempa ternyata bukan hanya kota dengan infastrukturnya, tetapi juga gempa eksistensial, yakni gempa yang terkait dengan eksistensi manusia secara keseluruhan. Apa yang dimaksud dengan gempa eksistensial tersebut? Dan apa dampaknya bagi kehidupan bersama kita?</span></span><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">Gempa Eksistensi</span></span><span style="font-size:large;"> </span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Gempa adalah sebuah guncangan akibat aktivitas tektonik maupun vulkanik di lapisan bumi bawah. Gempa inilah yang mengguncang Jawa Barat dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Sementara gempa eksistensial adalah runtuhnya keseharian manusia, akibat bencana ataupun perubahan mendadak yang terjadi di dalam aktivitasnya. Dalam situasi itu orang kehilangan pegangan dan tujuan hidup. Yang ada adalah rasa panik dan kekhawatiran ekstrem.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Setiap orang hidup di dalam dunia yang sudah mereka terima begitu saja, sehingga tidak lagi dipertanyakan. Mesin kendaraan yang beroperasi. Jalan raya yang sudah jadi. Gedung tempat kerja yang biasa mereka tempati, dan sebagainya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Di dalam situasi normal, apa yang sudah mereka terima begitu saja menjadi bagian dari keseharian, atau rutinitas hidup. Semua berjalan biasa sampai suatu saat, gempa terjadi dan mengguncang tempat kerja ataupun rumah mereka. Dalam situasi gempa segala kehormatan, harga diri, kecerdasan, dan kekayaan seolah menjadi lenyap, dan digantikan semata oleh insting untuk menyelamatkan diri. Dalam situasi ekstrem itu, status dan kehormatan yang menjadi nomor dua. Tidak ada beda antara atasan dan bawahan. Semuanya adalah manusia yang berusaha menyelamatkan diri.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Situasi panik itu adalah gempa eksistensial, yakni gempa yang tidak hanya menghancurkan ataupun menggoyang fasilitas fisik yang digunakan, tetapi juga gempa yang menggoyang keseharian seseorang. Di dalam keseharian itu tercakup cara pandang, nilai-nilai, keyakinan hidup, tujuan hidup, status, harga diri, dan sebagainya. Dengan kata lain gempa menggoyang sekaligus dunia fisik dan dunia mental manusia. Di dalam gempa eksistensial, yang hancur bukanlah gedung, melainkan kedirian (</span></span><em><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">self</span></span></em><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">).</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Hancurnya rumah milik satu keluarga tertentu tidak hanya menghancurkan tempat tinggal fisiknya, tetapi juga mental orang yang sebelumnya tinggal disana. Hancurnya tempat kerja tidak hanya merusak lingkungan fisik semata, tetapi juga mental dan eksistensi orang-orang yang bekerja di dalamnya. Dengan demikian gempa itu sifatnya selalu multidimensional, karena ia tidak hanya menggoyang bangunan fisik, tetapi juga menggoyang eksistensi kita sebagai manusia. Dimensi multidimensional itulah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama, ketika berusaha memberi makna pada musibah yang terjadi.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">Momen Refleksi</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Gempa adalah sebuah peristiwa. Di dalam peristiwa selalu terkandung makna, sebagaimana kita mampu dan mau untuk memaknainya. Di dalam peristiwa gempa yang menimpa Jawa Barat beberapa waktu lalu, terselip sebuah kesempatan untuk berpikir ulang tentang apa artinya kita menjadi manusia. Di dalam gempa fisik terdapat gempa eksistensial, dan di dalam gempa eksistensial terselip sebuah kesempatan untuk bereksistensi dengan cara baru.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Cara baru apa yang bagaimana? Sebuah cara hidup yang didasarkan pada kesadaran diri utuh, bahwa manusia adalah mahluk yang lemah dan rapuh di hadapan apa yang tidak diketahuinya. Di hadapan gempa yang penuh dengan unsur misteri, semua bentuk gelar sosial, seperti presiden, bupati, menteri, gubernur, professor, doktor, dokter, manajer, direktur, dan semuanya menjadi tidak berarti. Manusia menjadi mahluk yang telanjang di dalam eksistensinya. Ia seolah turun menjadi binatang dengan satu tujuan hidup, yakni untuk mempertahankan diri.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> Di hadapan yang tidak diketahuinya (</span></span><em><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">the unknown</span></span></em><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;">), manusia menjadi gentar sekaligus kagum. Di dalam dilema eksistensial antara kagum dan gentar tersebut, ada baiknya kita hening dari keseharian, dan mengingat kembali akar eksistensi kita sebagai manusia, bahwa pada akhirnya kita semua adalah mahluk yang tidak berarti di hadapan alam semesta yang tak terhingga keluasannya. Di dalam ketidakberartian itu, kesadaran diri sebagai mahluk fana yang rapuh dan lemah mencuat tajam. Pada akhirnya kita hanyalah satu titik di tengah ratusan milyar titik lainnya di alam semesta ini. Pada akhirnya tujuan hidup manusia hanya satu, yakni mempersiapkan kematian yang bermartabat.***</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><em><span style="line-height:26px;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:georgia, serif;"> </span></span></span></em></p>
<p></span></div>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=194&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/21/gempa-eksistensial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://welovecomments.files.wordpress.com/2009/08/sichuan-earthquake.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Teori Kritis Kontemporer</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/10/teori-kritis-kontemporer/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/10/teori-kritis-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 20:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[



Teori Kritis Kontemporer
Reza A.A Wattimena
 
 Pada bab sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Heidegger, dengan menggunakan fenomenologi dan mengubahnya menjadi ontologi, berupaya untuk memahami Ada yang adalah realitas itu sendiri. Filsafat Heidegger memang terkesan abstrak, dan tidak memiliki relevansi langsung untuk kehidupan. Namun sebenarnya Heidegger ingin mengajak kita untuk lebih memahami keterkaitan diri kita sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=190&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<div>
<div>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;"><strong><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://sparror.cubecinema.com/beingll/archive/aug05/engagement_is_critical.jpg" border="0" alt="" /></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;">Teori Kritis Kontemporer</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"><strong>Reza A.A Wattimena</strong></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Heidegger, dengan menggunakan fenomenologi dan mengubahnya menjadi ontologi, berupaya untuk memahami Ada yang adalah realitas itu sendiri. Filsafat Heidegger memang terkesan abstrak, dan tidak memiliki relevansi langsung untuk kehidupan. Namun sebenarnya Heidegger ingin mengajak kita untuk lebih memahami keterkaitan diri kita sebagai manusia dengan dunia dalam relasi yang sifatnya konstruktif dan positif. Manusia dan dunia adalah ada itu sendiri. Keduanya tak terpisahkan dan selalu hidup dalam relasi kesatuan yang utuh. Ontologi adalah penyelidikan rasional dan sistematis tentang Ada itu sendiri, dan ada itu selalu melibatkan dunia, di mana manusia termasuk di dalamnya.</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pada bab ini saya ingin memperkenalkan anda dengan suatu tradisi berpikir yang disebut sebagai teori kritis. Teori kritis sifatnya sangat konkret, karena langsung berhadapan dengan persoalan-persoalan sosial yang mendesak di dalam masyarakat. Sebagai acuan teks saya menggunakan tulisan Axel Honneth, yang banyak dianggap sebagai tokoh teori kritis kontemporer, yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Social Pathology of Reason: On the Intellectual Legacy of Critical Theory.</span></span></em><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref1"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Teori kritis memang mencapai puncak kejayaannya pada awal dan pertengahan abad kedua puluh. Sekarang ini banyak orang menganggapnya tinggal sekedar artifak yang tidak lagi relevan.</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Memang harus diakui banyak analisis tajam yang dibuat oleh para pemikir Teori Kritis pada awal abad kedua puluh sudah jauh terpisah dengan realitas sekarang ini. Namun sekarang ini banyak pemikir muda yang mendedikasikan karya-karya mereka untuk mengembangkan analisis teori kritis ini. Tokoh yang pertama kali mengembangkan teori kritis secara sistematis adalah Horkheimer dan Marcuse. Mereka adalah para filsuf kontemporer. Walaupun dapat dinilai sebagai bagian dari filsuf kontemporer, namun banyak analisis mereka sudah terasa ketinggalan jaman. Itulah yang menjadi pendapat Axel Honneth.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Teori kritis tradisional yang dipelopori oleh Max Horkheimer dan Theodor Adorno banyak menjadikan filsafat Hegel dan Freud sebagai dasar pemikiran mereka. Di dalam tradisi berpikir semacam itu, akal budi (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">reason</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) masih menjadi titik tolak untuk membaca dan memahami gerak sejarah. Akal budi dianggap sebagai kemampuan universal manusia untuk bersikap kritis terhadap dinamika masyarakat. Akan tetapi keyakinan besar pada kemampuan akal budi tersebut tampak tidak lagi relevan sekarang ini. Banyak filsuf dan intelektual pada umumnya sekarang ini sudah mulai sadar akan pluralitas budaya, sekaligus pluralitas konsep akal budi itu sendiri. Di dalam wacana postmodernisme, akal budi dianggap merupakan salah satu narasi besar yang mengklaim dirinya universal. Padahal sebenarnya kemampuan dan isi dari akal budi sangatlah tergantung pada kultur yang sifatnya lokal dan partikular.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref2"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ciri khas dari Teori Kritis, yang banyak juga dikenal sebagai sekolah Frankfurt, adalah keyakinannya pada kemampuan rasio manusia untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupan sosial. Namun ciri itu kini sudah banyak ditinggalkan, karena banyak filsuf tidak lagi yakin, bahwa akal budi mampu menyelesaikan semua persoalan kehidupan sosial manusia. Akal budi itu sifatnya partikular dan jamak. Tidak ada akal budi universal yang mampu menjadi titik tolak untuk pembebasan manusia, seperti yang dicita-citakan oleh Adorno dan Horkheimer. Salah satu alasannya adalah, karena akal budi manusia telah dipersempit menjadi melulu soal-soal teknis instrumental, dan telah kehilangan kemampuan kritisnya. Misalnya di dalam sistem masyarakat kapitalis, akal budi lebih banyak digunakan untuk mencari uang dengan berbagai cara, daripada digunakan untuk bersikap kritis guna mencegah dampak-dampak negatif dari kapitalisme itu sendiri.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Secara umum dapatlah dikatakan, bahwa kecenderungan para filsuf sekarang ini tidak lagi ingin membuka struktur sosial yang tidak adil, melainkan ingin lebih memahami konsep keadilan yang memang seringkali sifatnya lokal dan partikular. Artinya ketidakadilan itu bukanlah sesuatu yang melulu universal, melainkan memiliki aspek lokal partikular yang harus dipahami terlebih dahulu. Jika proses pencerahan dan pembebasan hendak dilakukan, maka kita harus terlebih dahulu memahami ketidakadilan lokal yang terjadi, dan kemudian berusaha memberikan pengertian pada orang-orang yang tertindas tersebut untuk memperjuangkan hak-hak mereka.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di dalam salah satu tulisannya, yang memang bertujuan untuk merumuskan proyek teori kritis secara baru, Axel Honneth hendak menantang pendekatan yang hanya berusaha memahami lokalitas dan partikularitas dari suatu gejala ketidakadilan sosial. Ia ingin merumuskan suatu teori kritis yang bersifat universal sekaligus historis. Untuk bisa mewujudkan proyek itu, ia kemudian menempuh tiga langkah. Yang pertama Honneth hendak menegaskan kembali ide-ide dasar teori kritis tradisional, terutama yang terkait dengan kritik terhadap kapitalisme. Yang kedua ia juga ingin menegaskan, bahwa kapitalisme merupakan akar penyebab dari lemahnya cara berpikir kritis di dalam masyarakat. Dan yang ketiga ia ingin merumuskan suatu praksis politik yang tepat untuk menghadapi problem-problem yang muncul di dalam masyarakat kontemporer. Proyek besar dari Honneth adalah merumuskan suatu bentuk teori kritis yang relevan dan cocok dengan problem-problem yang dihadapi masyarakat sekarang ini. Dapat juga dibilang Honneth, dengan arah dan isi argumentasinya, adalah generasi ketiga teori kritis Frankfurt setelah Horkheimer dan Adorno (generasi pertama), serta Jürgen Habermas (generasi kedua). </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada dasarnya teori kritis adalah suatu gaya berpikir yang merentang ke berbagai bidang. Maka dari itu sangatlah sulit untuk menemukan satu kesatuan utuh di dalamnya. Namun menurut Honneth ada satu kesamaan yang mendasari seluruh pemikir di dalam ranah teori kritis, yakni sikap negatifnya pada realitas faktual. Artinya mayoritas pemikir teori kritis bersikap negatif dan curiga terhadap semua situasi sosial yang terjadi, bahkan yang tampak paling positif sekalipun. Honneth menyebut ini sebagai negativitas sosial (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">social negativism</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Setiap kondisi sosial tidak pernah merupakan suatu situasi yang positif, karena selalu menyembunyikan ketidakadilan sosial. Di tangan Honneth teori kritis tidak lagi hanya berfokus soal keadilan sosial, tetapi juga pada soal keadilan kultural (terkait dengan konsep hidup yang baik), yakni iklim yang menghambar perkembangan kultural suatu masyarakat.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref3"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut Honneth teori kritis selalu melibatkan dua kategori analisis, yakni apa yang patologis (misalnya krisis di dalam masyarakat), dan apa yang tidak patologis (yang seharusnya terjadi). Horkheimer misalnya pernah merumuskan konsep organisasi yang tidak masuk akal (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">irrational organization</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Adorno pernah merumuskan konsep dunia yang teradministrasi (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">administered world</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Marcuse merumuskan konsep masyarakat satu dimensi (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">one dimensional society)</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> dan konsep toleransi represif (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">repressive tolerance</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Dan Habermas kemudian merumuskan konsep kolonisasi dunia kehidupan. Semua konsep itu sebenarnya menggambarkan satu hal, bahwa masyarakat yang ada sekarang ini mengalami berbagai krisis dan masalah sosial. Bentuk krisis dan masalah sosial tersebut terkandung di dalam analisis-analisis para pemikir teori kritis, sesuai dengan gayanya masing-masing.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut Honneth ada satu hal yang kiranya bisa ditemukan di dalam pemikiran para filsuf tersebut, yakni mereka menjadikan lemahnya sikap kritis dan rasionalitas masyarakat sebagai sebab utama dari krisis sosial yang terjadi. “Mereka”, demikian Honneth, “menjaga relasi internal antara relasi-relasi patologis dan kondisi dari rasionalitas sosial.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref4"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Konsekuensi logisnya adalah bahwa sikap kritis dari rasionalitas masyarakat (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">social rationality</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) haruslah dibangkitkan ulang. Jika teori kritis generasi ketiga, yang berfokus pada masalah-masalah kontemporer hendak dirumuskan, maka konsep rasio kritis harus juga dirumuskan ulang sesuai kondisi-kondisi sekarang.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref5"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Untuk membangkitkan rasio kritis guna menanggapi problem-problem sosial kontemporer, Honneth lalu menimba kembali ide-ide dari filsafat Hegel, terutama di dalam buku Hegel tentang filsafat politik, yakni </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Philosophy of Right</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Menurut tafsiran Honneth buku</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Philosophy of Right</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> tulisan Hegel mencoba menganalisis lenyapnya makna dari kehidupan politik pada masa itu. Dan bagi Hegel cara mengembalikan makna adalah dengan membangkitkan rasio obyektif di dalam sejarah. Rasio obyektif itu sudah ada, namun tertutup oleh hiruk pikuk sejarah dan krisis sosial yang terjadi. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Konsep rasio di dalam filsafat Hegel, menurut Honneth, sangatlah komprehensif. Hegel berusaha menggabungkan konsep rasio universal yang bergerak di dalam sejarah dalam bentuk peradaban di satu sisi, dan tuntutan etika yang sifatnya lokal dan partikular di sisi lain. Setiap orang diharapkan mampu mempertimbangkan aspek-aspek sejarah yang dominan pada situasi sekarang, dan mulai mengkaitkan aspek-aspek itu dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih bersifat lokal dan partikular. Jika hal itu bisa dilakukan, maka mereka akan menjalani hidup yang bermakna. Hegel memberikan tempat bagi bentuk-bentuk pemikiran dominan, sekaligus bentuk-bentuk pemikiran yang sifatnya lokal. Yang terakhir ini disebut Hegel sebagai etika (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ethics</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Ia juga yakin bahwa semua krisis sosial terjadi, karena ketidakmampuan masyarakat menghidupi dan mengekspresikan nilai-nilai lokal yang mereka punyai. Mereka tidak mampu menegaskan dan mengekspresikan identitas lokal mereka.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Honneth juga berpendapat bahwa suatu masyarakat bisa berkembang, jika mereka tetap menjadikan rasionalitas sebagai tolok ukur semua nilai dan keputusan sosial yang ada. Rasionalitas dapat menjadi dasar yang kokoh untuk memandu kehidupan orang-orang yang hidup di dalam masyarakat tersebut. Di dalam masyarakat kapitalis, rasionalitas disempitkan melulu menjadi soal cara untuk memperoleh dan mengembangkan modal. Dalam situasi ini rasionalitas tidak dijadikan titik tolak untuk membuat keputusan sosial, melainkan hanya disempitkan pada cara-cara untuk memperoleh keuntungan. “Setiap anggota masyarakat”, demikian tulis Honneth, “haruslah setuju bahwa untuk menciptakan kehidupan bersama yang berhasil dan tidak terdistorsi hanyalah mungkin jika semua anggota masyarakat mengarahkan diri mereka berdasarkan pada prinsip ataupun institusi yang dapat dimengerti sebagai tujuan rasional dari aktualisasi diri.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref6"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Krisis sosial terjadi ketika sebuah masyarakat kehilangan pijakannya terhadap rasionalitas untuk membuat keputusan yang terkait dengan kehidupan bersama.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dengan demikian rasionalitas manusia yang bersifat universal dan etika kultural yang bersifat partikular harus bisa memperoleh tempat yang semestinya di dalam kehidupan sosial. Konsep rasionalitas universal memang terdengar abstrak. Akan tetapi konsep itu sebenarnya sangat mengakar di dalam aktivitas manusia, dan bahkan di dalam kemanusiaan itu sendiri. Horkheimer mempunyai dimensi itu di dalam filsafatnya, terutama ketika ia merumuskan pernyataan, bahwa manusia sudah pada dasarnya terarah untuk menguasai alam dengan menggunakan rasionalitasnya. Dan penguasaan itu memang ditujukan untuk mengembangkan kehidupannya. Salah satu pemikir teori kritis terbesar, Karl Marx, pernah menyatakan bahwa krisis sosial terjadi, karena rendahnya standar rasionalitas di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut, rasionalitas disempitkan untuk semata-mata melakukan produksi. Rasio absen dari dimensi-dimensi kehidupan manusia lainnya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Rekan Horkheimer sekaligus salah satu tokoh teori kritis generasi pertama, yakni Herbert Marcuse, pernah mengajukan pendapat bahwa rasionalitas universal manusia dapat ditemukan di dalam praksis estetika. Estetika adalah alat untuk menciptakan integrasi sosial, terutama integrasi sosial yang didasarkan pada identitas di dalam dunia kehidupan manusia, yang memang belum terstruktur menjadi sistem. Generasi kedua teori kritis, yakni Jürgen Habermas, menterjemahkan konsep rasionalitas universal di dalam filsafat Hegel menjadi proses komunikasi rasional untuk menemukan kesalingpengertian antara kedua belah pihak yang berbeda latar belakang tentang satu masalah sosial yang sama. Rasionalitas universal yang bergerak di dalam sejarah diterjemahkan di dalam proses komunikasi antar manusia yang melibatkan bahasa untuk mencapai kesepakatan rasional. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas, Karl Marx, Horkheimer, Adorno, Marcuse, dan Habermas, adalah tokoh-tokoh penting di dalam teori kritis, terutama teori kritis sekolah Frankfurt. Di balik semua teori mereka, ada satu ciri yang kurang lebih sama, yakni keyakinan akan peran rasionalitas universal manusia sebagai alat untuk mengembangkan kehidupan sosial. Rasionalitas universal tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk tindakan konkret manusia di dalam masyarakatnya. Kesatuan masyarakat yang adil dan makmur hanya dapat tercipta, jika rasionalitas sungguh mewujud nyata di dalam tindakan orang-orang yang hidup di dalamnya. “Proses menjauh dari dunia ideal yang dapat dicapai dengan aktualisasi sosial dari akal budi universal”, demikian tulis Honneth, “dapat disebut juga sebagai patologi sosial, karena di dalamnya tidak terjadi aktualisasi diri yang didasarkan pada intersubyektivitas.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref7"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[7]</span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Walaupun sama-sama mengandaikan kekuatan dari rasionalitas universal di dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupan manusia, namun para filsuf teori kritis memiliki perbedaan di dalam pemahaman mereka soal rasionalitas universal tersebut. Horkheimer misalnya yakin bahwa rasionalitas memungkinkan orang untuk mengembangkan diri seutuhnya, dan mewujudkan semua potensi yang ia miliki semaksimal mungkin. Jika semua warga masyarakat hidup dan bertindak dengan rasionalitas, maka akan tercipta apa yang disebutnya sebagai komunitas orang-orang bebas (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">community of free human beings</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Pandangan Habermas agak berbeda dengan Horkheimer. Horkheimer percaya bahwa rasionalitas bisa menjadi alat sekaligus tujuan. Sementara bagi Habermas rasionalitas hanyalah penjamin suksesnya proses komunikasi untuk mencapai kesepakatan. Rasionalitas sifatnya proseduralistik dan bukan substantif.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Namun begitu para pemikir teori kritis kiranya juga yakin bahwa, selain kekuatan rasionalitas manusia, faktor kebebasan juga memainkan peranan penting. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kebebasan yang sifatnya kooperatif (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">cooperative freedom</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Ada dua hal yang terkandung di dalam konsep kebebasan ini. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang pertama</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">adalah bahwa orang memiliki kemampuan dan kemauan untuk memilih cara-cara yang dianggapnya perlu guna mewujudkan potensi-potensi dirinya semaksimal mungkin. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang kedua</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> kepenuhan potensi diri itu hanya bisa dicapai, jika secara langsung beririsan dengan kebaikan seluruh masyarakat (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">common good</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Kebaikan bersama seluruh masyarakat adalah kebaikan yang telah disepakati secara rasional oleh seluruh warga masyarakat yang memiliki kebebasan individual untuk mengembangkan potensi-potensi dirinya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Isu-isu yang dibuka oleh para pemikir teori kritis Frankfurt kini berlanjut di dalam perbebatan antara liberalisme dan komunitarianisme. Jürgen Habermas yang memang banyak dianggap sebagai tokoh terbesar teori kritis juga terlibat secara aktif di dalam perdebatan itu. Filsafat Habermas memang lebih kental nuansa liberalisme, terutama karena ia sangat menekankan pentingnya otonomi individu.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref8"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[8]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di dalam filsafatnya ia yakin, bahwa kebebasan individu haruslah berada dalam relasi dengan kebaikan bersama. Keduanya tidaklah bisa dipisahkan. Dalam arti ini filsafatnya lebih mendalam dan radikal daripada liberalisme, yang hanya menjadikan kebebasan individu sebagai titik tolak, tanpa ada usaha konkret untuk mengkaitkannya dengan kebaikan bersama. Kebaikan bersama itu biasanya tertanam di dalam keyakinan-keyakinan yang terdapat di dalam kehidupan sosial. Di dalam keyakinan-keyakinan itulah proses komunikasi bisa berlangsung. Dengan demikian proses komunikasi pertama-tama mengandaikan adanya kesamaan titik pijak sekaligus keberadaan individu yang memiliki kebebasan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Komunikasi memang menjadi tema utama filsafat Habermas, terutama komunikasi di dalam proses pembentukan hukum dan tata politik yang sah. Komunikasi mengandaikan konsep subyek yang bersifat intersubyektif. Artinya konsep subyek selalu terkait dengan subyek-subyek lainnya, dan tidak pernah berdiri sendiri. Konsep subyek ini tentunya berbeda dengan konsep subyek di dalam liberalisme. Di dalam liberalisme subyek dipandang sebagai sesuatu yang otonom, bebas, dan tidak terkait dengan subyek-subyek lainnya. Sementara di dalam tradisi teori kritis, subyek justru bisa mengembangkan dirinya sejauh ia terlibat dan menghidupi nilai-nilai sosial yang ada di dalam masyarakatnya. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dalam konteks perdebatan liberalisme dan komunitarianisme, teori kritis memiliki posisis yang tegas yang sekaligus membedakannya dari kedua aliran tersebut. Yang pertama teori kritis menegaskan pentingya aspek intersubyektif dari manusia. Artinya pengembangan diri yang maksimal hanya dapat terwujud, jika subyek selalu berada di dalam relasi dengan subyek-subyek lainnya. Jika setiap orang memiliki kesadaran akan intersubyektivitas di dalam dirinya, maka akan tercipta kerja sama di level sosial yang sungguh didasari oleh solidaritas. Sebuah komunitas yang didasari atas solidaritas yang otentik dari masing-masing warganya masih merupakan komunitas ideal cita-cita para pemikir teori kritis. Masyarakat atau komunitas semacam itu hanya bisa tercipta di dalam terang rasionalitas yang digunakan untuk menerangi kehidupan bersama. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Teori kritis setidaknya memiliki tujuan dasar. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang pertama</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">adalah membongkar kesesatan-kesesatan berpikir dan bertindak di dalam masyarakat kapitalis, dan </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">yang kedua</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> adalah menawarkan sebuah teori untuk melakukan pembebasan dari kesesatan-kesesatan semacam itu. Dengan demikian teori kritis sungguh ingin menjadi suatu kritik sosial terhadap kapitalisme, sekaligus teori dengan maksud praktis untuk membebaskan masyarakat dari belenggu negatif kapitalisme yang menciptakan banyak krisis sosial. Proses pembebasan atau emansipasi tersebut ditempuh dengan pertama-tama mengacu pada kekuatan akal budi manusia. Rasionalitas dan penggunaannya secara maksimal di dalam kehidupan publik adalah kunci untuk melenyapkan penderitaan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Walaupun percaya pada kekuatan rasionalitas sebagai alat untuk memperbaiki krisis sosial, namun para pemikir teori kritis memiliki ciri khas mereka masing-masing. Mereka juga yakin bahwa bahkan di dalam keadaan krisis paling gawat sekalipun, manusia selalu bisa menggunakan rasionalitasnya. Namun rasionalitas itu tidak hanya mengenai akal, logika, dan metode ilmiah semata. Seperti yang ditulis oleh Marcuse, dorongan kehidupan juga memilki aspek estetik yang melibatkan rasionalitas. Aspek estetik inilah yang memungkinkan manusia mengambil jarak dari krisis, dan kemudian melampauinya dengan menggunakan kekuatan rasionalitas. Tentu saja pendapat Marcuse tersebut sangatlah kontroversial. Aspek estetik seringkali tidak membawa manusia pada rasionalitas, namun justru menyesatkannya di dalam kebuntuan.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftnref9"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[9]</span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Habermas mencoba menjawab kebuntuan yang diciptakan Marcuse. Bagi Habermas rasionalitas manusia paling tampak di dalam kemampuannya berkomunikasi melalui bahasa. Bahasa adalah medium rasionalitas, karena memungkinkan manusia berkomunikasi untuk mencapai kesalingpengertian bersama. Namun komunikasi itu harus memenuhi syarat terlebih dahulu, yakni bahwa proses itu dilakukan di dalam suasana kebebasan dan kesetaraan antar subyek. Krisis sosial pun juga bisa diselesaikan dengan menggunakan rasionalitas yang diterjemahkan di dalam komunikasi ini. Rasionalitas di dalam komunikasi ini, yang disebut Habermas sebagai rasionalitas komunikatif, adalah dasar dari semua proses pembebasan di dalam masyarakat yang tercengkeram oleh krisis sosial. Proyek besar teori kritis adalah pembebasan manusia dari belenggu-belenggu dirinya, baik belenggu sosial maupun individual. Dan proyek itu hanya dapat terwujud, menurut Habermas, jika bahasa sebagai alat komunikasi dapat digunakan sebaik-baiknya untuk menciptakan kesepakatan rasional tentang hal-hal yang terkait dengan kehidupan bersama. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dari sini dapatlah disimpulkan tiga konsep yang kiranya menjadi kunci dari seluruh teori kritis, yakni kritik atas kapitalisme, rasionalitas universal, dan cita-cita pembebasan. Menurut Honneth ketiga konsep itu haruslah diterjemahkan untuk membaca kondisi jaman sekarang ini, terutama jika kita secara konsisten mengacu pada dasar-dasar teori kritis klasik, dan tetap mempertahankan semangatnya untuk menganalisis jaman ini. *** </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"><br />
</span></span></div>
<hr size="1" />
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn1"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab ini saya mengacu pada Axel Honneth, “The Social Pathology of Reason: On the Intellectual Legacy of Critical Theory”, dalam </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Cambridge Companion to Critical Theory</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, Cambridge, Cambridge University Press, 2004, hal. 336.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn2"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 337.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn3"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, ibid</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, hal. 338.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn4"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ibid.</span></span></em></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn5"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 339.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn6"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 340.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn7"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[7]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 341.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn8"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[8]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, Reza A.A Wattimena, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Melampaui Negara Hukum Klasik</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, Yogyakarta: Kanisius, 2007.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="123a595ae3cbe6af__ftn9"><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[9]</span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, Honneth, 2004, 356. </span></span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></span></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=190&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/10/teori-kritis-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sparror.cubecinema.com/beingll/archive/aug05/engagement_is_critical.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fenomenologi-Ontologi Martin Heidegger</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/02/fenomenologi-ontologi-martin-heidegger/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/02/fenomenologi-ontologi-martin-heidegger/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 03:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[martin heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[ontologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[

Fenomenologi Ontologi di dalam 
Pemikiran Martin Heidegger


 Reza A.A Wattimena 
Pada bab sebelumnya kita sudah berdiskusi sejenak mengenai fenomenologi yang dirumuskan Edmund Husserl. Ia merumuskan suatu cara untuk memahami realitas, terutama dengan menekankan fenomena keterarahan kesadaran pada obyek yang selalu berada di dalam konteks dunia kehidupan tertentu. Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan anda pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=188&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;"><strong><span><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://www.freewebs.com/m3smg2/MH1950aclip.jpg" border="0" alt="" /></span></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;">Fenomenologi Ontologi di dalam</span></span><span style="font-size:x-large;"> </span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;">Pemikiran Martin Heidegger</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;"><strong><br />
</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;text-indent:0;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:x-large;"> <span style="font-size:large;">Reza A.A Wattimena </span></span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pada bab sebelumnya kita sudah berdiskusi sejenak mengenai fenomenologi yang dirumuskan Edmund Husserl. Ia merumuskan suatu cara untuk memahami realitas, terutama dengan menekankan fenomena keterarahan kesadaran pada obyek yang selalu berada di dalam konteks dunia kehidupan tertentu. Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan anda pada pemikiran Martin Heidegger yang notabene adalah murid dari Husserl. Heidegger mengembangkan filsafat Husserl ke level ontologi, yakni refleksi mengenai realitas keseluruhan sebagai “Ada”. Sebagai acuan teks saya melihat pada tulisan Dorothea Frede yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Questions of Being: Heidegger’s Project</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref1"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Ingatkah anda metode </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">elenchus</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> khas Sokrates yang sudah diterangkan sebelumnya? Jika tidak coba lihat kembali ke bab-bab sebelumnya. Heidegger adalah seorang yang sangat ahli di dalam metode Sokratik. Di dalam kuliah-kuliahnya, ia seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada para pendengar kuliahnya, supaya mereka menjadi bingung, dan mempertanyakan semua asumsi-asumsi pemikiran yang mereka miliki, serta dapat memulai diskusi dengan pemikiran terbuka.</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Proyek utama filsafat Heidegger adalah mempertanyakan makna “ada”. Konsep itu sendiri memang sudah menjadi bagian dari refleksi filsafat selama berabad-abad. Heideggerlah yang kemudian menggunakan kembali konsep tersebut di dalam filsafatnya. Namun apa sesungguhnya arti kata Ada? Apa arti penting dari konsep itu? Di dalam filsafat Heidegger, kata itu sendiri memiliki beragam makna. Salah satu komentator otoritatif atas filsafat Heidegger yang bernama Hubert Dreyfus pernah berpendapat, bahwa Ada adalah latar belakang dari semua tindakan keseharian manusia yang dapat dipahami dengan akal budi. Thomas Sheehan, ahli Heidegger lainnya, berpendapat bahwa konsep Ada merupakan konsep yang mencakup keseluruhan realitas. Ada adalah konsep yang ada di dalam setiap bentuk pengetahuan manusia tanpa terkecuali.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Setiap pemikir besar biasanya memiliki satu ide dasar yang sifatnya revolusioner. Ide dasar ide dasar itu biasanya merupakan jawaban atas suatu pertanyaan yang juga tak kalah revolusioner. Pertanyaan itulah yang nantinya membimbing seluruh refleksi filosofis filsuf besar tersebut. Hal ini kiranya berlaku di dalam filsafat Heidegger. Menurut penelitian yang dibuat oleh Frede, pertanyaan yang menggantung di seluruh filsafat Heidegger sebenarnya adalah, apa maksud sesungguhnya dari konsep Ada? Di dalam filsafat pertanyaan ini berada di ranah ontologi, yakni penyelidikan tentang Ada yang merupakan dasar dari seluruh realitas. Maka dapat juga dikatakan, bahwa filsafat Heidegger berfokus pada ontologi. Namun ontologi Heidegger tidak sama dengan ontologi yang sudah ada sebelumnya. Searah dengan perjalanan waktu, makna dari pertanyaan tentang Ada pun sudah berubah.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref2"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Tentu saja bagi banyak orang, terutama yang tidak berkecimpung secara khusus di dalam dunia filsafat, pertanyaan yang diajukan Heidegger tampak agak bodoh. Jika ditelusuri secara mendalam, konsep Ada sebenarnya ada di dalam setiap hal, seperti</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ada</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> batu, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ada </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">manusia, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ada</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hewan, dan sebagainya. Bahkan dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang menempati ruang dan waktu tertentu di alam semesta ini memiliki </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ada</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Segala sesuatu </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">berada</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Lalu konsep </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ada</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> manakah sebenarnya yang dimaksud Heidegger? Ataukah ia mencari Ada yang mendasari seluruh realitas? Jika dilihat dari karya-karyanya, Heidegger hendak menemukan Ada yang mendasar ada-ada lainnya, yang terdapat memang terdapat di semua hal. Maka dari itu pertanyaan tentang ada haruslah diubah menjadi, apakah yang dimaksud dengan Ada yang mendasari ada-ada lainnya di dalam realitas?</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada tulisan ini saya tidak mau, dan mampu, untuk menelusuri karya-karya Heidegger seutuhnya. Di dalam tulisan ini, saya akan mencoba memasuki ontologi Heidegger, yakni problem tentang Ada yang digelutinya, sambil mencoba mengkaitkan dengan gurunya yang juga merupakan bapak fenomenologi, yakni Edmund Husserl. Selain itu Heidegger juga banyak mendasarkan pikirannya pada filsafat Yunani Kuno. Ia banyak mendapatkan inspirasi dari mereka di dalam prosesnya mempertanyakan makna ada, walaupun nantinya Heidegger akan mengembangkan rumusannya sendiri. Menurut penelitian Frede ketertarikan Heidegger pada masalah Ada dan ontologi secara keseluruhan dimulai, ketika ia membaca tulisan Franz Brentano yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">On the Several Sense of Being in Aristotle</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Apa sebenarnya hubungan Heidegger dengan para filsuf Yunani Kuno, terutama di dalam prosesnya untuk memahami Ada?</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Heidegger Muda</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Salah seorang filsuf Yunani Kuno yang terbesar, Aristoteles, pernah berusaha mendefinisikan ontologi, yakni sebagai ilmu tentang ada (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">science of being</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">).</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref3"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Bahkan sebelum filsafat Yunani Kuno berkembang, konsep Ada sudah memperoleh porsi besar di dalam refleksi para pemikir. Mereka kerap menyebutnya sebagai “apa yang sesungguhnya”, atau “dasar”. Konsep Ada melibatkan dua hal yang sangat penting di dalam diri seorang pemikir, yakni kemampuan berabstraksi, yakni menarik apa yang sama dari segala sesuatu yang berbeda di dalam realias, dan kemampuan refleksi, yakni menilai diri sendiri dan berpikir secara mendalam. Para filsuf Yunani Kuno juga ingin bertanya, apakah Ada itu sesuatu yang tunggal atau jamak? Apakah ada itu satu atau banyak?</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut Frede orang yang pertama  kali mengajukan pertanyaan tentang Ada secara sistematik adalah Plato. Ia melakukan perdebatan tentang konsep Ada dengan para sofis, yakni para pengajar retorika. Kaum sofis sendiri tidak percaya adanya kebenaran mutlak. Bagi mereka segala sesuatu sifatnya relatif di muka bumi ini. Maka dari itu hal yang salah bisa jadi benar, dan sebaliknya, selama orang mampu memberikan argumentasi tentangnya. Bagi Plato sendiri problematika terkait dengan Ada adalah problem </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">gigantotnacbia</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, yang berarti problem para raksasa pemikiran. Heidegger sendiri sadar akan hal ini. Namun pemikir yang sungguh-sungguh memberikan pengaruh besar di dalam ontologi, ilmu tentang Ada, adalah Aristoteles, murid Plato. Heidegger sendiri memang banyak berpijak pada pemikiran Aristoteles. Ia juga berpendapat bahwa seluruh sejarah pemikiran manusia adalah sejarah kelupaan akan ada (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">forgetfulness of being</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">).</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di dalam tulisan-tulisannya, Aristoteles membedakan beragam ada seturut kategori pengertiannya. Kategori utama adalah substansi (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">substance</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), yakni sesuatu yang sifatnya cukup diri; tidak membutuhkan suatu apapun di luar dirinya. Beragam kategori lainnya berada di dalam ataupun dalam hubungan dengan substansi tersebut. Kategori-kategori itu adalah kuantitas, kualitas, relasi, ruang, waktu, tindakan, afeksi, posisi, dan kepemilikan. Misalnya anda melihat sebuah batu. Batu baru sungguh bermakna bagi manusia, jika ia dikenakan predikat. Dan setiap predikat selalu merupakan salah satu dari kategori-kategori Ada lainnya, baik kuantitas, kualitas, ruang, dan sebagainya. Dalam arti ini menurut Aristoteles, kategori-kategori Ada bukanlah ciptaan manusia, melainkan sudah selalu berada di dalam realitas yang tersusun secara logis. Kategori ada adalah realitas, dan bukan konstruksi pikiran manusia.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dengan posisinya itu Aristoteles dapat dikategorikan sebagai seorang realis metafisikus. Ia mengakui keberadaan obyektif dari kategori-kategori Ada, maka ia disebut sebagai seorang realis. Dan ia menjadikan konsep Ada sebagai pusat penyelidikannya, maka ia disebut sebagai seorang metafisikus. Seluruh alam semesta menurutnya terdiri dari struktur-struktur obyektif dari Ada. Inti dari struktur obyektif itu adalah substansi. Semua bentuk kategori lainnya menempel pada substansi tersebut. Dalam arti ini juga, tidak ada kesatuan utuh di dalam konsep Ada, karena konsep Ada itu sendiri terdiri dari substansi dan predikat-predikat dari substansi tersebut, seperti kualitas, kuantitas, dan sebagainya. Tidak ada kesatuan ada (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">unified of being</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Yang ada adalah analogi dari berbagai bentuk kategori Ada.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di dalam filsafat selanjutnya, konsep substansi menjadi tema sentral di dalam seluruh refleksi filsafat, terutama metafisika. Heidegger pun menjadi salah satu filsuf yang bergulat dengan tema ini. Baginya konsep ada di dalam filsafat Aristoteles masihlah kosong. Kekosongan itu diisi oleh para filsuf abad pertengahan dengan ajaran-ajaran Kristiani, seperti yang misalnya dilakukan dengan sangat mengagumkan oleh Thomas Aquinas. Pada filsuf neothomisme di abad kedua puluh juga masih mengacu pada Aristoteles di dalam refleksi mereka tentang substansi.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref4"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Heidegger sendiri pun membutuhkan waktu lama untuk melampaui tradisi berpikir Aristotelian ini. Bahkan menurut Frede tulisan-tulisan Heidegger sebelum </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, seperti pada </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Doctrine of Judgment in Psychologism</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> (yang merupakan disertasi doktoralnya) dan </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Theory of Categories and Meaning of Duns Scotus</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, tidak menunjukkan orisinalitas ataupun pemikiran-pemikiran revolusioner. Andaikata ia puas dengan karya-karya itu, tentu saja namanya tidak akan dikenal sebagai salah satu filsuf terbesar sepanjang sejarah. Dan kita tentunya tidak akan menjadikan pemikirannya sebagai tema diskusi.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Walaupun tidak dianggap sebagai sesuatu yang revolusioner, pemikiran-pemikiran Heidegger muda sebenarnya juga mengandung argumen yang kuat. Ia berpendapat bahwa makna dari kesadaran manusia tidak akan pernah bisa didapatkan hanya dengan sekedar mengamati realitas dengan panca indera. Argumen ini membawanya kepada fenomenologi Edmund Husserl. Kesadaran manusia berbeda dengan apa yang disadarinya sebagai ada. Dalam hal ini kita perlu membedakan isi pikiran itu sendiri, dengan obyek dari pikiran tersebut. Orang bisa berpikir tentang makanan. Namun satu hal yang pasti, bahwa pikiran itu sendiri bukanlah makanan. Arti dari pikiran berbeda dengan tindak berpikir. Begitu pula konsep Ada itu sendiri berbeda dengan ada-ada lainnya yang melekat di dalam segala sesuatu yang ada di dalam realitas.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Sewaktu muda pikiran Heidegger belum menyentuh upaya untuk merumuskan konsep Ada sebagai sesuatu yang utuh dan universal. Ia masih melihat ada sebagai sesuatu yang melekat pada benda-benda lainnya. Perkembangan pesat di dalam pemikiran Heidegger muncul, ketika ia menyelesaikan karya keduanya, yakni tentang pemikiran Duns Scotus. Heidegger tertarik pada pemikiran Duns Scotus, karena ia adalah filsuf pertama yang menolak sistem kategori dan substansi Aristoteles. Bagi Scotus sistem Aristoteles tidaklah mencukupi untuk memahami konsep Tuhan. Memang Scotus adalah seorang filsuf abad pertengahan yang berusaha memberikan pemahaman rasional terhadap konsep Tuhan. Baginya Tuhan tidak sama dengan substansi. Kebaikan Tuhan juga tidak sama dengan kebaikan di dalam benda-benda lainnya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut Heidegger pemikiran Scotus sudah membuka kemungkinan untuk mengembangkan refleksi tentang Ada yang sama sekali baru. Dalam arti ini ada tidak hanya berlaku untuk benda-benda, tetapi juga untuk manusia. Dengan kata lain ada menjadi bagian dari seluruh realitas, termasuk realitas hakiki manusia. Pertanyaan tentang ada bergeser menjadi pertanyaan tentang relasi antara manusia dengan dunia. Bagi Scotus relasi antara dunia dan manusia melibatkan konsep subyektivitas. Subyektivitas membuat manusia mampu memaknai dunianya, dan proses pemaknaan itu selalu melibatkan jaringan makna yang lebih luas. Tugas filsuf menurut Heidegger adalah menjelaskan jaringan makna yang melatarbelakangi tindak pemaknaan atas dunia tersebut. Jaringan makna itu adalah struktur dari realitas. Itulah Ada.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref5"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Namun menurut Scotus konsep ada berbeda-beda untuk setiap hal. Ia kemudian membedakan dua hal, yakni ada dari alam (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">being of nature</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dan ada dari akal budi (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">being of reason</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Dalam arti ini kebenaran yang ada di dalam akal budi tidak otomatis sama dengan kebenaran yang ada di dalam alam. Pikiran adalah penanda. Sementara benda di alam adalah petanda. Penanda dan petanda memang berhubungan, tetapi tidak selalu sama. Tanda untuk menunjukkan dilarang merokok tidak harus sama dengan orang yang ingin dilarang untuk merokok bukan? Dalam hal ini Heidegger sependapat dengan Scotus. Heidegger pun menolak teori cermin tentang realitas. Ia menolak bahwa pikiran kita sungguh mencerminkan apa yang ada di dalam realitas.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Satu hal dari pemikiran Scotus yang kiranya sungguh mempengaruhi Heidegger adalah, bahwa walaupun pikiran dan realitas itu tidak selalu sama, namun keberadaan realitas itu sendiri ditentukan oleh pengertian subyek tentangnya. Inilah yang disebut sebagai subyektivitas yang obyektif (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">objective subjectivity</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Yang obyektif adalah adalah yang diberikan sebagai obyektif (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">object-givenness</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) oleh bahasa kepada pikiran manusia. Di dalam karya terbesarnya yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, Heidegger menitikberatkan keterkaitan antara bahasa, penafsiran, dan alam obyektif. Pemahaman manusia tidak pernah merupakan pemahaman tentang dunia pada dirinya sendiri, melainkan selalu sudah dijembatani oleh bahasa dan penafsiran. Dan penafsiran maupun bahasa selalu sudah tertanam di dalam jaringan makna kultural tertentu.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><em><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lalu apa beda filsafat Heidegger dengan filsafat tradisional lainnya yang banyak berbicara tentang ada? Ada jarak waktu 12 tahun sebelum Heidegger menulis karya terbesarnya yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> dari karya sebelumnya. Menurut Frede gaya berfilsafat Heidegger di dalam </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> sangat dipengaruhi oleh pemikiran Edmund Husserl. Namun walaupun berhutang pada Husserl, Heidegger tetap memiliki banyak perbedaan argumen dengannya. Setidaknya ada dua bentuk pengaruh Husserl yang sangat jelas di dalam pemikiran Heidegger. Yang pertama Heidegger sendiri sudah mengakui, bahwa ia sangat terpengaruh oleh buku karangan Husserl yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Logical Investigations. </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pada waktu ia bertemu secara langsung dengan Husserl, Heidegger kemudian menyadari betul peran fenomenologi di dalam persoalan tentang ada. Dalam arti ini bisa juga dikatakan, bahwa </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> adalah upaya Heidegger untuk menerapkan metode fenomenologi untuk memahami ada.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref6"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Walaupun sudah dibahas pada bab sebelumnya, ada baiknya kita mengingat kembali inti dari fenomenologi Husserl. Salah satu konsep kunci di dalam fenomenolog Husserl adalah intensionalitas. Menurutnya setiap aktivitas manusia, baik fisik maupun mental, seperti berpikir, selalu mengarah pada suatu fenomena obyektif di luar dirinya. Dalam arti ini kesadaran tidak pernah kesadaran pada dirinya sendiri, melainkan kesadaran akan sesuatu. Setiap obyek di luar diri manusia hanya bisa dipahami sejauh obyek tersebut dipahami oleh kesadaran. Jika ingin memahami hakekat dari semua benda-benda yang ada di dunia, maka kita harus melihat kaitannya obyek itu dengan kesadaran manusia yang mempersepsinya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Husserl juga berpendapat bahwa isi dari kesadaran adalah sesuatu yang murni, atau yang disebutnya sebagai aku murni (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">pure I</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Aku murni adalah dasar dari pengetahuan. Sementara fakta-fakta dunia hanyalah kemungkinan. Jika kita ingin mengetahui hakekat dari obyek di luar diri kita, maka yang harus kita lakukan justru adalah memahami kesadaran yang membuat kita bisa mengetahui obyek tersebut. Husserl berpendapat bahwa inti dari filsafat bukalah obyek empiris, melainkan isi dari kesadaran manusia. Dalam arti ini filsafat, terutama fenomenologi Husserl, memang menjadi pendekatan yang berpusat pada ego manusia.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Husserl dapat dianggap sebagai seorang filsuf subyektivis transendental (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">transcendental subjectivist</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Subyektivisme transendental sendiri adalah paham yang berpendapat, bahwa subyektivitas merupakan sumber dari semua bentuk pengetahuan, pikiran, dan pengalaman manusia. Lalu dimanakah tempat dunia eksternal? Husserl masih memberikan tempat besar bagi dunia fisik eksternal. Namun di dalam fenomenologi, dunia eksternal berusaha ditunda terlebih dahulu, sehingga pemahaman subyek tentang dunianya bisa tampak. Yang menjadi fokus utama fenomenologi adalah pengalaman subyek dan isi kesadarannya, ketika berusaha memahami dunia.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Heidegger setuju dengan Husserl, ketika ia menyatakan bahwa ada dari benda-benda terletak di dalam pengertian manusia tentang benda-benda tersebut. Namun setidaknya ada empat hal dari pemikiran Husserl yang tidak disetujui oleh Heidegger. </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang pertama</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">adalah ia tidak setuju dengan kecenderungan Husserl untuk memusatkan seluruh analisisnya pada manusia sebagai subyek. Fakta bahwa manusia bisa sadar akan sesuatu tidak menjamin, bahwa ia memahaminya secara utuh. Di dalam tulisan-tulisannya, Heidegger menunjukkan bahkan pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri juga bisa jatuh dalam kesalahan.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref7"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang kedua</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Heidegger tidak setuju dengan konsepsi Husserl tentang “menaruh di dalam kurung”. Tidak mungkin manusia bisa menaruh di dalam kurung pertimbangan-pertimbangannya tentang dunia eksternal. Sebaliknya pertimbangan-pertimbangan itu harusnya dijadikan bagian utuh dari proses penafsiran manusia atas dunianya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><em><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang ketiga</span></span></span></em><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> menurut Heidegger, filsafat Husserl nantinya akan terkurung ke dalam subyektivisme, yakni paham yang berpendapat bahwa dunia luar berada di dalam diri manusia. Memang Husserl mengatakan bahwa kesadaran selalu terarah pada obyek, dan keberadaan obyek sangatlah tergantung pada kesadaran manusia. Paham itu bisa dengan mudah digeser menjadi pernyataan, bahwa obyek, atau dunia luar itu sendiri, berada di dalam kesadaran manusia.</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Yang keempat</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> bagi Heidegger, fenomenologi Husserl masih terjebak pada filsafat tradisional, yakni bahwa kesadaran adalah sesuatu yang bisa diselidiki dengan cara menciptakan refleksi yang berjarak dari manusia itu sendiri. Penolakan terhadap pandangan-pandangan Husserl ini membantu Heidegger merumuskan pandangannya sendiri di dalam karya terbesarnya, yakni </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref8"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[8]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Buku </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> memiliki dua proyek dasar. Yang pertama adalah proyek untuk merumuskan cara baru dalam menafsirkan seluruh sejarah filsafat. Yang kedua adalah klarifikasi konsep ada itu sendiri. Proyek yang kedua memang telah lama menjadi obsesi pribadi Heidegger. Dalam bahasa teknis Heidegger, kedua proyek itu disebut juga sebagai </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ontological Analytic of Dasein as Laying Bare the Horizon for an Interpretation of the Meaning of Being in General</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> dan</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Destroying the History of Ontology</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Karena Heidegger sendiri memang terobsesi dengan proses untuk menghancurkan ontologi, maka saya, dengan mengacu pada Frede, akan menerangkan proyek ini terlebih dahulu. Tidak ada nuansa kekerasan di dalam pemikiran Heidegger, walaupun ia memang menggunakan kata </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Desttuktion</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Di dalam bahasa Jerman, arti kata itu agak berbeda dengan terjemahan Inggrisnya, yakni </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">destruction</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Kata</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Desttuktion</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> lebih berarti suatu upaya untuk membuktikan adanya kesalahan berpikir di dalam filsafat Kant, Descartes, dan Aristoteles. Kesalahan berpikir itu bukanlah sesuatu yang disengaja, namun memang tak terhindarkan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Menurut Heidegger seluruh sejarah metafisika dan ontologi di dalam filsafat barat mengalami apa yang disebutnya kelupaan akan ada (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">forgetfulness of being</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Para filsuf berpikir bahwa ada itu tidak memiliki konsep yang konkret, dan juga bahwa ada hanya bisa dipahami melalui pengada-pengada, seperti manusia, tuhan, konsep-konsep, dan sebagainya. Cara berpikir ini sebenarnya sudah dimulai sejak Aristoteles. Bagi Aristoteles segala sesuatu yang tidak memiliki kategori-kategori ada, seperti kualitas, kuantitas, substansi, dan sebagainya, berarti tidak bisa diketahui. Maka dari itu seperti sudah ditulis sebelumnya, Ada hanya dapat diketahui melalui benda-benda konkret di dalam realitas.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref9"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[9]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Heidegger juga tidak setuju dengan pandangan tradisional yang mengatakan bahwa ada merupakan konsep yang independen dari pikiran manusia. Baginya inilah sebab kebuntuan berbagai refleksi filsafat tentang ada di dalam sejarah, yakni ketika ada dipandang sebagai obyek yang keberadaannya dapat dilepaskan dari manusia sebagai sosok pengamat. Filsafat Descartes dan Kant, yang memang sangat berpusat pada subyek, juga tidak mengurangi kesulitan di dalam memahami ada tersebut. Manusia seolah adalah subyek yang memandang dunia sebagai obyek secara berjarak. Jika manusia adalah subyek yang terpisah dari dunia sebagai obyeknya, maka bagaimana ia bisa tahu mengenai dunianya? Ini adalah salah satu tema penting di dalam epistemologi, yakni refleksi filsafat pengetahuan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pertanyaan yang juga muncul dari argumen ini adalah, bagaimana kita bisa menjamin kebenaran, jika pengetahuan hanya merupakan impresi dari subyek atas dunia? Kant dengan filsafatnya hendak menjawab pertanyaan itu. Namun ia sendiri tampaknya masih terjebak pada konsep benda-pada-dirinya-sendiri. Konsep ini seolah tidak bisa dipahami, karena berada di luar pemahaman manusia. Jadi walaupun konsep benda-pada-dirinya-sendiri tidak bisa diketahui, namun di dalam pemikiran Kant, konsep itu menempati peran yang sangat penting di dalam proses pembentukan realitas itu sendiri. Dengan tidak jelasnya konsep itu, bagi Heidegger, filsafat Kant belum secara radikal memberikan terobosan di dalam ontologi dan metafisika.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Heidegger lebih jauh berpendapat, bahwa seluruh problem di dalam filsafat modern muncul, karena terpisahnya subyek, yakni manusia, dari obyek, yakni dunia yang dipersepsinya. Inilah yang disebut Heidegger sebagai ‘membelah dan menghancurkan fenomena’ (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">splitting asunder of the phenomena</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Keterpisahan subyek manusia dan dunia obyektif yang dipersepsinya adalah penyebab utama dari begitu banyak problem di dalam filsafat yang tidak terselesaikan secara tuntas.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref10"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Heidegger juga menyebut sikap ini sebagai sikap alamiah (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">natural way</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) yang mengisolasi obyek dari subyek, dan sebaliknya. Sikap berjarak memang diperlukan, baik di dalam refleksi filsafat yang mendalam maupun di dalam ilmu pengetahuan. Namun orang tetap harus ingat, bahwa sikap berjarak itu sifatnya artifisial, yakni hanya untuk memperoleh pengetahuan dari satu sisi saja, dan tidak dari keseluruhan aspek.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di dalam ilmu-ilmu positivis, seperti psikologi positivistik, seorang pengamat dianggap memiliki status istimewa terhadap obyek yang diamati. Cara pandang positivistik ini menganggap obyek, yang sering juga adalah manusia itu sendiri, adalah subyek yang tidak memiliki dunia (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">worldless</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Cara pandang semacam inilah yang ingin ditentang secara keras oleh Heidegger. Baginya manusia yang merupakan subyek pengamat adalah bagian dari dunia yang sama dari obyek yang diamati, yakni dunia. Manusia adalah mahluk yang selalu ada di dunia (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">being in the world</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) bersama dengan benda-benda fisik maupun mahluk hidup lainnya. Konsekuensinya manusia adalah mahluk yang ada bersama (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">being among</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dan terlibat (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">involve</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dengan dunia yang sudah selalu ada. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Namun sampai akhir hidupnya, Heidegger tidak pernah menyelesaikan proyek destruksi metafisikanya. Buku yang membuat pemikirannya dikenal banyak orang, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, tidak pernah selesai. Niat Heidegger untuk melakukan destruksi metafisika-ontologi, dan sekaligus mengajukan suatu cara baru untuk memahami Ada tampaknya memang tidak akan pernah tercapai. Pada bagian kedua </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, ia sendiri berniat untuk membalikkan proyek buku itu, yakni menjadi </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Time and Being</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Namun tampaknya ia tidak pernah bisa menyelesaikan proses penulisannya, dan segera beralih ke tema-tema filosofis lainnya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di dalam </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, Heidegger hendak memahami ada dari seluruh realitas dalam artinya yang paling dinamis, sesuai dengan perkembangan dan perubahan realitas itu sendiri. Di dalam metafisika-ontologi tradisional, konsep ada tidak dipahami dalam temporalitas waktu. Padahal konsep waktu seperti yang selalu ditekankan Heidegger sangat terkait dengan konsep ada itu sendiri. Untuk mengubah pemahaman tentang ada itu sendiri, Heidegger lalu mencoba memahami ada melalui mahluk yang mampu memikirkan dan menanyakan ada, yakni manusia sendiri. Bagi Heidegger manusia bukanlah entitas yang terisolasi, ataupun tidak memiliki dunia sebagai latar belakangnya. Manusia adalah mahluk yang dari dasar dan hakekatnya sudah dibentuk oleh dunia.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Dalam arti ini dapatlah dikatakan, bahwa modus mengada (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">modes of being</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dari manusia adalah ada-bersama-dunia, ada-di-dalam-dunia, dan sekaligus ada-disana. Namun ketiga modus mengada itu pun belum mencukupi. Modus mengada hanya berlaku untuk manusia yang menanyakan ada, dan bukan untuk ada itu sendiri. Di dalam</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Being and Time</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, Heidegger memang banyak menganalisis tentang manusia sebagai mahluk penanya ada, dan bukan ada itu sendiri. Jika Heidegger tidak melanjutkan refleksi filsafatnya, maka sebenarnya ia tidak beranjak jauh dari pemikiran Husserl. Heidegger hanya melukiskan modus mengada manusia dalam kaitannya dengan dunia, tanpa menusuk langsung ke pertanyaan tentang ada itu sendiri, yang seharusnya menjadi inti dari proyek filosofisnya.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref11"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[11]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Namun untungnya filsafat Heidegger maju lebih jauh. Ia pertama-tama memperkenalkan konsep perawatan/memelihara (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">care</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Memelihara sendiri adalah relasi dasar antara manusia dengan alam. Karena manusia selalu berada di dalam relasi keterlibatan (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">involvement</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dengan alam, maka sudah selayaknya ia ikut merawat dan memelihara alam itu sendiri. Tindak memelihara disini bukanlah tindakan amal, melainkan sudah melambangkan relasi fundamental antara manusia dengan alam, dan sebaliknya. Heidegger juga berpendapat bahwa manusia adalah bagian dari alam keseluruhan, karena ia selalu ada-di-dalam-dunia (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">being in the world</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Jadi manusia dan alam berada di dalam kesatuan ontologis yang utuh serta tak terpisahkan. Maka dari itu sikap yang tepat dari manusia terhadap alam adalah sikap yang memperlakukan alam sebagai bagian dari diri manusia itu sendiri. “Kita”, demikian tulis Frede dalam tulisannya tentang Heidegger, “memproyeksikan diri kita sendiri, seluruh eksistensi kita, ke dalam dunia dan memahami diri kita dan semua hal di dunia ini dalam bentuk kemungkinan bentukan kita tentang diri kita sendiri.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftnref12"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[12]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Manusia dan alam adalah satu, karena gambaran tentang dunia adalah gambaran manusia tentang dunia. Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Segala sesuatu bisa diketahui, karena manusia memaknainya. Dan makna itu bisa diterima, karena kita, manusia, adalah bagian dari pemaknaan itu sendiri. Di dalam dunia manusia membangun dan mencipta ulang dirinya sendiri. Segala sesuatu yang bermakna bagi manusia juga sudah selalu terletak di dalam dunia. Manusia dan dunia adalah suatu proyek. Proyek adalah suatu harapan akan masa depan. Harapan akan masa depan itu tidak didasarkan pada kekosongan, melainkan pada pengertian kita tentang dunia yang ada sekarang ini. Masa lalu memang mempengaruhi manusia, namun manusia tetap terikat dan tertanam di dalam masa kini. Kekinian itulah dunia (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">world</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) yang mengikat dan memberikan makna bagi kehidupan kita sehari-hari. Manusia terhisap di dalam temporalitas kekinian, dan kekinian itulah yang mengikat manusia dengan dunia. Manusia selalu terlibat dengan dunia di dalam kekiniannya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Inilah inti dari konsep temporalitas (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">temporality</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) di dalam filsafat Heidegger. Dengan konsep itu ia tidak hanya mau mengatakan, bahwa manusia itu adalah mahluk yang hidup dalam waktu, atau memiliki intuisi tentang waktu, melainkan bahwa manusia hidup dalam tiga dimensi waktu sekaligus, yakni berharap untuk masa depan, mengingat apa yang sudah berlalu, dan terhisap serta terikat di dalam kekinian (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">presentness</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Keserentakan dari ketiga momen itu, yakni yang lalu, sekarang, dan masa depan, itulah yang disebut sebagai temporalitas, menurut Heidegger. Dalam arti ini kekinian murni (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">here and now</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) adalah suatu ilusi, karena manusia tidak pernah berada di dalam kekinian murni, melainkan selalu sudah menghidupi dirinya dalam ketiga momen, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Fenomenologi sebagai Ontologi</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dalam arti apakah fenomenologi menjadi ontologi di tangan Heidegger? Fenomenologi adalah ilmu tentang fenomena. Secara spesifik fenomenologi ingin kembali kepada obyek itu sendiri. Artinya fenomenologi menolak semua rumusan teori, asumsi, maupun prasangka yang seringkali justru mengaburkan proses untuk mencapai pengetahuan. Fenomenologi ingin memahami esensi dari kesadaran manusia sebagaimana dilihat dari sudut pandang orang pertama. Di tangan Husserl fenomenologi menjadi suatu displin tersendiri yang berbeda dari ilmu-ilmu manusia lainnya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Heidegger melihat potensi besar di dalam fenomenologi. Namun ia tidak lagi menggunakannya semata untuk memahami esensi kesadaran manusia. Fokus dari filsafat Heidegger adalah untuk memahami ada. Jadi dia menerapkan fenomenologi untuk memahami ada. Dalam arti inilah fenomenologi berubah menjadi ontologi. Untuk memahami ada Heidegger awalnya mencoba memahami mahluk penanya ada, yakni manusia itu sendiri, yang selalu berelasi dengan dunia. Manusia dan dunia adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Manusia dan dunia itulah ada itu sendiri. Ada yang tidak terjebak pada ada-ada lainnya di dalam realitas, melainkan ada yang menjadi realitas itu sendiri. Filsafat Heidegger adalah suatu upaya untuk memahami Ada yang menyingkapkan dirinya.***</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"><br />
</span></span></div>
<hr size="1" />
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn1"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab ini saya mengacu pada Dorothea Frede, “The Questions of Being: Heidegger’s Project”, dalam </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Cambridge Companion to Heidegger, </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Cambridge, Cambridge University Press, 1993.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn2"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, Frede, 1993, hal. 41.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn3"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 45.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn4"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 46.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn5"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 49.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn6"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Bdk, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, hal. 52.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn7"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 53.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn8"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[8]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid.</span></span></em></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn9"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[9]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 60.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn10"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid, </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">hal. 61.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn11"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[11]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 63.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12378aa169189779__ftn12"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[12]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Ibid, hal. 64. </span></span></p>
</div>
</div>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=188&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/09/02/fenomenologi-ontologi-martin-heidegger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.freewebs.com/m3smg2/MH1950aclip.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fenomenologi Edmund Husserl</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/19/fenomenologi-edmund-husserl/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/19/fenomenologi-edmund-husserl/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 18:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/19/fenomenologi-edmund-husserl/</guid>
		<description><![CDATA[

Bab 
7 
Fenomenologi Edmund Husserl


Reza A.A Wattimena
 
Pada bab sebelumnya kita sudah berdiskusi soal gaya aphorisme di dalam filsafat Nietzsche. Ia mengajarkan kita untuk berani menembus batas-batas rasionalitas itu sendiri, dan membuka tabir-tabir pemikiran baru yang belum tersentuh sebelumnya. Pada bab ini saya ingin mengajak anda berdiskusi mengenai metodologi berpikir di dalam filsafat Husserl, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=186&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"><strong><span><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://broodsphilosophy.files.wordpress.com/2006/04/Husserl.jpg" border="0" alt="" /></span></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Bab</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">7</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Fenomenologi Edmu<span style="font-family:arial, sans-serif;font-size:13px;font-weight:normal;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">nd Husserl</span></span></span></strong></span></span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"><strong><br />
</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><strong><span style="font-size:large;">Reza A.A Wattimena</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pada bab sebelumnya kita sudah berdiskusi soal gaya aphorisme di dalam filsafat Nietzsche. Ia mengajarkan kita untuk berani menembus batas-batas rasionalitas itu sendiri, dan membuka tabir-tabir pemikiran baru yang belum tersentuh sebelumnya. Pada bab ini saya ingin mengajak anda berdiskusi mengenai metodologi berpikir di dalam filsafat Husserl, yang banyak juga dikenal sebagai fenomenologi. Metode ini sangat penting di dalam filsafat, dan juga di dalma penelitian ilmu-ilmu sosial. Di dalam pemikiran Husserl, fenomenologi tidak hanya berhenti menjadi metode, tetapi juga mulai menjadi ontologi. Muridnya yang bernama Heideggerlah yang nantinya akan melanjutkan proyek itu. Pada bab ini saya mengacu pada tulisan David W. Smith tentang Husserl di dalam bukunya yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Husserl</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftnref1"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Cita-cita Husserl adalah membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">science of consciousness</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Akan tetapi pendekatan fenomenologi berusaha dengan keras membedakan diri dari epistemologi tradisional, psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri. Namun sampai sekarang definisi jelas dan tepat dari fenomenologi belum juga dapat dirumuskan dan dimengerti, bahkan oleh orang yang mengklaim menggunakannya. Oleh karena itu dengan mengacu pada tulisan Smith, saya akan coba memberikan definisi dasar tentang fenomenologi, sekaligus mencoba memberi contoh penerapannya. Setelah itu saya akan mengajak anda untuk memahami latar belakang teori fenomenologi Husserl yang memang secara langsung diinspirasikan oleh Frans Bretagno, terutama pemikirannya soal psikologi deskriptif. Lalu masih mengacu pada tulisan Smith, saya akan mengajak anda memahami teori tentang kesadaran, terutama konsep kuncinya yang disebut sebagai intensionalitas. Intensionalitas sendiri berarti kesadaran yang selalu mengarah pada sesuatu (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">consciousness on something</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), seperti kesadaran akan waktu, kesadaran akan tempat, dan kesadaran akan eksistensi diri sendiri. Selanjutnya kita akan berdiskusi tema-tema yang lebih spesifik di dalam filsafat Husserl, seperti pemikirannya tentang logika, ontologi, dan filsafat transendental.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftnref2"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Arti Fenomenologi</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut Smith fenomenologi Husserl adalah sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Ketika anda bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dengan demikian fenomenologi adalah upaya untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subyektif orang terkait. Pendekatan ini tentu saja <span style="font-family:arial, sans-serif;font-size:13px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">berbeda dengan pendekatan ilmu pengetahuan saraf (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">neuroscience</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), yang berusaha memahami cara kerja kesadaran manusia di dalam otak dan saraf, yakni dengan menggunakan sudut pandang pengamat. Neurosains lebih melihat fenomena kesadaran sebagai fenomena biologis. Sementara deskripsi fenomenologis lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Walaupun berfokus pada pengalaman subyektif orang pertama, fenomenologi tidak berhenti hanya pada deskripsi perasaan-perasaan inderawi semata. Pengalaman inderawi hanyalah titik tolak untuk sampai makna yang bersifat konseptual (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">conceptual meaning</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), yang lebih dalam dari pengalaman inderawi itu sendiri. Makna konseptual itu bisa berupa imajinasi, pikiran, hasrat, ataupun perasaan-perasaan spesifik, ketika orang mengalami dunianya secara personal.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Jika fenomenologi berfokus pada pengalaman manusia, lalu apa kaitan fenomenologi dengan psikologi sebagai ilmu tentang perilaku manusia? Husserl sendiri merumuskan fenomenologi sebagai tanggapan kritisnya terhadap psikologi positivistik, yang menolak eksistensi kesadaran, dan kemudian menyempitkannya semata hanya pada soal perilaku. Oleh sebab itu menurut Smith, fenomenologi Husserl lebih tepat disebut sebagai psikologi deskriptif, yang merupakan lawan dari psikologi positivistik.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di dalam fenomenologi konsep makna (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">meaning</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) adalah konsep yang sangat penting. “Makna”, demikian tulis Smith tentang Husserl, “adalah isi penting dari pengalaman sadar manusia..”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftnref3"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pengalaman seseorang bisa sama, seperti ia bisa sama-sama mengendari sepeda motor. Namun makna dari pengalaman itu berbeda-beda bagi setiap orang. Maknalah yang membedakan pengalaman orang satu dengan pengalaman orang lainnya. Makna juga yang membedakan pengalaman yang satu dan pengalaman lainnya. Suatu pengalaman bisa menjadi bagian dari kesadaran, juga karena orang memaknainya. Hanya melalui tindak memaknailah kesadaran orang bisa menyentuh dunia sebagai suatu struktur teratur (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">organized structure</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Namun begitu menurut Husserl, makna bukanlah obyek kajian ilmu-ilmu empiris. Makna adalah obyek kajian logika murni (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">pure logic</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Pada era sekarang logika murni ini dikenal juga sebagai semantik (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">semantics</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Maka dalam arti ini, fenomenologi adalah suatu sintesis antara psikologi, filsafat, dan semantik (atau logika murni). </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Bagi Husserl fenomenologi adalah suatu bentuk ilmu mandiri yang berbeda dari ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Dengan fenomenologi Husserl mau menantang semua pendekatan yang bersifat biologis-mekanistik tentang kesadaran manusia, seperti pada psikologi positivistik maupun pada neurosains. Ia menyebut fenomenologi sebagai ilmu pengetahuan transendental (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">transcendental science</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), yang dibedakan dengan ilmu pengetahuan naturalistik (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">naturalistic science</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), seperti pada fisika maupun biologi. Dan seperti sudah disinggung sebelumnya, perbedaan utama fenomenologi dengan ilmu-ilmu alam, termasuk psikologi positivistik, adalah peran sentral makna di dalam pengalaman manusia (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">meaning in experience</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Fenomenologi tidak mengambil langkah observasi ataupun generalisasi di dalam penelitian tentang manusia, seperti yang lazim ditemukan pada psikologi positivistik.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Cita-cita Husserl adalah mengembangkan fenomenologi sebagai suatu displin ilmiah yang lengkap dengan metode yang jelas dan akurat. Di dalam ilmu-ilmu alam, seperti kimia, fisika, dan biologi, kita mengenal adalah metode penelitian ilmu-ilmu alam yang sifatnya empiris dan eksperimental. Inti metode penelitian ilmu-ilmu alam adalah melakukan observasi yang sifatnya sistematis, dan kemudian menganalisisnya dengan suatu kerangka teori yang telah dikembangkan sebelumnya. Husserl ingin melepaskan diri dari cara berpikir yang melandasi metode penelitian semacam itu. Baginya untuk memahami manusia, fenomenologi hendak melihat apa yang dialami oleh manusia dari sudut pandang orang pertama, yakni dari orang yang mengalaminya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di dalam kerangka berpikir ini, seorang ilmuwan sekaligus adalah sekaligus peneliti dan yang diteliti. Ia adalah subyek sekaligus obyek dari penelitian. Dan seperti sudah ditegaskan sebelumnya, fenomenologi adalah cara untuk memahami kesadaran manusia dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun menurut penelitian Smith, Husserl membedakan tingkat-tingkat kesadaran (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">state of consciousness</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Yang menjadi fokus fenomenologi bukanlah pengalaman partikular, melainkan struktur dari pengalaman kesadaran, yakni realitas obyektif yang mewujud di dalam pengalaman subyektif orang per orang. Konkretnya fenomenologi berfokus pada  makna subyektif dari realitas obyektif di dalam kesadaran orang yang menjalani aktivitas kehidupannya sehari-hari. Dalam kosa kata Husserl, “obyek kesadaran sebagaimana dialami.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftnref4"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Fenomenologi Husserlian adalah ilmu tentang esensi dari kesadaran. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan esensi dari kesadaran? Berdasarkan penelitian Smith fenomenologi Husserl dibangun di atas setidaknya dua asumsi</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Yang pertama</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah satu ekspresi dari kesadaran. Seseorang mengalami sesuatu. Ia sadar akan pengalamannya sendiri yang memang bersifat subyektif. Dan </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">yang kedua</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, setiap bentuk kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu. Ketika berpikir tentang makanan, anda membentuk gambaran tentang makanan di dalam pikiran anda. Ketika melihat sebuah mobil, anda membentuk gambaran tentang mobil di dalam pikiran anda. Inilah yang disebut Husserl sebagai intensionalitas (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">intentionality</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), yakni bahwa kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Tindakan seseorang dikatakan intensional, jika tindakan itu dilakukan dengan tujuan yang jelas. Namun di dalam filsafat Husserl, konsep intensionalitas memiliki makna yang lebih dalam. Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia, tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran tidak pernah pikiran itu sendiri, melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu. Pikiran selalu memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran. Intensionalitas adalah keterarahan kesadaran (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">directedness of consciousness</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Dan intensionalitas juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada satu obyek.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Namun Husserl juga melihat beberapa pengalaman konkret manusia yang tidak mengandaikan intensionalitas, seperti ketika anda merasa mual ataupun pusing. Kedua pengalaman itu bukanlah pengalaman tentang suatu obyek yang konkret. Namun pengalaman itu sangatlah jarang, kecuali anda yang menderita penyakit tertentu. Mayoritas pengalaman manusia memiliki struktur. Mayoritas pengalaman manusia melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Husserl menyebut setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu ini sebagai tindakan (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">act</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Dan setiap tindakan manusia selalu berada di dalam kerangka kebiasaan (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">habits</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">), termasuk di dalamnya gerak tubuh dan cara berpikir.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Fenomenologi adalah analisis atas esensi kesadaran sebagaimana dihayati dan dialami oleh manusia, dan dilihat dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Fenomenologi menganalisis struktur dari persepsi, imajinasi, penilaian, emosi, evaluasi, dan pengalaman orang lain yang terarah pada sesuatu obyek di luar. Dengan demikian menurut Smith, fenomenologi Husserl adalah suatu penyelidikan terhadap relasi antara kesadaran dengan obyek di dunia luar, serta apa makna dari relasi itu. Konsep bahwa kesadaran selalu terarah pada sesuatu merupakan konsep sentral di dalam fenomenologi Husserl.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftnref5"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Kesimpulan</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Seperti sudah disinggung sebelumnya, fenomenologi adalah suatu refleksi atas kesadaran dari sudut pandang orang pertama. Konkretnya fenomenologi hendak menggambarkan pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya melalui pikiran, imajinasi, emosi, hasrat, dan sebagainya. Dalam hal ini Husserl sangat berhutang pada Bretano. Bretano sendiri membedakan dua jenis psikologi, yakni psikologi deskriptif yang dikenal juga sebagai fenomenologi, dan psikologi genetis (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">genetic psychology</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Psikologi deskriptif hendak memahami dinamika kehidupan mental manusia. Sementara psikologi genetis ingin memahami dinamika mental manusia dengan kaca mata ilmu-ilmu genetika yang sifatnya biologistik. Di dalam pemikiran Husserl, fenomenologi menjadi suatu displin yang memiliki status otonom. Ia pun merumuskannya secara lugas, yakni sebagai ilmu tentang esensi kesadaran. Dan berulang kali ia menegaskan, bahwa kesadaran manusia tidak pernah berdiri sendiri. Kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Inilah yang disebut dengan intensionalitas, suatu konsep yang sangat sentral di dalam fenomenologi Husserl.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Husserl kemudian mencoba mengembangkan teori intensionalitas ini. Setiap tindakan manusia selalu melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas suatu obyek yang nyata di dunia. Manusia adalah subyek dan subyek selalu terarah pada suatu obyek yang nyata di dunia. Obyek dari kesadaran dan tindakan manusia tidak pernah berada di dalam ruang kosong, melainkan selalu berada di dalam horison makna tertentu. Maka dari itu intensionalitas kesadaran selalu melibatkan relasi rumit antara subyek (manusia) yang sadar, tindakan, obyek, dan horison dari obyek tersebut. Relasi rumit di dalam intensionalitas kesadaran itulah yang menjadi dasar dari fenomenologi. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Setelah menjadikan intensionalitas kesadaran sebagai dasar filsafatnya, Husserl kemudia menganalisis struktur-struktur dasar kesadaran secara detil, seperti persepsi, penilaian, tindakan, ruang, waktu, tubuh, keberadaan orang lain, dan sebagainya. Subyek (manusia) dan obyek selalu berada di dalam horison makna tertentu yang disebut Husserl sebagai dunia kehidupan (life-world). Secara singkat dunia kehidupan adalah dunia di sekeliling manusia yang dialaminya secara familiar di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam dunia kehidupan, manusia memperoleh makna dan identitasnya sebagai manusia. Dalam arti ini fenomenologi adalah suatu upaya untuk memahami kesadaran manusia dalam konteks kaitan dengan dunia kehidupannya.</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Fenomenologi Husserl hendak menganalisis dunia kehidupan manusia sebagaimana ia mengalaminya secara subyektif maupun intersubyektif dengan manusia lainnya. Sebenarnya ia membedakan antara apa yang subyektif, intersubyektif, dan yang obyektif. Yang subyektif adalah pengalaman pribadi kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan. Obyektif adalah dunia di sekitar kita yang sifatnya permanen di dalam ruang dan waktu. Dan intersubyektitas adalah pandangan dunia semua orang yang terlibat di dalam aktivitas sosial di dalam dunia kehidupan.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftnref6"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Interaksi antara dunia subyektif, dunia obyektif, dan dunia intersubyektif inilah yang menjadi kajian fenomenologi. Fenomenologi membuka kesadaran baru di dalam metode penelitian filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Kesadaran bahwa manusia selalu terarah pada dunia, dan keterarahan ini melibatkan suatu horison makna yang disebut sebagai dunia kehidupan. Di dalam konteks itulah pemahaman tentang manusia dan kesadaran bisa ditemukan.***</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:26px;"><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"><br />
</span></span></div>
<hr size="1" />
<div>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftn1"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab ini saya mengacu pada David Woodruff Smith, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Husserl</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, London, Routledge, 2007.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftn2"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, hal. 188.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;margin-bottom:.0001pt;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftn3"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 190.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftn4"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 191.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftn5"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 193.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12333f9c941b9cdd__ftn6"><span><span><span style="line-height:14px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 234.</span></span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></span></div>
</div>
</div>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=186&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/19/fenomenologi-edmund-husserl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://broodsphilosophy.files.wordpress.com/2006/04/Husserl.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Nietzsche dan Aphorisme</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/16/tentang-nietzsche-dan-aphorisme/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/16/tentang-nietzsche-dan-aphorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 06:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[


Bab 
6 
Metode Aphorisme 
di dalam Filsafat Nietzsche


 
 Pada bab sebelumnya saya sudah menjabarkan metode dialektika di dalam filsafat Hegel. Hegel adalah seorang filsuf yang berpikir dan menyusun filsafatnya secara sistematis. Ia membangun sistem untuk memahami seluruh realitas, termasuk alam, manusia, dan sejarah. Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan anda pada satu sosok filsuf [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=184&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span></p>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"><strong><span><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://bigmentaldisease.com/wp-content/uploads/2009/06/nietzsche.jpg" border="0" alt="" /></span></strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Bab</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">6</span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">Metode</span></span></span></strong><strong><span style="line-height:26px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"> Aphorisme </span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;">di dalam Filsafat Nietzsche</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="line-height:26px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"><br />
</span></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:xx-large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab sebelumnya saya sudah menjabarkan metode dialektika di dalam filsafat Hegel. Hegel adalah seorang filsuf yang berpikir dan menyusun filsafatnya secara sistematis. Ia membangun sistem untuk memahami seluruh realitas, termasuk alam, manusia, dan sejarah. Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan anda pada satu sosok filsuf yang sangat berlainan dengan Hegel, yakni Nietzsche. Berbeda dengan sistem filsafat Hegel, Nietzsche justru sangat anti sistem. Ia menulis dengan aphorisme, yakni dengan kalimat-kalimat pendek yang seolah tanpa hubungan satu sama lain, untuk menjabarkan pemikirannya. Argumennya juga tidak bertujuan untuk menciptakan pemahaman tertentu yang bersifat koheren ataupun sistematis. Bisa juga dikatakan Nietzsche ingin menghancurkan semua pemahaman lama yang bercokol di dalam filsafat. Ia berfilsafat dengan palu pemikiran untuk menghancurkan mitos dan cara berpikir kuno.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Pada bab ini saya berfokus untuk menjelaskan cara berpikir khas Nietzsche, yakni nihilisme dan teknik berfilsafat dengan aphorisme. Sebagai acuan saya menggunakan tulisan Jill Marsden yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Nietzsche and the Art of Aphorism</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, dan tulisan Andreas Urs Sommer yang berjudul </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Nihilism and Skepticism in Nietzsche</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref1"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Di dalam tulisan-tulisan filsafatnya, Nietzsche menegaskan bahwa kebiasaan atau cara kita berpikir menentukan apa yang kita anggap sebagai pikiran. Semua bentuk cara berpikir, termasuk apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang layak dipikirkan, dibentuk oleh kebiasaan. Cara kita memahami dan memaknai dunia juga terbentuk di dalam kebiasaan. Aristoteles sendiri pernah berkata, bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada kebiasaan. Dan seperti yang pernah ditulis oleh Herry Priyono, orang tidak sadar akan kebiasaannya sama seperti ia tidak sadar akan bau mulutnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dalam arti ini kebiasaan menjadi halangan utama bagi orang untuk sampai pada kebenaran. Banyak orang menganggap begitu saja, bahwa apa yang telah mereka ketahui ataupun lakukan secara biasa itu sama dengan kebenaran. Padahal kebiasaan justru bisa menjadi halangan terbesar untuk melihat kebenaran. Dalam konteks inilah Nietzsche menempatkan filsafatnya, yakni sebagai kritik dari cara berpikir yang timbul atas dasar kebiasaan semata. Untuk melampaui kebiasaan cara berpikir yang terwujud nyata di dalam cara orang menulis dan mengungkapkan argumen, Nietzsche menggunakan aphorisme sebagai alat untuk melakukan kritik. Menurut Marsden aphorisme merupakan suatu cara untuk melepaskan diri dari keyakinan-keyakinan lama yang melulu didasarkan atas kebiasaan. Aphorisme adalah cara baru berfilsafat untuk melepaskan diri dari kategori-kategori pengetahuan manusia yang cenderung terkotak-kotak dan membatasi realitas. Cara berpikir tradisional yang kental terasa pada sains dan filsafat yang berpegang teguh pada rasionalitas justru membuat manusia tertutup dari kekayaan realitas dan kehidupan itu sendiri. Aphorisme menempatkan realitas sebagai suatu teks yang terbuka, sekaligus membuka horison pemikiran baru yang kreatif dan inovatif.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref2"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></span></span></a></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Aphorisme membuka ruang besar untuk ketidakpastian, agresivitas berpikir, dan ekspansi ide. Aphorisme menolak kepastian mutlak, ataupun dinding-dinding yang menghambat kreativitas berpikir. Seluruh proyek filsafat dengan menggunakan aphorisme ini haruslah ditempatkan sebagai kritik Nietzsche terhadap cara berpikir Platonisme (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">overcoming platonism</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) yang cenderung mengedepankan rasionalitas, pengendalian diri, dan kontrol terhadap realitas melalui pikiran, dan tujuan Nietzsche untuk mengevaluasi ulang seluruh nilai-nilai (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">reevaluation of all values</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) yang ada di dalam masyarakat. Pada hemat Marsden yang penting dari intensi Nietzsche bukanlah substansinya (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">substance</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) semata, yakni isi kritiknya yang memang sangat tajam, melainkan juga bentuk (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">forms</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">) dari cara berpikir yang melandasari kritik tersebut.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Jika orang hanya berfokus pada isi kritik Nietzsche terhadap masyarakat pada jamannya, maka mereka hanya akan menemukan kritik klise yang seolah tanpa relevansi sekarang ini. Nietzsche melakukan kritik tajam terhadap budaya dan cara berpikir orang pada jamannya yang berfokus pada kontrol diri dan alam, sehingga melupakan daya-daya kehidupan yang sesungguhnya. Ia juga melakukan kritik tajam terhadap agama, yang dianggapnya menciptakan sekaligus melestarikan mentalitas dekaden. Yang menarik buat kita untuk memahami metode Nietzsche bukanlah isi dari kritik tersebut, melainkan caranya membentuk kritik. Dalam konteks inilah metode berfilsafat dengan menggunakan aphorisme bisa ditempatkan. Gaya berfilsafat dengan menggunakan aphorisme dapat dianggap sebagai kritik terhadap cara berpikir tradisional yang cenderung membatasi realitas dan kehidupan itu sendiri ke dalam konsep-konsep.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><strong><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Nietzsche dan Aphorisme</span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut penelitian Marsden teks tulisan Nietzsche pertama yang menggunakan gaya aphorisme adalah </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Human, All too Human</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">yang ditulis pada 1878. Di dalam buku itu, Nietzsche menulis berdasarkan pengamatan yang tajam tentang manusia, namun tidak dengan gaya sistematis khas buku filsafat, melainkan dengan paragraf-paragraf pendek yang seolah terpecah dan tidak memiliki kaitan satu sama lain. Dalam arti harafiahnya aphorisme berarti ekspresi pemikiran singkat yang lugas tentang suatu bentuk kebenaran yang bersifat umum. Dengan demikian aphorisme bukanlah isi dari filsafat itu sendiri, melainkan gaya berfilsafat tentang suatu tema tertentu. Marsden juga menegaskan bahwa tidak semua tulisan Nietzsche menggunakan gaya aphorisme murni. Beberapa tulisan Nietzsche lainnya, seperti </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">On the Genealogy of Morals, </span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">tidak menggunakan aphorisme murni, melainkan bab-bab (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">chapters</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">).</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref3"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Menurut Marsden ada alasan medis di balik gaya berfilsafat Nietzsche yang menggunakan aphorisme. Seperti disinggung sebelumnya </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Human, All too Human</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> adalah karya pertama Nietzsche yang menggunakan metode aphorisme. Pada waktu menulis buku itu, ia mengalami sakit berat, akibat terlalu lelah bekerja dan hidup yang tidak teratur. Kombinasi antara agresivitas pemikiran dan sakit fisik membuat Nietzsche memutuskan untuk melepaskan diri dari filsafat tradisional yang selama ini digelutinya, dan merambah ke wilayah pemikiran yang baru. Pada titik inilah ia kemudian berfilsafat mengenai tema-tema yang sensitif pada jamannya, dan dengan gaya yang kurang familiar, yakni berfilsafat dengan aphorisme. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Marsden juga berpendapat bahwa gaya aphoristik sebenarnya dapat dirunut kembali ke jaman Yunani Kuno, tepatnya pada masa Hippokrates. Banyak penulis pada jaman itu, terutama yang mendedikasikan karyanya untuk mengembangkan pemikiran Hippokrates, menggunakan gaya aphorisme di dalam tulisan-tulisan mereka. Kumpulan tulisan untuk Hippokrates itu disebut juga sebagai</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">The Corpus Hippocraticum</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">. Di dalamnya tertulis aturan dan resep untuk hidup sehat, mendiagnosis penyakit, dan hidup bahagia. Semua itu ditulis dengan menggunakan aphorisme.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Aphorisme berbeda dengan logika. Logika seringkali berasal dari penalaran akal budi murni, tanpa perlu mengacu pada pengalaman konkret sehari-hari. Sebaliknya aphorisme justru dibentuk dari pengalaman dan eksperimen yang bersifat empiris. Tidak hanya itu aphorisme seringkali berbentuk resep-resep praktis untuk menjalani hidup secara bijak. Yang terakhir inilah yang ditawarkan oleh Nietzsche melalui aphorisme-aphorismenya. Jika ilmuwan kedokteran dahulu berkonsultasi ke tulisan-tulisan Hipokrates untuk mendiagnosis pasiennya, maka para filsuf bisa membaca Nietzsche sebagai upaya untuk mengobati diri dari penyakit kemalasan berpikir.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref4"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></span></span></a></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Dengan demikian dapatlah disimpulkan, bahwa pada waktu Nietzsche mulai mengalami penyakit yang berat, ia juga mulai menulis dengan gaya yang berbeda, yakni gaya aphorisme. Memang ada hubungan antara penyakit beratnya dan cara ia berfilsafat, walaupun hubungan itu tidak selalu berupa hubungan sebab akibat. Bahkan menurut penelitian Marsden, Nietzsche seringkali menganggap penyakitnya sebagai musuh. Namun dalam pengertian Nietzsche, musuh bukanlah sesuatu yang harus dihancurkan, melainkan tetap diperlukan untuk menjaga dan mengembangkan vitalitas diri. Adanya musuh membuat orang selalu dalam keadaan waspada, dan siap setiap saat untuk bertindak serta mengembangkan dirinya. Cara berfilsafat dengan menggunakan aphorisme, dalam arti ini, dapatlah dipandang sebagai tanggapan Nietzsche pada penyakitnya. Ia tidak menganggap penyakit sebagai halangan untuk berpikir. Sebaliknya penyakit adalah musuh yang diperlukan, supaya ia tetap kritis dan tajam di dalam berpikir. Marsden bahkan berpendapat bahwa Nietzsche menggunakan penyakitnya secara tidak langsung untuk mengembangkan filsafatnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Banyak orang menganggap penyakit sebagai batu sandungan bagi kehidupan. Penyakit adalah kutukan yang harus dihindari ataupun dimusnahkan. Namun Nietzsche mengajarkan kepada kita, bahwa banyak hal buruk di dalam hidup sebenarnya bisa menjadi pelajaran yang berharga. Kejahatan dan penderitaan adalah bagian integral dari kehidupan. Dan dalam kerangka itu, manusia harus belajar memaknai penderitaan, kejahatan, dan kegagalan sebagai keniscayaan hidup. Justu di dalam tempaan penderitaanlah peradaban manusia bisa berkembang. Nietzsche menanggapi penderitaan yang ia alami langsung di dalam filsafatnya, terutama dengan metode aphorisme yang ia gunakan. Dengan itu ia mengubah pengalaman penderitaan yang bersifat personal menjadi refleksi filosofis yang indah sekaligus inspiratif. Penderitaan menjadi titik tolak bagi sebuah pemikiran filosofis yang menyegarkan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Semua ini membuat orang tidak akan menemukan gaya filsafat tradisional di dalam tulisan-tulisan Nietzsche. Anda tidak akan menemukan pepatah-pepatah bijak yang menenangkan hati di dalam tulisan Nietzsche. Seringkali ia memprovokasi anda untuk berpikir, dan untuk membalik semua kepercayaan yang telah anda pegang sebelumnya. Di dalam salah satu bagian, Nietzsche menulis bahwa kekuatan fisik dan jiwa manusia justru berkembang melalui luka (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">wound</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Dapat juga dikatakan bahwa kekuatan yang membuat manusia bahagia adalah kekuatan yang sama, yang membuat manusia merasa menderita. Dengan aphorisme-aphorismenya Nietzsche mengajarkan kita untuk berpikir paradoksal. Ia melihat bahwa kekuatan manusia memiliki akar yang sama dengan kelemahannya. Dan justru di dalam kelemahannyalah manusia bisa sampai pada kekuatan puncaknya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Secara historis Nietzsche sangat dipengaruhi oleh Herakleitos, seorang filsuf Yunani Kuno pada masa sebelum Sokrates. Dengan aphorisme Herakleitos ingin melepaskan diri dari cara berpikir yang dipenjara oleh logika dan rasionalitas. Inilah yang ingin dilakukan Nietzsche. Herakleitos sendiri pernah menulis, “Anak panah adalah hidup, namun kerja dari panah adalah kematian.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref5"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> Aphorisme ini bisa ditafsirkan sebagai sebuah pernyataan, bahwa kehidupan dan kematian saling terkait satu sama lain. Tidak ada hidup yang sempurna tanpa cacat sedikit pun. Bahkan bisa dibilang bahwa hidup adalah anak panah yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Selain dari filsafat Herakleitos, Nietzsche juga dipengaruhi oleh Chamfort dan La Rochenfoucauld. Mereka adalah para pemikir Perancis. Dari La Rochenfoucauld ia belajar untuk mencintai paradoks. Sementara dari Chamfort ia belajar untuk menyampaikan argumen di dalam kalimat-kalimat pendek. Para filsuf Perancis juga mengajarkan Nietzsche untuk berpikir mengenai seni menjalani hidup (</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">art of living</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">). Di sisi lain Schopenhauer, filsuf Jerman di abad ke 19, juga sangat mempengaruhi Niezstsche, terutama di dalam konsepnya tentang kehendak untuk berkuasa. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Di dalam filsafat yang cenderung didominasi oleh cara berpikir argumentatif, gaya filsafat dengan menggunakan aphorisme yang digunakan Nietzsche memang terdengar asing. Walaupun juga digunakan untuk mempersuasi pembaca supaya setuju dengannya, gaya aphorisme seringkali menciptakan ambiguitas dan bahkan kesalahpahaman dari pembacanya. Dengan ungkapan-ungkapan singkat, aphorisme bisa membuat pembacanya kaget dan bingung. Misalnya Nietzsche pernah menulis, “Jika anda melatih hati nurani anda, hati nurani itu akan mencium sekaligus menggigit anda.”</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref6"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Manusia seringkali, kata Nietzsche, “gemetar akibat hasrat.” Itulah secuil aphorisme khas Nietzsche. Seringkali ungkapan aphoristik tersebut lebih mirip puisi daripada sebuah tulisan filsafat. Tidak hanya itu aphorisme juga seringkali berupa dialog. Misalnya Nietzsche pernah menulis tentang dialog seorang petualang dengan bayangannya sendiri.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><strong><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Kesimpulan</span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Aphorisme tidak bisa dibaca dengan cara seperti anda membaca buku teks. Di dalam buku teks, anda akan diminta mengikuti argumen demi argumen yang sifatnya sistematis secara sabar. Sementara ketika membaca aphorisme Nietzsche, anda perlu melakukan lompatan logika untuk memahaminya. Untuk membaca Nietzsche orang perlu melepaskan diri dari rasionalitas tradisional, dan mencoba memahami semangat pemberontakan yang dikobarkan olehnya. Aphorisme mengajak setiap pembacanya untuk peka pada kalimat-kalimat kecil yang seolah tanpa makna. Aphorisme juga mengajak pembacanya untuk peka pada misteri di balik makna yang tersirat di dalam tulisan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Tidak ada argumen inti yang eksplisit di dalam aphorisme. Orang perlu menggunakan imajinasi untuk menebak maksud di balik aphorisme yang dibacanya. Aphorisme mengajak kita untuk berpetualang ke ranah-ranah pemikiran baru yang belum terjamah sebelumnya. Kita tidak diajak untuk memahami teks semata, tetapi juga untuk membuka kemungkinan bagi sejuta penafsiran baru, ketika mulai membaca teks. Ketika mencoba membaca langsung teks-teks Nietzsche, orang akan merasa menemukan sesuatu, walaupun ia belum bisa merumuskannya secara tepat.</span></span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftnref7"><span><span><span style="line-height:19px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[7]</span></span></span></span></span></a></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Jika anda percaya bahwa filsafat haruslah bersifat sistematis dan rasional secara mutlak, maka anda pasti akan menganggap, bahwa aphorisme adalah suatu bentuk irasionalitas, atau bahkan pengkhianatan. Namun jika anda mencoba membaca aphorisme karya Nietzsche, anda akan ditantang untuk menggoyang nilai-nilai yang selama ini anda yakini. Dengan aphorismenya Niezsche mencoba untuk menerjang batas-batas pemikiran yang ada. Aphorisme adalah simbol ledakan untuk menghasilkan suatu pemikiran baru.***</span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:26px;"><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span></p>
<div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"><br />
</span></span></div>
<hr size="1" />
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn1"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[1]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Pada bab ini saya mengacu pada kedua tulisan tersebut. Kedua tulisan itu dapat dilihat di Keith Ansell Pearson, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">A Companion to Nietzsche,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> MA, Blackwell, 2006.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn2"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[2]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Lihat</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 22.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn3"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[3]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 23.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn4"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[4]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Bdk, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 24.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn5"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[5]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Dikutip oleh Marsden</span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 25.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn6"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[6]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Ibid</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">, hal. 26.</span></span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321dd97b96a534__ftn7"><span><span lang="IN"><span><span style="line-height:19px;" lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">[7]</span></span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> </span></span></span><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">Lihat, </span></span><em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;">ibid,</span></span></em><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:large;"> hal. 35.</span></span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><br />
</span></span></div>
</div>
</div>
<p></span></div>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=184&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/16/tentang-nietzsche-dan-aphorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bigmentaldisease.com/wp-content/uploads/2009/06/nietzsche.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hegel dan Dialektika</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/16/hegel-dan-dialektika/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/16/hegel-dan-dialektika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 06:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[


Metode di dalam Filsafat Hegel

 Pada bab sebelumnya saya sudah menjabarkan garis besar proyek filsafat kritis Immanuel Kant. Inti dari metode berpikir yang diajarkan Kant adalah pencarian kondisi-kondisi kemungkinan dari pengetahuan manusia, dan pencarian dasar rasional dari fenomena yang hendak diteliti. Filsafat Kant sangat mempengaruhi para filsuf setelahnya. Salah satu filsuf yang sangat dipengaruhi oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=182&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span></p>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:arial, sans-serif;border-collapse:collapse;"></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:26px;" align="center"><span style="font-size:xx-large;"><span style="font-size:27px;line-height:54px;"><strong><span><img style="margin-left:auto;margin-right:auto;display:block;text-align:center;clear:both;margin-bottom:10px;" src="http://blogs.worldbank.org/files/publicsphere/Hegel_portrait_by_Schlesinger_1831.jpg" border="0" alt="" /></span></strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:26px;" align="center"><strong><span style="font-size:20pt;line-height:54px;">Metode di dalam Filsafat Hegel</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;line-height:26px;">
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Pada bab sebelumnya saya sudah menjabarkan garis besar proyek filsafat kritis Immanuel Kant. Inti dari metode berpikir yang diajarkan Kant adalah pencarian kondisi-kondisi kemungkinan dari pengetahuan manusia, dan pencarian dasar rasional dari fenomena yang hendak diteliti. Filsafat Kant sangat mempengaruhi para filsuf setelahnya. Salah satu filsuf yang sangat dipengaruhi oleh Kant, namun juga melakukan kritik tajam terhadap Kant, adalah Hegel. Pada bab ini saya ingin mengajak anda mencecap sedikit gaya berpikir Hegel, terutama yang terkait dengan metodenya untuk memahami realitas. Sebagai pendasaran saya menggunakan teks tulisan Larry Krasnoff yang berjudul <em>Hegel’s Phenomenology of Spirit</em>.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref1"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[1]</span></span></span></span></a> Pertanyaan pertama yang layak diajukan adalah, apa sebenarnya latar belakang filsafat Hegel?</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;">
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Dunia kita sekarang ini sangat dipengaruhi oleh peradaban Eropa utara yang berkembang sejak 4 abad yang lalu. Pada tahun-tahun itu, Eropa telah berubah dari sebuah peradaban yang sangat bernuansa religius menjadi peradaban yang mengedepankan ilmu pengetahuan, militer, dan filsafat. Tiga hal itu mendorong terciptanya sebuah peradaban terbesar sepanjang sejarah manusia, yang kini pengaruhnya bisa dirasakan di seluruh dunia. Para filsuf menamakan gejala perkembangan pesat itu sebagai modernitas (<em>modernity</em>). Mengapa modernitas bisa terjadi, dan bagaimana prosesnya?</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Sampai sekarang para filsuf dan sejarahwan masih mencari jawaban yang paling tepat atas pertanyaan itu. Namun menurut penelitian Krasnoff, penelitian para ahli biasanya terpusat pada peristiwa-peristiwa khusus tertentu, seperti Reformasi Protestan, perkembangan fisika modern melalui penemuan Galileo dan Newton, penemuan dan penaklukan benua Amerika, perdagangan bebas, kapitalisme, serta Revolusi Amerika dan Perancis. Apa sebenarnya dampak langsung dari peristiwa-peristiwa itu, sehingga pada akhirnya bisa mendorong terjadinya proses modernisasi?</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Menurut Krasnoff jawaban atas pertanyaan itu terletak pada perubahan paradigma (<em>paradigm change</em>) di dalam memandang realitas. Alam dipandang sebagai alam obyektif yang bisa dipelajari dan digunakan untuk sepenuhnya kepentingan manusia. Agama dipandang bukan lagi sebagai urusan bersama, tetapi sebagai urusan privat. Agama dipisahkan dari urusan negara, dan didorong ke pinggir kehidupan politik.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Politik pun tidak lagi didefinisikan sebagai upaya meraih kekuasaan sebesar mungkin untuk memperkaya diri, melainkan sebagai alat untuk menjaga dan mengembangkan hak-hak asasi manusia serta hak politik untuk memilih siapa yang berkuasa secara demokratis. Tiga pandangan itu kini sudah menyebar ke seluruh dunia, dan menjadi paradigma yang dominan. Namun sekarang ini banyak pemikir yang mempertanyakan, apakah modernitas adalah satu-satunya paradigma kehidupan yang bisa digunakan? Apakah tidak ada alternatif?<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref2"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[2]</span></span></span></span></a></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Ada beberapa alternatif yang kiranya mungkin terjadi, seperti pemerintahan totaliter, baik atas nama agama ataupun ras dominan, masyarakat mistik yang menghormati alam namun lupa memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, serta masyarakat tertutup yang menutup kesamaan mutlak, tanpa menghormati perbedaan maupun hak-hak asasi manusia sedikitpun. Dalam arti ini seperti yang pernah ditulis Magnis-Suseno, demokrasi, yang merupakan esensi politik modernitas, adalah pilihan terbaik di antara semua alternatif yang ada. Tidak hanya itu menurut Winston Churchill, perdana menteri Inggris pada saat perang dunia kedua, demokrasi adalah bentuk politik terbaik dibanding bentuk-bentuk politik lainnya yang pernah dicoba di dalam sejarah manusia.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Apakah modernitas adalah sesuatu yang baik secara moral? Bagi Krasnoff pertanyaan itu tidaklah relevan. Itu seperti bertanya apakah oksigen itu baik untuk manusia atau tidak? Tentu saja setiap orang membutuhkannya. Dan orang tidak memiliki kemungkinan untuk memilih yang lain. Tidak hanya itu menurut Krasnoff, pertanyaan tentang apakah modernitas baik secara moral adalah pertanyaan yang problematis, karena modernitas telah merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat jaman sekarang sebegitu mendalam dan meluas. Setiap orang terpengaruh dengan caranya masing-masing. Setiap orang juga memaknainya dengan caranya sendiri-sendiri. Efek dari modernitas tidak bisa direduksi hanya dalam satu hal saja.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref3"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[3]</span></span></span></span></a></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Lalu apakah modernitas memiliki sisi buruk? Menurut Krasnoff sisi negatif dari modernitas terletak pada sisi ekonomi dan teknologinya. Yang pertama adalah kecenderungan modernitas untuk menerapkan paham kapitalisme secara berlebihan. Akibatnya adalah manusia dikorbankan dan dieksploitasi atas nama pengumpulan keuntungan dan modal yang lebih tinggi lagi. Teknologi membuat manusia menjadi tidak manusiawi. Hubungan manusia tidak lagi dilandasi ketulusan, melainkan melulu hubungan kebutuhan yang sifatnya instrumental, material, dan dangkal. Teknologi juga menghasilkan limbah yang pada akhirnya merusak ekosistem. Krisis global warming yang kita alami secara global sekarang ini adalah hasil dari penggunaan teknologi yang kelewat batas, dan akhirnya menghancurkan alam. Secara kultural modernitas juga seringkali meremehkan budaya-budaya lokal partikular yang memiliki cara berpikir berbeda. Hal ini tampak jelas di dalam arogansi negara-negara Eropa dan Amerika, ketika berhadapan dengan negara-negara Asia dan Afrika.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Lalu apa sisi positif dari modernitas? Menurut Krasnoff sisi positif modernitas paling tampak pada aspek moral dan politik. Secara khusus modernitas mengedepankan dan mengembangkan kebebasan manusia sebagai individu. Pada masa sebelumnya cara berpikir dan pilihan manusia dibatasi oleh kelas sosial, tradisi, dan agama. Namun dengan berkembangnya modernitas, manusia mulai menemukan dan berani mengedepankan kebebasannya. Dalam soal agama setiap orang berhak memutuskan agama apa yang mereka peluk. Tidak hanya itu setiap orang juga berhak mengekspresikan keyakinan agamanya, sejauh itu tidak melanggar kebebasan orang lain. Dalam hal politik setiap orang bebas untuk memilih penguasa manakah yang layak memerintah di sebuah negara. Dalam hal ekonomi setiap orang bebas untuk mengumpulkan harta kekayaan, sejauh dalam batas-batas hukum. Dan dalam hal budaya, setiap orang berhak hidup dengan caranya masing-masing, sejauh itu masih berada dalam batas-batas hukum dan tidak melanggar kebebasan orang lain.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref4"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[4]</span></span></span></span></a></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Apakah sisi-sisi positif tersebut sungguh terwujud nyata di dalam realitas? Tentu saja di dalam kenyataan, tidak ada satupun dari cita-cita ideal tersebut terwujud secara sempurna. Kebebasan manusia masih saja dikungkung oleh kekuatan-kekuatan budaya, ekonomi, dan politik yang tak terbendung oleh aspirasinya terhadap kebebasan. Namun seperti yang berulang kali ditulis oleh B. Herry Priyono di dalam berbagai tulisannya, cita-cita tidak akan lenyap hanya karena belum terwujud di dalam realitas, begitu pula cita-cita modernitas tentang kebebasan harus menjadi tujuan utama dari semua praktek politik, ekonomi, agama, dan budaya sekarang ini.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Lalu apa arti pembicaraan tentang modernitas tersebut dengan Hegel, tokoh kita pada bab ini? Pada hemat Krasnoff cita-cita modernitas tentang kebebasan terasa paling kental merasuk di dalam seluruh tubuh filsafat Hegel.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref5"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[5]</span></span></span></span></a> Tulisan-tulisan Hegel menggambarkan bagaimana roh absolut bergerak di dalam sejarah untuk sampai pada kebebasan. Namun mengapa Hegel menjadikan tema kebebasan, yang merupakan esensi modernitas, di dalam filsafatnya? Menurut penelitian yang dilakukan Krasnoff, Hegel memilih kebebasan sebagai tema utama filsafatnya, karena ia pertama-tama terpesona oleh revolusi Perancis. Sebagai seorang pemuda yang lahir pada 1770, ia terpana oleh gelora kebebasan yang mewujud secara nyata di dalam revolusi Perancis.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Mengapa ia begitu terpesona dengan cita-cita kebebasan? Untuk menjawab ini kita perlu sedikit mengetahui latar belakang historis Hegel sebagai seorang pribadi. Ia adalah seorang anak pegawai negeri sipil rendahan dari Stuttgart. Walaupun miskin namun Hegel sangat cerdas. Pada 1788 ia masuk seminari (sekolah pendidikan calon imam di dalam Agama Katolik) di Universitas Tuebingen. Di sana ia bertemu dengan Friedrich Schelling (juga seorang filsuf Idealis Jerman yang cukup ternama) dan menjalin persahabatan dengannya. Schelling dan Hegel kini dikenal sebagai para filsuf Idealisme Jerman. Secara singkat Idealisme Jerman adala paham filsafat yang berpendapat, bahwa realitas bukanlah material secara hakiki, melainkan bentukan dari konsep-konsep rasional yang terletak di dalam pikiran manusia. Konsep-konsep tersebut seperti aku murni, roh absolut, non-aku, dan sebagainya. Idealisme Jerman berkembang pada abad ke-18 di Jerman, namun pengaruhnya masih sangat terasa hingga sekarang ini.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:26px;">Masa Hegel hidup adalah masa yang penuh dengan tantangan. Revolusi Perancis dengan cita-cita kebebasan, persamaan, dan persaudaraan mengguncang tatanan monarki feodal sebelumnya. Walaupun pada masa itu Perancis adalah tempat yang penuh dengan gejolak, namun Jerman, tempat Hegel lahir dan tumbuh, tetap stabil seolah tidak terjadi apa-apa. Universitas Tübingen seolah tetap steril, jauh dari gejolak yang ditimbulkan oleh Revolusi Perancis dan gerakan filsafat Pencerahan. Memang pada waktu itu, Tübingen adalah universitas yang konservatif. Teks-teks filsafat Pencerahan yang kental dengan ide otonomi dan kebebasan individu dilarang untuk disebarkan. Tentu saja Hegel tidak mematuhi aturan yang aneh itu. Masalah yang langsung dihadapinya adalah, bagaimana menerapkan cara berpikir modern yang ditimbanya dari para filsuf Pencerahan di Jerman, yang pada masa itu relatif masih merupakan masyarakat tradisional?</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Pada masa yang sama, Inggris dan Perancis sudah menjelma menjadi negara modern. Di negara-negara itu, kebebasan sudah mulai menjadi bagian dari kehidupan individu dan kehidupan sosial. Sebaliknya di Jerman orang berkumpul untuk berdiskusi soal filsafat Pencerahan pun kerap kali harus berbenturan dengan otoritas pemerintah. Dengan kata lain dapatlah dikatakan, bahwa pada masa itu, Jerman masih merupakan negara terbelakang. Namun Hegel akibat membaca secara intensif tulisan-tulisan Rousseau dan Kant berhasil menerobos keterbelakangan itu, dan akhirnya merumuskan filsafatnya sendiri secara kreatif.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref6"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[6]</span></span></span></span></a></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Menurut Krasnoff prinsip utama di dalam filsafat Hegel adalah subyektivitas (<em>subjectivity</em>). Hal ini menjadi jelas, jika orang berusaha membaca karya <em>magnum opus</em> Hegel yang berjudul<em>Phenomenology of Spirit</em>. Hegel sendiri mengatakan tujuan filsafatnya adalah untuk menggengam (<em>grasp</em>) dan mengekspresikan (<em>express)</em> subyektivitas.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref7"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[7]</span></span></span></span></a> Artinya adalah tujuan dari suatu refleksi filosofis adalah untuk memahami karakter dasariah dari subyektivitas manusia. Tidak hanya itu filsafat pun sebenarnya adalah ekspresi dari subyektivitas manusia itu sendiri. Namun bentuk ekspresi yang bagaimana? Apa sebenarnya hakekat (nature) dari subyektivitas, dan bagaimana filsafat bisa mengekspresikannya?<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref8"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[8]</span></span></span></span></a></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;">
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><strong>Subyektivitas di dalam Filsafat Hegel</strong></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Di dalam filsafat tema subyektivitas adalah tema yang sudah berumur ratusan tahun, jauh sebelum masa hidup Hegel. Para filsuf modern seperti Kant dan Descartes merefleksikannya secara sistematis dan mendalam. Namun menurut Hegel refleksi filsafat tentang subyektivitas di dalam filsafat Kant maupun Descartes masih terjebak pada kesalahpahaman dan inkoherensi. Seperti yang ditulis oleh Krasnoff, bagi Descartes, subyektivitas adalah konsep yang bersifat kontemplatif. Fungsi konsep itu sendiri semata-mata hanya sebagai titik awal (<em>starting point</em>) untuk memberikan kepastian metodologis (<em>methodological certainty</em>). Tidak ada kepastian apakah pikiranku memiliki hubungan langsung dengan realitas. Yang pasti adalah bahwa aku sedang berpikir (<em>I am thinking</em>), dan pikiran itu selalu mengarah pada sesuatu. Aku tidak pernah berpikir kosong, karena aku selalu berpikir tentang sesuatu.<span> </span></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Namun menurut Krasnoff jika pikiran adalah soal individu subyektif semata, maka tidak ada kemungkinan untuk menilai, apakah pikiran itu tepat atau tidak. Jika argumen ini benar, lalu bagaimana hubungan antara pikiran, konsep, dan dunia fisik eksternal? Ini adalah pertanyaan yang langsung menjatuhkan seluruh sistem Cartesian. Bagi Descartes hubungan pikiran dengan dunia luar terletak pada fakta, bahwa Tuhan itu ada, dan Ia tidak mungkin menipu kita. Tentu saja argumen ini sama sekali tidak kuat, dan bahkan terkesan sangat dogmatis. Yang ingin dicapai Descartes adalah keketatan berpikir metodis di dalam filsafat. Namun kekuatan pendekatan Descartes ternyata juga mencerminkan kelemahannya. Filsafatnya tidak memberikan argumen yang cukup memadai tentang hubungan antara pikiran dan realitas fisik di luarnya.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Seperti sudah disinggung pada bab sebelumnya tentang metode skeptisisme, Hume adalah filsuf yang dengan keras mengajukan kritik kepada Descartes. Hume menolak mengakui adanya relasi sebab akibat yang nyata di dalam realitas. Ia juga menolak argumen, bahwa kita bisa sungguh sampai pada pengetahuan yang benar tentang realitas. Kant kemudian mencoba mengajukan kritik terhadap Hume dengan berargumen, bahwa pengetahuan yang tepat tentang dunia fisik itu mungkin, karena struktur akal budi internal manusia memungkinkan itu terjadi. Struktur akal budi internal itu disebut juga sebagai subyektivitas (<em>subjectivity</em>). Walaupun begitu Kant tidak menjadikan subyektivitas hanya sebagai titik awal yang sifatnya kontemplatif, seperti pada filsafat Descartes. Sebaliknya pada Kant konsep subyektivitas lebih bersifat aktif di dalam membentuk pengetahuan tentang dunia luar. Dalam arti ini tidaklah berlebihan jika dikatakan, bahwa dunia bisa ada karena diketahui oleh manusia. Tanpa manusia tidak ada dunia.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref9"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[9]</span></span></span></span></a></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Inilah yang disebut Krasnoff sebagai konsep subyektivitas yang bersifat idealistik (<em>idealist conception of subjectivity</em>). Konsep subyek di dalam Kant melampaui konsep subyek di dalam filsafat Descartes, yang cenderung bersifat kontemplatif dan pasif semata. Dalam arti ini konsep subyek Kant dapat juga disebut konsep subyek yang aktif (<em>active subject</em>), terutama jika diperlawankan dengan konsep subyek di dalam filsafat Descartes yang cenderung pasif. Bagi Kant akal budi adalah fakultas di dalam diri manusia yang berfungsi untuk membentuk ide. Ide itu sendiri berasal sekaligus <em>melampaui </em>pengalaman inderawi.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Salah satu yang menjadi acuan Kant adalah ide kebebasan (<em>the idea of freedom</em>). Ide kebebasan tidak pernah bisa dipahami secara empiris. Oleh karena itu pengetahuan manusia tentang kebebasan memiliki bentuk yang berbeda, jika dibandingkan dengan pengetahuan manusia mengetahui benda-benda fisik, seperti meja, kursi, mobil, dan sebagainya. “Akan tetapi dengan alasan ini,” demikian Krasnoff, “kita tidak dapat mengatakan bahwa ide kebebasan tidak mempunyai kenyataan..”<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref10"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[10]</span></span></span></span></a> Artinya adalah walaupun tidak memiliki dasar empiris-fisik, dan tidak bisa menjadi obyek pengetahuan langsung manusia, ide kebebasan tetap dapat dipahami oleh manusia, walaupun dengan cara lain. Bagi Kant ide kebebasan sudah selalu diandaikan di dalam tindakan moral manusia sebagai mahluk yang rasional. Jika tidak diandaikan maka tindakan moral menjadi tidak mungkin. Sementara faktanya tindakan moral, seperti berbuat baik, itu mungkin, maka kebebasan pun tidak bisa dibantah keberadaannya.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Filsafat Hegel dapat dianggap sebagai suatu upaya untuk melampaui konsep subyek di dalam filsafat Kant maupun Descartes. Seperti sudah disinggung sebelumnya, Hegel sangat mengagumi Revolusi Perancis. Filsafatnya sendiri tidak bisa dilepaskan dari momen bersejarah tersebut. Di dalamnya ia melihat dorongan kekuatan kebebasan dari subyek untuk melawan semua bentuk kekuatan yang mengekangnya.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Tentu saja banyak filsuf berharap supaya kekuatan kebebasan ini dapat diarahkan pada sesuatu yang sifatnya positif, seperti untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan moralitas misalnya. Akan tetapi seperti ditegaskan oleh Krasnoff, subyek yang bebas berarti ia tidak bisa ditentukan tindakan ataupun pilihannya ke depan. Jika ia bisa ditentukan, maka ia tidaklah bebas. Konsep subyek pada filsafat Descartes terjebak pada dirinya sendiri. Subyek menjadi koheren secara konseptual, namun tidak bisa diterapkan dalam konteks kehidupan nyata. Sementara subyek moral Kantian, yang menempatkan kebebasan sebagai pengandaian, tidak bisa dipastikan akan melulu bertindak secara moral.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Hegel sendiri sebenarnya banyak sependapat dengan Kant. Namun begitu Hegel ingin menyelamatkan konsep subyek dari isolasi, seperti yang dialami konsep subyek di dalam filsafat Descartes. Hegel setuju bahwa subyektivitas manusia itu sifatnya aktif dan kreatif, serta mampu menolak semua tekanan dari luar. Setelah subyek melampaui semua kekangan yang menghambatnya, ia kemudian menjadi sadar diri (<em>self-conscious</em>), yakni sadar akan kesalahan dari tindakan ataupun pilihannya. Di dalam proses menyadari dirinya sendiri ini, subyek kemudian semakin mengetahui dan memahami dirinya sendiri <em>(self-knowledge</em>).</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Proses subyek untuk mengenali dirinya sendiri ini, menurut Hegel, mirip seperti pertarungan <em>melawan</em> dan <em>bersama</em> kematian itu sendiri (<em>struggle with and against death</em>). Kebebasan manusia sebagai subyek paling tampak di dalam kebebasannya menghadapi kematian. Selain itu kebebasan subyek paling tampak di dalam penegasan dirinya menghadapi tekanan sosial (<em>social pressure</em>). Namun begitu pernyataan terakhir tampak mengandung setitik kontradiksi. Bukankah lingkungan sosial yang memberikan arti dan makna bagi kehidupan seseorang? Dan bukankah seperti yang dikatakan oleh Heidegger dengan lugas, bahwa kematianlah yang memberikan makna bagi kehidupan manusia? Dalam arti ini subyek selalu berada dalam tegangan untuk menjadi bebas di satu sisi, dan untuk mengikat dirinya pada komunitas sosialnya.<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref11"><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[11]</span></span></span></span></a> Ia juga selalu berada dalam tegangan antara dorongan untuk memaknai hidup yang ada, dan kecemasan di dalam menghadapi kematian. Di dalam tegangan itulah subyek menyadari dirinya sendiri (<em>self-realizing</em>).</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;">
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><strong>Hegel dan Dialektika<a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftnref12"><span><span><span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:18px;font-family:'Times New Roman', serif;">[12]</span></strong></span></span></span></a></strong></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Metode dialektik Hegel terdiri dari tiga tahap. Yang pertama adalah tesis, yakni membangun suatu pernyataan tertentu. Yang kedua adalah antitesis, yakni suatu pernyataan argumentatif yang menolak tesis. Dan yang ketiga adalah sintesis, yakni upaya untuk mendamaikan tegangan antara tesis dan antitesis. Biasanya para ahli mengaitkan konsep dialektika ini dengan filsafat Hegel, walaupun Hegel sendiri tidak pernah secara eksplisit menyatakan argumennya melalui konsep tesis, antitesis, dan sintesis. Sebaliknya Hegel justru menyatakan, bahwa ia mendapatkan argumen itu dari filsafat Kant. Lepas dari itu metode dialektik memang nantinya menjadi sangat populer di tangan para filsuf Idealisme Jerman, terutama di dalam pemikiran Hegel.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Di dalam tulisan-tulisannya, Hegel memang tidak secara langsung menggunakan konsep tesis-antitesis-sintesis. Namun ia menggunakan logika yang kurang lebih sama di dalam tulisan-tulisannya. Ia kerap kali menggunakan konsep abstrak-negatif-konkret (<em>abstract-negative-concrete</em>) untuk melukiskan cara berpikir dialektisnya tentang realitas. Beberapa kali ia menggunakan kata langsung-tidak langsung-konkret (<em>immediate-mediated-conrete</em>). Hegel memang menggunakan kata-kata yang berbeda untuk menegaskan metode berpikir dialektis yang digunakannya di dalam seluruh sistem filsafatnya. Coba kita bedah hal ini secara lebih mendalam.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Di dalam rumusan tesis-antitesis-sintesis, kita tidak bisa mengerti secara logis mengapa tesis terkait dengan antitesis. Yang dikatakan oleh para komentator Hegel hanyalah di dalam tesis sudah langsung termuat antitesis. Namun apa sesungguhnya arti dari argumen itu? Coba kita lihat rumusan Hegel abstrak-negatif-konkret. Di dalam rumusan itu sudah diandaikan, bahwa tesis, yakni abstrak, memiliki kelemahan, yakni bahwa ia belum diuji di dalam realitas. Konsep abstrak belum memiliki aspek pengalaman, dan belum teruji di dalam kerasnya realitas. Di dalam tahap negatif, yang merupakan level antitesis, apa yang abstrak tadi diceburkan ke dalam realitas, dan berinteraksi dengan negativitas yang seringkali muncul di dalam pengalaman. Baru setelah itu abstrak dan negatif mengelami sintesis, dan menjadi konkret. Level konkret baru bisa dicapai, jika level negatif dan abstrak sudah dilampaui. Inilah esensi dari metode dialektis yang dapat ditemukan di dalam seluruh filsafat Hegel.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Untuk menggambarkan konsep pelampauan negatif dan abstrak itu, Hegel menggunakan konsep <em>Aufhebung, </em>yang berarti &#8216;melampaui&#8217; (<em>overcoming</em>). Secara kasar konsep melampaui itu bisa dianggap sebagai suatu upaya untuk menerjang batas-batas konsep yang ada sebelumnya, sambil tetap mengambil sisi positifnya yang tertinggal. Di dalam bukunya yang berjudul <em>Ilmu Logika</em> (<em>Science of Logic</em>), Hegel mencoba melukiskan proses dialektika untuk memahami keberadaan manusia. Keberadaan manusia pada awalnya adalah Ada (<em>Being</em>). Namun ada-murni (<em>pure being</em>) ternyata tidak dapat dibedakan dengan ketiadaan (<em>Nothing</em>). Sesuatu yang keberadaanya bersifat murni, yakni tidak tergantung pada realitas inderawi, juga secara logis dapat disamakan dengan tidak ada. Di dalam proses ada-murni, yang juga berarti ketiadaan, akan melampaui batas-batasnya sendiri, dan kemudian bersatu di dalam &#8216;menjadi&#8217; (<em>becoming</em>). Di dalam kosa kata teori dialektika Hegel, ada-murni adalah tesis. Ketiadaan adalah antitesis dari ada-murni. Dan menjadi (<em>becoming</em>) adalah sintesis dari ada-murni dan ketiadaan.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Metode dialektika Hegel juga memiliki unsur kontradiksi yang sangat kuat. Baginya setiap tahap perkembangan realitas, mulai dari tesis, antitesis, dan sintesis, muncul dari kontradiksi yang kuat di dalam tahap sebelumnya. Seluruh sejarah dunia adalah sejarah dialektika dan kontradiksi. Dahulu kala pemerintahan yang ideal adalah pemerintahan monarki absolut dengan menjadikan satu raja sebagai acuan utama politik. Monarki absolut tersebut didasarkan pada dua asumsi, yakni legalitas perbudakan untuk memperoleh tenaga kerja manusia murah, dan asumsi bahwa rakyat adalah orang bodoh yang tidak mampu memimpin ataupun membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Cara pandang itu mengalami kontradiksi, karena jika asumsi itu terwujud, maka negara justru tidak akan berkembang. Sekarang ini bentuk pemerintahan ideal adalah demokrasi dengan mengacu pada warga negara yang bebas dan cerdas.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Dari contoh di atas dapatlah disimpulkan, bahwa kontradiksi tidaklah muncul dari luar tesis, melainkan justru dari dalamnya. Di dalam konsep monarki absolut sebagai acuan filsafat politik, sudah ada &#8216;anti&#8217; dari monarki absolut itu sendiri. Antitesis sudah selalu terkandung di dalam tesis. Dan sintesis sudah selalu terkandung di dalam tesis dan antitesis. Dalam bahasa Hegel di dalam Ilmu Logika, di dalam Ada dan Ketiadaan sudah selalu terkandung &#8216;menjadi&#8217;. Lalu apa sebenarnya tujuan dari metode dialektika ini?</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Tujuan dasar dari dialektika adalah untuk menganalisis realitas pada dirinya sendiri, seturut geraknya sendiri, dan untuk memahami itu semua dalam terang akal budi. Konsep inti di dalam metode dialektika Hegel adalah negasi atas negasi (<em>negation of the negation</em>), atau yang ia sebut juga sebagai <em>Aufhebung</em>. Konsep ini diawali dengan sebuah premis sederhana, bahwa segala sesuatu menjadi apa adanya, karena selalu berada di dalam relasi dengan yang lainnya, yang bukan sesuatu itu. Meja bisa ada dan diketahui oleh manusia, karena ada segala sesuatu yang bukan meja,. Meja menegasi segala sesuatu yang bukan meja, sehingga ia menjadi dirinya sendiri.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span>Hegel mau mengajarkan kita untuk melihat realitas sebagai suatu proses. Proses tersebut melewati tahap-tahap tertentu yang kelihatannya penuh dengan negativitas. Namun negativitas itu sebenarnya merupakan antitesis yang nantinya akan ‘melampaui’ tesis dan antitesis sebelumnya. Seluruh realitas menurut Hegel bergerak dengan pola itu. Dan pada akhir sejarah, realitas akan mengalami sintesis absolut. Itulah akhir sejarah menurut Hegel. Seluruh proses ini disebutnya sebagai dialektika, dan unsur penting dari dialektika itu adalah kontradiksi dan negasi. Kontradiksi dan negasi itu memiliki unsur negativitas yang kuat, namun diperlukan untuk perkembangan realitas menuju sintesis absolut.***</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:26px;"><span> </span></p>
<p style="line-height:26px;">
<p style="line-height:26px;">
<p style="line-height:26px;">
<p style="line-height:26px;">
<p style="line-height:26px;">
<p style="line-height:26px;"><span> </span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn1"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[1]</span></span></span></span></a><span> </span>Pada bab ini saya mengacu pada Larry Krasnoff, <em>Hegel’s Phenomenology of Spirit</em>, Cambridge, Cambridge University Press, 2008.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn2"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[2]</span></span></span></span></a><span> </span>Bdk, <em>ibid,</em> hal. 1.</p>
</div>
<div>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn3"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[3]</span></span></span></span></a><span> </span>Lihat, <em>ibid.</em></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-style:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn4"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[4]</span></span></span></span></a><span> </span>Bdk, <em>ibid</em>, hal. 2.</span></em></p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-style:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn5"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[5]</span></span></span></span></a><span> </span>Lihat, <em>ibid</em>, hal. 3.</span></em></p>
</div>
<div>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn6"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[6]</span></span></span></span></a><span> </span>Lihat, <em>ibid</em>, hal. 4.</p>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn7"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[7]</span></span></span></span></a><span> </span>Seperti dikutip Krasnoff<em>, ibid,</em> hal. 62.</p>
</div>
<div>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn8"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[8]</span></span></span></span></a><span> </span>Lihat, <em>ibid.</em></p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn9"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[9]</span></span></span></span></a><span> </span>Bdk,<em> ibid</em>, hal. 63.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn10"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[10]</span></span></span></span></a><span> </span><em>Ibid</em>, hal. 64.</p>
</div>
<div>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn11"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[11]</span></span></span></span></a><span> </span>Lihat, <em>ibid,</em> hal. 66.</p>
</div>
<div>
<p style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" name="12321d3b455a4d84__ftn12"><span><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:14px;font-family:'Times New Roman', serif;">[12]</span></span></span></span></a><span> </span>Untuk berikutnya saya mengacu pada<span> </span><a style="color:#0000cc;text-decoration:none;" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dialectic#Hegelian_dialectic" target="_blank">http://en.wikipedia.org/wiki/Dialectic#Hegelian_dialectic</a></p>
</div>
</div>
<p></span></div>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=182&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/08/16/hegel-dan-dialektika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blogs.worldbank.org/files/publicsphere/Hegel_portrait_by_Schlesinger_1831.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Kritis Kant</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/07/25/filsafat-kritis-kant/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/07/25/filsafat-kritis-kant/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 04:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[






















 
Filsafat Kritis Kant

Reza A.A Wattimena
 Pada bab sebelumnya saya sudah membahas mengenai metode skeptik yang kental di dalam filsafat modern. Filsuf yang secara khusus menggunakan metode ini adalah Rene Descartes dan David Hume. Inti dari skeptisisme adalah kecurigaan terhadap semua bentuk klaim pengetahuan tertentu. Dengan metode skeptisismenya filsafat modern mengajarkan kita untuk berani berpikir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=178&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table style="height:19499px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="713">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td style="width:141px;"></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><!-- END_HEADER --></p>
<div id="item_rezaantonius:journal:235">
<div>
<table style="height:18px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="747">
<tbody>
<tr>
<td width="24"></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div>
<div>
<div id="item_body">
<p style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span><img style="width:482px;height:459px;" src="http://cruciality.files.wordpress.com/2008/11/kant-3.jpg" border="0" alt="" /></span><strong><span style="font-size:22pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-size:22pt;line-height:200%;" lang="IN">Filsafat Kritis Kant</span></strong><strong><span style="font-size:22pt;line-height:200%;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:200%;">Reza A.A Wattimena</span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"><span> </span>Pada bab sebelumnya saya sudah membahas mengenai metode skeptik yang kental di dalam filsafat modern. Filsuf yang secara khusus menggunakan metode ini adalah Rene Descartes dan David Hume. Inti dari skeptisisme adalah kecurigaan terhadap semua bentuk klaim pengetahuan tertentu. Dengan metode skeptisismenya filsafat modern mengajarkan kita untuk berani berpikir kritis untuk menantang semua klaim kebenaran dan pengetahuan yang muncul. Tujuannya adalah supaya kita bisa hidup dengan berpegang pada kebenaran yang otentik, dan bukan pada keyakinan-keyakinan tanpa dasar. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN">Melanjutkan ‘seni untuk memahami realitas’ di dalam filsafat modern, saya ingin mengajak anda mencecap metode berpikir yang digunakan oleh Immanuel Kant di dalam filsafatnya. Sebagai teks pembantu saya menggunakan dua teks, yakni tulisan Jill Vince Buroker yang berjudul <em>Kant’s Critique of Pure Reason</em> dan tulisan saya sendiri dalam bentuk tesis S2 yang berjudul <em>Pengandaian-pengandaian Metafisis di dalam Kritik Immanuel Kant terhadap Metafisika: Mempertimbangkan Kritik Karl Ameriks atas Kritik Immanuel Kant terhadap Metafisika</em>.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref1" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn1"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[1]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN">Proyek Kritik Kant</span></strong></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN">Tujuan utama dari filsafat kritis Kant adalah untuk menunjukkan, bahwa manusia bisa memahami realitas alam (<em>natural</em>) dan moral dengan menggunakan akal budinya. Pengetahuan tentang alam dan moralitas itu berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yakni hukum-hukum yang sudah ada sebelum pengalaman inderawi. Pengetahuan teoritis tentang alam berasal dari hukum-hukum apriori yang digabungkan dengan hukum-hukum alam obyektif. Sementara pengetahuan moral diperoleh dari hukum moral yang sudah tertanam di dalam hati nurani manusia. Kant menentang empirisme dan rasionalisme. Empirisme adalah paham yang berpendapat, bahwa sumber utama pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi, dan bukan akal budi semata. Sementara rasionalisme berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi yang bersifat apriori, dan bukan pengalaman inderawi. Bagi Kant kedua pandangan tersebut haruslah dikombinasikan dalam satu bentuk sintesis filosofis yang sistematis.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref2" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn2"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[2]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"><span> </span>Kant juga berpendapat bahwa moralitas memiliki dasar pengetahuan yang berbeda dengan ilmu pengetahuan (<em>science</em>). Oleh karena itu ia kemudian menulis <em>Groundwork of the Metaphysics of Morals</em> pada 1785, dan <em>Critique of Practical Reason</em> pada 1788. Pada 1790 Kant menulis <em>Critiqe of the Power of Judgment</em>. Di dalamnya ia menyentuh bidang estetika. Namun pada hemat saya, metode di dalam filsafat kritis Kant lebih nyata di dalam bukunya yang pertama, yakni <em>Critique of Pure Reason </em>yang saya terjemahkan menjadi <em>Kritik atas Rasio Murni</em>. Buku inilah yang kemudian menjadi acuan saya dan Buroker pada bab ini. </span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span></span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Di dalam bagian pengantar dari <em>Kritik atas Rasio Murni</em>, Kant menyatakan bahwa “walaupun metafisika banyak dimaksudkan sebagai ratu dari ilmu-ilmu,<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref3" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn3"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[3]</span></span></span></span></a> tetapi rasionalitas metafisis kini dihadapkan pada sebuah pengadilan.”<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref4" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn4"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[4]</span></span></span></span></a> Sekali lagi, “kita harus menelusuri kembali langkah-langkah yang telah kita rumuskan.”<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref5" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn5"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[5]</span></span></span></span></a> Perdebatan di dalam refleksi metafisika telah membuat metafisika itu sendiri menjadi semacam medan pertempuran, di mana setiap pihak yang berperang tidak berhasil mendapatkan satu inci pun dari ‘teritori’ yang ada.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref6" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn6"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[6]</span></span></span></span></a> Konsekuensinya metafisika kini ‘terombang ambing’ di antara dogmatisme dan skeptisisme. Metafisika telah menjadi pemikiran spekulatif yang meraba-raba secara acak.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref7" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn7"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[7]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Melawan kecenderungan perdebatan metafisika pada jamannya itu, Kant merumuskan semacam Revolusi Copernican di dalam filsafat. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0 92.05pt .0001pt 78pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;">“Selama ini telah diasumsikan bahwa semua pengetahuan kita harus menyesuaikan dirinya dengan obyek. Akan tetapi, sejak asumsi ini telah gagal menghasilkan pengetahuan metafisis, kita harus melakukan semacam penilaian apakah kita tidak akan lebih berhasil di dalam metafisika, …. Jika kita mengasumsikan bahwa obyeklah yang harus menyesuaikan diri dengan kesadaran kita…. Kita harus memulai tepat pada garis di mana hipotesis utama Copernicus bermula, yakni hipotesis tentang heliosentrisme…”<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref8" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn8"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[8]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;">Untuk menjelaskan latar belakang pemikiran Kant, pada sub bab ini, saya hendak memaparkan latar belakang historis dan epistemologis sebagai konteks kritiknya terhadap metafisika tradisional.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref9" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn9"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[9]</span></span></span></span></a> Kerangka tulisan di dalam sub bab ini diinspirasikan dari pembacaan saya terhadap tulisan Sebastian Gardner.</span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;">Latar Belakang Historis: Refleksi Filsafat di Abad Pencerahan</span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Filsafat Kant dirumuskan dalam perdebatan dua pandangan besar pada waktu itu, yakni rasionalisme dan empirisme, khususnya rasionalisme G.W. Leibniz (1646-1716), dan empirisme David Hume (1711-1776). Kant dipengaruhi oleh mereka, tetapi mengkritik kedua pemikiran filsuf ini untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan mereka, serta kemudian merumuskan pandangannya sendiri sebagai sintesis kritis dari keduanya, yakni filsafat transendental (<em>transcendental philosophy</em>). Dalam arti yang lebih luas, ia mau ‘melampaui’ posisi epistemologis dua paradigma yang saling beroposisi tersebut. Ini adalah intensi utama dari filsafat Kant, yakni sebuah tanggapan terhadap problem epistemologis yang terkait dengan proyek pencerahan yang mendominasi panggung filsafat abad ke delapan belas. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Seperti lazimnya di dalam perumusan sejarah pemikiran, kesatuan ide pada Abad Pencerahan, atau yang banyak dikenal sebagai abad rasionalitas, hanya dapat dilihat tesis-tesis utamanya yang paling mendasar saja. Tentu saja masa itu penuh dengan ide-ide yang saling bertentangan yang tidak dapat begitu saja dirumuskan dalam satu tesis yang mau mencakup semuanya. Atas dasar itu dapat juga dikatakan, bahwa Pencerahan mengambil inspirasi utamanya dari kesuksesan revolusi sains pada abad XVI-XVII, serta untuk memperjuangkan apa yang sekarang ini telah dianggap ‘biasa’, yakni hak setiap orang untuk berpikir sendiri tentang hal-hal praktis maupun teoretis lepas dari tradisi atau otoritas eksternal tertentu. Rasionalitas sudah ada inheren di dalam diri manusia, dan tinggal digunakan untuk mencerahkan kehidupan sehari-hari mereka. Para pemikir Pencerahan hendak mempromosikan institusi sosial politik yang menghormati otonomi setiap orang, mendorong penelitian-penelitian saintifik, dan menunjang peningkatan pengetahuan pada umumnya. Asumsi mereka dari emansipasi intelektual, maka emansipasi politik akan terjadi. Pencerahan adalah seperti yang dirumuskan dalam sebuah esei untuk mendefinisikan hal tersebut, <em>kemunculan manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri</em>. Semboyan utamanya adalah <em>‘Sapere Aude’</em> (Beranilah Berpikir Sendiri!). Seperti dikutip oleh Gardner, Kant menulis, </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0 35.35pt .0001pt 1cm;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;">“Masa dimana kita hidup adalah, dalam arti khusus, masa kritisme, dan untuk mengkritik apapun yang ada. Termasuk diantaranya adalah agama dengan kesuciannya, hukum yang telah terberi dengan kemuliaannya… haruslah mampu bertahan di hadapan ujian akal budi yang bebas dan terbuka.”<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref10" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn10"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[10]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Lebih jauh lagi para pemikir Pencerahan sangatlah yakin bahwa kemajuan sudah merupakan bagian inheren di dalam karakter manusia itu sendiri, terutama kemajuan di dalam memahami dunianya melalui sains dan teknologi, seperti pada pencapaian luar biasa yang dirumuskan oleh Isaac Newton (1642-1727). Lambang kemajuan lainnya adalah semakin berkembangnya toleransi di dalam maupun maupun di antara agama-agama, semakin lenyapnya otoritas mutlak Gereja, perubahan tatanan sosial-politik yang berjalan paralel dengan perkembangan kaum borjuis, dan semakin runtuhnya tirani cara berpikir metafisis-religius yang banyak dikembangkan pada Abad Pertengahan. Semua hal ini menunjukkan bahwa sejarah telah bergerak ke arah kemajuan total yang tidak bisa lagi dihentikan oleh apapun atau siapapun. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Secara umum Jerman tempat Kant lahir dan tinggal seumur hidupnya tidak berpartisipasi secara aktif di dalam proses Pencerahan. Proses pencerahan itu sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran John Locke (1632-1704) dan Newton. Para pemikir yang juga cukup berpengaruh pada masa itu adalah David Hume dan Adam Smith (1723-1790). Pada pertengahan abad ke-18, pusat gerakan pencerahan ini adalah Perancis, terutama di kalangan para pemikir <em>Encyclopedie</em>, di mana Denis Diderot dan Jean d’Alembert menjadi tokohnya. Banyak pemikir lain juga yang memberikan sumbangan besar bagi perkembangan mazhab tersebut. Mereka disebut <em>The Philosophes</em>. Di antaranya adalah Montesquieu(1689-1755), Voltaire (1694-1778), E. de Condillac (1715-1780), P. d’ Holbach (1723-1789), Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), dan Condorcet (1743-1794). Di Jerman Pencerahan berjalan lambat. Hal ini terjadi karena kondisi masyarakat dan politiknya yang masih feodal pada masa itu, serta pemikiran rasionalisme yang sangat kuat pengaruhnya pada dunia akademik. Aliran yang dominan di Jerman pada waktu itu adalah rasionalisme Leibniz yang disebarluaskan oleh Christian Wolff (1679-1750) serta para pengikutnya. Wolff menafsirkan pemikiran Leibniz dengan cara yang sangat sistematis. Pada abad ke 18, filsafat Leibniz-Wolffian menjadi kurikulum standar di seluruh universitas Jerman. Tentu saja kritik dari berbagai pemikiran lainnya terhadap sistem pemikiran tersebut juga ada. Salah satunya adalah C. A Crussius (1715-1775). Ia menulis buku yang berjudul <em>Popularphilosophie</em>, yang merupakan kritik tajam terhadap rasionalitas Leibniz-Wolffian. Buku <em>Popularphilosphie</em>, tulis Kant dalam <em>Kritik Atas Rasio Murni,</em> secara megah menggambarkan bagaimana orang bisa berpikir secara bebas.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref11" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn11"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[11]</span></span></span></span></a> Akan tetapi kritik tersebut masih tidak mampu membendung dominasi rasionalisme di Jerman pada waktu itu. Dengan kata lain rasionalisme Leibniz sama sekali tidak menemukan lawan tanding pemikiran yang seimbang sampai Kant menuliskan <em>Kritik Atas Rasio Murni</em> pada akhir abad ke 18. Pada waktu Kant menulis buku tersebut<em>,,</em> semangat Pencerahan mulai menurun. Setelah abad ke 18, para filsuf mulai berpikir bahwa humanisme universal, yang menjadi tesis dasar para pemikir Pencerahan, juga mempunyai sisi negatif, dan sisi negatifnya itu ternyata sangat besar. Humanisme universal di sini adalah paham yang menekankan bahwa semua manusia itu memiliki harkat dan martabat yang setara, serta mampu untuk menentukan sikap dan pendapat mereka secara otonom dengan mengacu pada kapasitas rasio manusia yang bersifat universal.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref12" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn12"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[12]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;">Di dalam kerangka pemikiran skolastisisme, pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang Kosmos saling melengkapi satu sama lain, dan tidak bisa dipisahkan. Thomisme menggabungkan teologi Kristen dengan filsafat alam Aristoteles dalam satu kesatuan wacana. Pada sains hal ini tidak lagi berlaku. Para saintis memandang alam secara mekanis, matematis, dan sama sekali bertolak belakang dari filsafat alam Aristoteles yang melihat alam secara metafisis sebagai kesatuan antara forma dan materi. Sains modern pada waktu itu mulai memberi peran yang berbeda pada Tuhan di dalam analisis mereka atas alam. Tuhan tidak lagi dipahami sebagai Tuhan yang berpartisipasi membentuk kehidupan dan sejarah manusia, tetapi Tuhan yang menciptakan dunia berdasarkan hukum-hukumnya, dan kemudian tidak lagi berpartisipasi di dalam dunia. Inilah yang disebut sebagai Deisme. Konsekuensinya agama pun mulai kehilangan legitimasinya, dan ditinggalkan. Akan tetapi beberapa pemikir Pencerahan tidak siap untuk menganut ateisme, dan lebih memilih untuk bersikap kritis terhadap Gereja Katolik dan Protestan pada waktu itu. Jadi para pemikir Pencerahan juga memiliki kecenderungan untuk memberikan landasan rasional terhadap agama. Hal inilah yang terjadi di Jerman, di mana tanda-tanda penolakan terhadap agama hampir tidak terlihat. Di Perancis para <em>philosophes </em>melakukan kritik tajam terhadap agama, dan kemudian menganut ateisme. Lepas dari perbedaan di antara mereka, para pemikir Pencerahan mengajukan satu pertanyaan yang sama, bagaimana pengetahuan akan alam dan pengetahuan akan Tuhan dapat disintesiskan? Salah satu jawaban yang dirumuskan adalah tanda bahwa alam ini memiliki keteraturan sudah merupakan bukti bagi eksistensi Tuhan. Tatanan alam yang sudah begitu teratur ini merupakan bukti nyata bagi eksistensi Tuhan. Akan tetapi penjelasan ini sama sekali tidak memuaskan, terutama bagi kalangan teolog, karena tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Sementara itu Deisme yang berpendapat bahwa Tuhan telah menciptakan alam dengan hukum-hukumnya, dan kemudian Ia tidak berperan serta lagi, terlalu kering bagi iman Kristiani yang meyakini Tuhan berperan langsung di dalam sejarah manusia. Di samping itu deisme juga menolak wahyu yang justru menjadi sentral di dalam teologi Kristiani. Konflik antara sains dan agama pun tidak terelakkan lagi. Metafisika yang tadinya dianggap sebagai penjaga rasionalitas dan pengetahuan manusia secara keseluruhan kini mengalami keterpecahan dan kritik tajam dari berbagai penjuru. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Tegangan antara para pemikir yang masih mempertahankan agama di satu sisi dan para ilmuwan sains di sisi lain mengkristal di dalam salah satu korespondensi yang ditulis oleh Leibniz pada 1717. Memang Leibniz dan Newton sama-sama mewakili kedua belah pihak yang saling berdebat. Mereka banyak berdebat di sekitar problematika bagaimana tepatnya manusia bisa mengetahui dunianya. Leibniz lebih memilih menggunakan metode deduktif. Metode ini terinspirasi dari Rene Descartes (1596-1650) yang menggunakan model matematika. Model ini dimulai dengan prinsip-prinsip abstrak dan kemudian bergerak ke perumusan konkret. Kontras dengan itu Newton menggunakan metode induktif yang dimulai dari pengukuran kuantitatif dari fenomena yang ingin diselidiki, dan kemudian sampai pada prinsip-prinsip umum.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref13" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn13"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[13]</span></span></span></span></a> Di dalam korespondensinya Leibniz berpendapat, bahwa model yang dikembangkan Newton tidaklah sesuai dengan prinsip rasionalitas yang mampu mengabstraksikan alam ke dalam prinsip-prinsip utama. Sementara Newton sendiri berpendapat, bahwa model yang digunakannya adalah model saintifik yang sah secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian kedua pendekatan ini sangatlah berbeda, dan bahkan bertentangan. Metafisika, yang dirumuskan oleh Leibniz, dan sains, yang dirumuskan oleh Newton, tampak saling berkontradiksi satu sama lain. Sekali lagi metafisika tampak kembali dipertanyakan kredibilitasnya. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Di sisi lain tesis yang paling ‘mengguncang’ filsafat, terutama epistemologi dan metafisika, pada waktu itu adalah skeptisisme empiris yang dirumuskan oleh David Hume. Keyakinan bahwa rasio manusia telah secara langsung memiliki kesesuaian dengan alam telah menjadi suatu anggapan banyak diterima oleh para pemikir Pencerahan. Humelah yang menolak tesis tersebut. Menurutnya ‘kepercayaan’ kita tentang adanya hukum-hukum di dalam alam tidak memiliki landasan rasional yang cukup memadai, sehingga pemahaman kita selama ini didasarkan tidak lebih hanya kepada ‘kebiasaan-kebiasaan’ semata. Hukum alam dengan demikian tidak lebih dari sekedar ‘kebiasaan’ yang telah sering kita lihat sebelumnya. Lebih dari itu Hume berpendapat, bahwa apa yang disediakan alam dan kemudian kita percayai sebagai suatu ‘kebiasaan’ hanya dapat diketahui melalui pengalaman. Dengan demikian kepercayaan religius sama sekali tidak mempunyai tempat. Metafisika spekulatif pun juga tidak mendapatkan tempat. “Setiap bentuk refleksi filsafat metafisis”, demikian tulis Hume, “haruslah kita buang ke dalam api! Karena itu mengandung tidak lebih dari sekedar ilusi.”<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref14" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn14"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[14]</span></span></span></span></a> Kesimpulan yang dirumuskan oleh Hume tersebut bisa kita cap sebagai paradoks, karena ia mengkritik metafisika dengan merumuskan metafisika baru, yakni metafisika yang didasarkan pada pengalaman. Yang jelas pada saat itu, Hume segera membutuhkan sebuah tanggapan dari para pemikir di jamannya.<span> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Secara khusus dalam bidang refleksi epistemologi, Kant hendak merumuskan sebuah jembatan raksasa untuk membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio saja. Pengalaman empiris hanya menegaskan apa yang telah sebelumnya telah diketahui oleh rasio. Empirisme persis berpendapat sebaliknya: hanya segala sesuatu yang merupakan pengalaman inderawi sajalah yang bisa dijadikan sebagai dasar pengetahuan manusia. David Hume berdasarkan pandangan ini berpendapat bahwa semua hal yang tidak dapat diketahui secara inderawi manusia adalah suatu bentuk kepercayaan saja, dan tidak bisa dijadikan pengetahuan yang sahih. Prinsip kausalitas misalnya bukanlah merupakan suatu kepastian, tetapi kemungkinan, yang didapatkan dari kebiasaan manusia saja.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref15" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn15"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[15]</span></span></span></span></a> Di samping Hume para pemikir empirisme lainnya adalah Locke dan Berkeley. Mereka berargumentasi bahwa pengetahuan manusia berasal sepenuhnya dari pengalaman inderawi. Locke misalnya sangat menekankan pentingnya pengalaman inderawi untuk menginformasikan kepada apa yang sesungguhnya menjadi obyek pada dirinya sendiri. Ia juga berpendapat bahwa pikiran manusia adalah suatu kertas kosong, sebuah <em>tabula rasa</em>, yang diisi oleh ide melalui interaksinya dengan dunia. Pengalaman inderawi akan dunia mengajarkan semuanya, termasuk konsep identitas, sebab akibat, dan sebagainya. Kant sendiri nantinya berpendapat bahwa tesis tentang pikiran sebagai <em>tabula rasa</em> ini tidaklah cukup untuk menjelaskan tentang kemampuan kita mengetahui obyek pengetahuan. Artinya ada suatu komponen di dalam pikiran kita yang memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman inderawi.<span> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Di sisi lain Berkeley merumuskan fenomenalisme (<em>phenomenalism</em>). Berlawanan dari pemikiran Locke, ia mengajukan semacam tanggapan kritis terhadap paham yang berpendapat bahwa indera kita mampu mengetahui obyek yang berada independen dari pikiran kita. Karena pikiran manusia hanya dapat mengetahui obyek yang dapat ditangkap oleh inderanya, demikian argumentasi Berkeley, maka manusia tidak dapat mengetahui obyek yang berada independen dari pikiran mereka. Lebih dari itu ia bahkan berpendapat bahwa obyek yang bersifat independen dari pikiran manusia sama sekali tidak dapat diketahui. Dari perspektif filsafat Kant, pemikiran Berkeley disebut juga sebagai idealisme material, yakni pandangan bahwa kita tidak dapat mengetahui obyek material yang ada di luar diri kita. Bagi Berkeley obyek material yang bersifat independen terhadap pikiran tidaklah dapat diketahui. Pengalaman inderawi hanya mampu menangkap gambaran-gambaran mental, dan bukan benda pada dirinya sendiri. Ia berpendapat bahwa penilaian kita akan suatu obyek adalah sungguh-sungguh hanya merupakan penilaian terhadap gambaran-gambaran mental (<em>mental images</em>) ini, dan bukan subtansi yang memungkinkan gambaran-gambaran mental itu untuk ada. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>David Hume menegaskan apa yang sebelumnya telah dirumuskan oleh Berkeley dengan mempertanyakan seluruh kepercayaan-kepercayaan akal sehat kita tentang sumber pengetahuan manusia. Ia berpendapat bahwa kita tidak dapat mengandaikan adanya justifikasi <em>apriori</em> ataupun <em>aposteriori</em> tentang beberapa kepercayaan fundamental akal sehat kita, seperti prinsip kausalitas yang menyatakan bahwa semua kejadian pasti memiliki sebab. Dengan tesis Hume tersebut, maka semakin jelaslah bahwa empirisme tidak dapat memberikan kita justifikasi epistemologis (<em>epistemological justification</em>) untuk semua klaim kausalitas yang selama ini dianggap tepat dan andaikan begitu saja.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref16" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn16"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[16]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Kant sangat tidak setuju dengan semua pemikiran yang bersifat skeptis di atas. Di dalam bukunya yang berjudul <em>Kritik atas Rasio Murni</em>, ia mengajukan argumentasi-argumentasi untuk menunjukkan ketidaktepatan argumentasi para pemikir empiris, seperti Locke, Berkeley, dan Hume, karena semua refleksi dan analisis mereka mengandaikan hal-hal yang dalam pemikiran mereka justru ditolak. Bahkan setiap bentuk pengetahuan yang dapat kita ketahui haruslah mengandaikan klaim-klaim tersebut, dan tidak bisa tidak. Meskipun menaruh simpati besar terhadap refleksi para pemikir empirisme, ia tetap tidak puas dengan argumentasi mereka yang menyatakan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Para pemikir rasionalis seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz, mendekati problematika yang sama dengan sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka pengetahuan tentang dunia luar, tentang jiwa, tentang diri, tentang Tuhan, etika, serta sains adalah ide yang sudah pasti berada inheren di dalam pikiran. Leibniz berpendapat bahwa dunia sudah dapat diketahui secara <em>apriori</em> melalui analisis ide-ide dan turunan atasnya secara logis. Pengetahuan dapat diperoleh cukup dengan menggunakan rasio saja. Pernyataan Descartes “aku berpikir maka aku ada” jelas menggambarkan kebenaran yang sangat diyakini oleh para pemikir rasionalis ini. Dengan berbekal pengetahuan yang pasti tentang keberadaan dirinya sendiri, Descartes berharap mampu membangun sebuah dasar yang kokoh bagi semua bentuk pengetahuan manusia. Baginya pengetahuan tentang obyek yang berada di luar dirinya adalah kombinasi antara kesadaran akan keberadaan dirinya sendiri (<em>res cogitans</em> dan <em>res extensa</em>) dan argumen bahwa Tuhan itu ada, serta tidak menipunya dengan semua bentuk pengetahuan yang masuk melalui indera.</span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Kant juga banyak menyanggah argumentasi para pemikir rasionalis di dalam salah satu bagian <em>Kritik atas Rasio Murni</em>, yakni bagian antinomi-antinomi. Salah satu antinomi adalah tentang dunia. “Dunia memiliki awal di dalam waktu dan terbatas di dalam ruang” yang dihadapkan dengan argumen “Dunia tidak memiliki awal dan tidak terbatas di dalam ruang.”<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref17" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn17"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[17]</span></span></span></span></a> Ia berpendapat bahwa kedua argumen ini melambangkan kesalahpahaman metafisis di dalam seluruh pemikiran rasionalisme. Kedua argumen di atas tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena keduanya beranggapan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri dapat diketahui, yakni dunia sebagai benda-pada-dirinya-sendiri. Menurut Kant antinomi dapat dihilangkan, jika kita sungguh mengerti fungsi dan kapasitas sesungguhnya dari fakultas rasio kita yang berperan dalam menciptakan pengetahuan. Kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat mengetahui benda-pada-dirinya-sendiri, dan bahwa pengetahuan kita terbatas pada obyek yang dapat dialami secara inderawi. Proyek filsafat rasionalisme gagal, karena para pemikirnya tidak mempertimbangkan peran pengalaman empiris di dalam mengkonstruksi pengetahuan. Memang refleksi filosofis mereka tentang pengetahuan dapat menjelaskan beberapa aspek tentang isi dari pengetahuan kita. Akan tetapi mereka tidak akan mampu memberikan argumentasi yang koheren tentang klaim-klaim metafisis yang mereka rumuskan, baik itu tentang Tuhan, tentang Dunia, ataupun tentang Jiwa. Metafisika yang dibangun mereka inilah yang menjadi obyek kritik Kant nantinya. Walaupun ia sendiri nantinya akan terjebak pada pemikiran yang bersifat metafisis juga.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref18" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn18"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[18]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Kant memilih menggunakan kata Kritik (<em>critique</em>) untuk buku-buku yang ditulisnya.<span> </span>‘Kritik’ disini tidak melulu dimaksudkan sebagai evaluasi negatif akan suatu obyek tertentu, tetapi sebagai suatu refleksi kritis, dan hasilnya bisa saja positif, tetapi juga bisa negatif.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref19" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn19"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[19]</span></span></span></span></a> Kata ‘murni’ (<em>pure</em>) adalah term teknis yang digunakan oleh Kant, dan berarti bahwa sesuatu itu tidak mengandung apapun yang berasal dari pengalaman inderawi. ‘Rasio’ disini juga dikatakan dalam arti teknis, yakni sebagai fakultas konseptual di dalam dimensi kognitif kita yang membantu kita memaknai pengalaman, namun tidak didapatkan dari pengalaman inderawi. Dalam bahasa Kant elemen konseptual tersebut bersifat <em>apriori</em>. Dengan demikian <em>Kritik atas Rasio Murni</em> adalah suatu penyelidikan filosofis (<em>philosophical enquiry</em>) terhadap fakultas kognitif kita untuk mengetahui realitas. Cara yang ditempuh yakni dengan pertama-tama membedakan antara rasio murni (<em>pure reason</em>) dengan pengalaman inderawi (<em>sense experience</em>), dan kemudian melihat sejauh mana rasio kita mampu mengetahui hal-hal yang berada di luar pengalaman inderawi, seperti Tuhan dan Jiwa.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref20" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn20"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[20]</span></span></span></span></a> Penilaian apakah kita dapat mengetahui obyek-obyek yang berada di luar pengalaman inderawi dilakukan oleh Kant pada setengah bagian kedua buku <em>Kritik atas Rasio Murni</em>, yakni setelah ia memberikan argumentasi yang mendetil tentang kondisi-kondisi <em>apriori</em> yang memungkinkan terjadinya pengetahuan. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Argumentasi Kant memang tampak membingungkan, karena ia seolah menggunakan argumentasi yang lebih mengutamakan peran unsur <em>apriori</em> daripada kapasitas kognitif manusia. Memang klaim semacam itu tidak dapat dari ruang hampa, tetapi sudah selalu didukung oleh beberapa argumentasi yang cukup memadai. Ia menghabiskan banyak halaman di dalam buku <em>Kritik atas Rasio Murni</em> untuk membuktikan bahwa aspek kognitif manusia hanya mampu memproduki pengetahuan, jika ada pengandaian-pengandaian <em>apriori</em> yang sudah dipegang terlebih dahulu. Jika pengandaian <em>apriori</em> itu tidak ada, maka pengetahuan menjadi tidak mungkin. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Di dalam bagian <em>preface</em> buku itu, Kant sangat yakin bahwa proses ‘pengadilan’ terhadap rasio itu akan mampu menyelesaikan berbagai problem metafisika yang ada sebelumnya.<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref21" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn21"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[21]</span></span></span></span></a> Hasil dari proses itu akan membuktikan, bahwa rasio manusia mampu mengetahui obyek yang <em>berasal</em> dari pengalaman inderawi, tetapi bukan obyek yang <em>di luar</em> pengalaman inderawi. Inilah inti kritik atas metafisika yang dirumuskannya. Salah satu cara yang ditempuhnya untuk menyelesaikan problem metafisis adalah dengan merumuskan semacam dasar guna membedakan antara penggunaan kapasitas rasio manusia yang legitim, dan penggunaannya yang tidak legitim. Dasar ini adalah pengalaman inderawi. Artinya penggunaan rasio manusia menjadi sah, ketika diterapkan pada obyek yang dapat diketahui melalui pengalaman inderawi. Sebaliknya penggunaan rasio manusia menjadi tidak sah, ketika diterapkan untuk mengetahui obyek yang tidak dapat dialami secara inderawi. Batas-batas pengetahuan manusia, dengan demikian, adalah batas-batas pengalamannya. Apa yang dapat diketahui adalah apa yang dapat dialami secara inderawi, dan apa yang tidak dapat dialami secara inderawi tidaklah dapat diketahui. Akan tetapi disinilah letak ambiguitas argumentasi Kant, ia ingin membela metafisika dengan berpendapat bahwa metafisika diperlukan untuk memberikan kerangka pada pengetahuan. Dengan kata lain pengalaman inderawi dapat menjadi pengetahuan, karena adanya prinsip-prinsip <em>apriori</em> yang bersifat metafisis, yakni yang tidak dapat dialami. Bahkan rasio manusia selalu memiliki kecenderungan untuk bertanya tentang hal-hal yang tak terkondisikan, yakni kecenderungan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisis. Akan tetapi ia kemudian menolak penggunaan rasio manusia untuk merefleksikan entitas-entitas yang berada di luar pengalaman inderawi, seperti refleksi tentang Tuhan, atau tentang Jiwa. Metafisika yang menjadi sasaran kritik Kant adalah metafisika tradisional, yakni pemikiran spekulatif yang bersifat transenden (<em>trancendent experience metaphysics</em>).<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref22" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn22"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[22]</span></span></span></span></a> Ia justru membela metafisika yang bersifat imanen yang memungkinkan pengalaman diolah menjadi pengetahuan, yakni metafisika pengalaman (<em>metaphysics of experience</em>).<a name="122b02f82f1de9bb__ftnref23" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftn23"><span><span><span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[23]</span></span></span></span></a> Dengan demikian, metafisika pengalaman mungkin, tetapi metafisika transenden tidaklah mungkin. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"> </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="DE">Struktur dari <em>Kritik atas Rasio Murni</em> </span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="DE"><span> </span>Jika kita sekilas melihat susunan buku <em>Kritik atas Rasio Murni</em>, kita akan mendapat kesan bahwa buku itu adalah buku yang sangat kompleks, pengaturannya tidak transparan, dan setiap judul dari bab-bab yang ada di dalamnya tidak banyak menggambarkan isi dari bab. Memang arsitektur buku tersebut sungguh menggambarkan kerumitan pemikiran filsafatnya. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Tiga ‘pilar’ utama dari buku itu adalah <em>Transcendental Aesthetic, Transcendental Analytic</em>, dan <em>Transcendental Dialectic</em>. Setiap bagian mengacu pada kapasitas rasio manusia yang berbeda dimensi dengan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda pula. Bagian <em>Aesthetic </em>berkaitan dengan sensibilitas (kemampuan memperoleh pengalaman inderawi melalui intuisi, atau pengetahuan langsung), matematika, dan dengan geometri. Bagian ini mencakup pula analisis Kant tentang ruang dan waktu. Sementara itu bagian <em>Analytic</em> lebih banyak menganalisis tentang problem pemahaman (<em>understanding</em>), metafisika pengalaman (<em>metaphysics of experience</em>), dan ilmu-ilmu alam (<em>natural science</em>). Bagian <em>Dialectic </em>menganalisis kapasitas maksimal dari rasio manusia dan metafisika transenden (<em>trancendent</em> <em>metaphysics</em>). Bab ini terdiri dari tiga bagian, yakni metafisika tentang jiwa yang disebut Kant sebagai psikologi rasional (<em>rational psychology</em>), metafisika tentang dunia sebagai keseluruhan yang disebutnya sebagai kosmologi rasional (<em>rational cosmology</em>), dan tentang Tuhan yang disebutnya sebagai teologi rasional (<em>rational theology</em>).</span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Baik <em>Analytic, Aesthetic, dan Dialectic</em> berada pada bagian besar <em>Trancendental Doctrine of Elements</em>, karena masing-masing mengacu pada ‘elemen’ rasio yang berbeda. <em>Aesthetic </em>pada apa yang disebut Kant sebagai intuisi, <em>Analytic</em> pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasarinya, dan <em>Dialectic</em> dengan apa yang disebutnya sebagai ide-ide regulatif (<em>regulative ideas</em>).<span> </span>Apa yang biasa dimengerti sebagai intelek kini dipisahkan olehnya menjadi pemahaman (<em>understanding</em>) dan rasio (<em>reason</em>). Bagian yang lebih pendek, yakni <em>Trancendental Doctrine of Method</em>, menyediakan pendasaran epistemologi dan metafisis bagi <em>Kritik atas Rasio Murni</em> dengan refleksi atas metode pendekatannya. Di dalamnya ada bagian <em>The Canon of Pure Reason</em> yang memberikan penegasan terhadap seluruh sistem filsafat kritis di dalam buku tersebut.<span> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span>Pengaturan bab-bab di dalam buku <em>Kritik atas Rasio Murni</em> dapat dimengerti lebih jelas, jika kita mengerti kesimpulan yang ditarik Kant tentang seluruh buku tersebut. Ada dua kesimpulan besar. Di satu sisi <em>Aesthetic</em> dan <em>Analytic</em> selalu berkaitan dengan obyek yang dapat diketahui. Dan di sisi lain, <em>Dialectic</em> berkaitan dengan obyek yang tidak dapat diketahui. <em>Aesthetic</em> dan <em>Analytic</em> lebih bersifat positif, karena lebih bertujuan untuk membuktikan bahwa kita dapat mengetahui obyek yang dapat dialami secara inderawi. <em>Aesthetic</em> banyak menganalisis pengalaman inderawi, terutama tentang kemungkinan pengetahuan akan obyek-obyek yang berada di dalam ruang dan waktu. <em>Analytic</em> lebih berada di level konseptual, termasuk tentang kategori subtansi dan kausalitas yang memungkinkan pengalaman diolah menjadi pengetahuan konseptual. Kedua bagian ini disebut juga sebagai metafisika pengalaman (<em>metaphysics of experience</em>). Sementara itu bagian <em>Dialectic</em> lebih bersifat negatif, karena lebih bertujuan untuk membuktikan bahwa kita tidak dapat mengetahui obyek-obyek yang berada di luar pengalaman inderawi kita. Bagian ini mau menolak legitimasi metafisika, terutama metafisika transenden (<em>trancendent metaphysics</em>). Dari dua tipe metafisika ini, kita dapat mengenali ambiguitas kritik atas metafisika yang dirumuskan Kant. Ia menolak metafisika transenden, tetapi mengafirmasi metafisika pengalaman. Metafisika pengalaman ini paling jelas terdapat pada bagian <em>Analytic</em>. </span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;line-height:200%;"><span> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></p>
<div>
<hr size="1" />
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn1" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref1"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[1]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat Jill Vince Buroker, <em>Kant’s Critique of Pure Reason</em>, Cambridge, Cambridge University Press, 2006, dan Reza A.A Wattimena, <em>Pengandaian-pengandaian Metafisis di dalam Kritik Immanuel Kant terhadap Metafisika: Mempertimbangkan Kritik Karl Ameriks atas Kritik Immanuel Kant terhadap Metafisika, </em>Jakarta, STF Driyarkara, 2009 (Tidak dipublikasikan).</span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn2" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref2"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[2]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat, Buroker, 2006, hal. 6.</span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn3" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref3"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><span> </span> Kant, <em>Critique of Pure Reason</em>, 1998, Aviii, hal. xxiii. Seluruh kerangka sub bab ini diinspirasikan dari pembacaan saya atas tulisan <span style="text-decoration:underline;">Sebastian Gardner,</span> 1999, hal. 1-26. Kutipan dari tulisan Kant juga diambil dari tulisan Gardner ini. </span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn4" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref4"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[4]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> <em>Ibid “…metaphysics is perpetually brought to a stand…”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn5" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref5"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[5]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> <em>Ibid, </em>dan lihat Gardner, 1999, hal. 1. <em>“Ever and again, we have to retrace our steps…”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn6" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref6"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[6]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Kant, Bxv. <em>“The degree and quality of disagreement in metaphysics makes it a ‘battle ground, a site of ‘mock-combats’ in which ‘no participant has ever yet succeeded in gaining even so much as an inch of territory…”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn7" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref7"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[7]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Bdk, </span><em><span>Ibid. “…The peculiar instability of metaphysics stands in stark contrast to the security of mathematics and natural science, and leaves us with no choice but to conclude that metaphysics ‘has hitherto been a merely random grouping..”</span></em></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn8" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref8"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[8]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><em><span>Ibid</span></em><span>, Bxvi <em>“…Hitherto it has been assumed that all our knowledge must conform to objects’, but since this assumption has conspicuously failed to yield any metaphysical knowledge, we ‘must therefore make trial whether we may not have more success in the tasks of metaphysics, if we suppose that objects must conform to our knowledge…we should than proceeding on the lines Copernicus primary hypothesis’, this being the hypothesis of heliocentrism…”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn9" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref9"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[9]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Lihat, Gardner, 1999, hal. 2. <em>“…this chapter traces the route which Kant arrived at his view that metaphysics constitutes a problem, and his view of what exactly the problem of metaphysics consist in..”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn10" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref10"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[10]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Kant, Axi[n], dalam Gardner, <em>ibid, “our age is, en special degree, the age of criticism, and to criticism everything must submit. Religion through its sanctity, and law-giving through its majesty, may seek to exempt themselves from it. But they then awaken just suspicion, and cannot claim the sincere respect which reason accords only to that which has been able to sustain the test of free and open examination.”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn11" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref11"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[11]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><em><span>Ibid</span></em><span>, Bxiii, hal. xxxi., <em>“…C.A Crucius… submitted the wolffian school to sharp criticism, and it later lost ground to popularphilosophie, an eclectic, intellectually flaccid movement hostile to its esotericism (dismissed…as a pretentiously free manner of thinking…)” </em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn12" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref12"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[12]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Humanism" target="_blank">http://en.wikipedia.org/wiki/Humanism</a></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn13" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref13"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[13]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Lihat, Gardner, 1999, hal. 5. <em>“Leibniz employed a deductive method, derived from Rene Descartes&#8230; and modeled on mathematics, which began with abstract general notions and worked down to concrete nature; Newton by contrast ascended from quantitative measurement of the phenomena of the first principles.”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn14" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref14"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[14]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><span> </span> </span><span style="font-size:10pt;">Lihat, Gardner, 1999,<span> </span>hal. 6.<span> </span></span><em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">“…Every… school of metaphysics…should commit to the flames&#8230;”</span></em></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn15" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref15"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[15]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Bdk, Tjahjadi, 2004, hal. 281. <em>“Adanya sebuah prinsip kausalitas, misalnya, tidak bisa diterima sebagai sebuah prinsip karena tidak bisa diindra. Dengan demikian, filsafat dan ilmu pengetahuan alam yang cara kerjanya mengandalkan prinsi-prinsip yang tidak bisa mencapai kepastian, namun hanya kemungkinan.”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn16" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref16"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[16]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat, Tjahjadi, hal. 281. “Adapun empirisme berpendapat sebaliknya. Sumber pengalaman hanyalah pengalaman inderawi sehingga hanya yang bisa diindra saja yang bisa dijadikan dasar pengetahuan. Berdasarkan pandangan ini, Hume, misalnya, mengatakan bahwa semua hal yang tidak bersifat inderawi hanya bisa diperkirakan atau diterima sebagai kepercayaan saja, tetapi tidak bisa dipastikan.”</span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn17" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref17"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[17]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Kant, 1998, A426/B 454 dalam <a href="http://www.iep.utm.edu/k/kantmeta.htm" target="_blank">http://www.iep.utm.edu/k/kantmeta.htm</a>, <em>“The First Antinomy argues both that the world has a beginning in time and space, and no beginning in time and space. The Second Antinomy&#8217;s arguments are that every composite substance is made of simple parts and that nothing is composed of simple parts. The Third Antinomy&#8217;s thesis is that agents like ourselves have freedom and its antithesis is that they do not. The Fourth Antinomy contains arguments both for and against the existence of a necessary being in the world. The seemingly irreconcilable claims of the Antinomies can only be resolved by seeing them as the product of the conflict of the faculties and by recognizing the proper sphere of our knowledge in each case. In each of them, the idea of &#8220;absolute totality, which holds only as a condition of things in themselves, has been applied to appearances&#8221;</em></span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn18" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref18"><span><span><span><span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">[18]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;"><span> </span> Uraian ini didasarkan pada pembacaan saya atas </span><a href="http://www.iep.utm.edu/k/kantmeta.htm" target="_blank">http://www.iep.utm.edu/k/kantmeta.htm</a><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn19" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref19"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[19]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Lihat, <em>Ibid</em>, Bxxv-xxvi, dalam Gardner, 1999, hal. 23. <em>“Critique does not for Kant imply a negative evaluation of its object: it means simply a critical enquiry, the results of which may equally be positive.”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn20" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref20"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[20]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat, <em>Ibid</em>, Axii. Dalam Gardner, <em>ibid, “So a critique of pure reason is a critical enquiry into our capacity to know anything by emplying our reason in isolation, i.e, without conjoining reason with sense experience; more specifically, it enquires into our capacity to know things lying beyond the bounds of sense experience, such as God and the Soul…”</em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn21" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref21"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[21]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat, </span><em><span>Ibid,</span></em><span> <em>“…Kant gives firm indications in the Preface of the results that the tribunal will reach, and of the means by which the problem of metaphysics will be solved…” </em></span></p>
<p style="line-height:normal;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn22" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref22"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[22]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> </span><span>Lihat, Gardner, 1999, hal. 24. <em>“The metaphysics that Kant attacks, charateristic of rationalism, is speculative or transcendent…, and that which he defends is immanent…., or the metaphysics of experience….”</em></span></p>
<div>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;"><a name="122b02f82f1de9bb__ftn23" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=1qygpcgurkovy#122b02f82f1de9bb__ftnref23"><span><span lang="IN"><span><span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">[23]</span></span></span></span></span></a><span lang="IN"><span> </span> Lihat pemaparan menarik tentang proyek kritik Kant terhadap metafisika tradisional di dalam <a href="http://plato.stanford.edu/entries/kant-metaphysics/" target="_blank">http://plato.stanford.edu/entries/kant-metaphysics/</a>, <em>“<em>How are synthetic a priori propositions possible</em>? This question is often times understood to frame the investigations at issue in Kant&#8217;s <em>Critique of Pure Reason</em>. In answer to it, Kant saw fit to divide the question into three: 1) How are the synthetic <em>a priori</em> propositions of mathematics possible? 2) How are the synthetic <em>a priori</em> propositions of natural science possible? Finally, 3) how are the synthetic <em>a priori</em> propositions of metaphysics possible? In systematic fashion, Kant responds to each of these questions. The answer to question one is broadly found in the Transcendental Aesthetic, and the doctrine of the transcendental ideality of space and time. The answer to question two is found in the Transcendental Analytic, where Kant seeks to demonstrate the essential role played by the categories in grounding the possibility of knowledge and experience. The answer to question three is found in the Transcendental Dialectic, and it is a resoundingly blunt conclusion: The synthetic <em>a priori</em> propositions that characterize metaphysics are not “really” possible at all. Metaphysics, that is, is inherently dialectical. Kant&#8217;s <em>Critique of Pure Reason</em> is thus as well known for what it rejects as for what it defends. Thus, in the Dialectic, Kant turns his attention to the central disciplines of traditional, rationalist, metaphysics — rational psychology, rational cosmology, and rational theology. Kant aims to reveal the errors that plague each of these fields.”</em></span></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=178&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/07/25/filsafat-kritis-kant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cruciality.files.wordpress.com/2008/11/kant-3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Metode Skeptisisme di dalam Filsafat Modern</title>
		<link>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/07/23/metode-skeptisisme-di-dalam-filsafat-modern/</link>
		<comments>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/07/23/metode-skeptisisme-di-dalam-filsafat-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 11:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rezaantonius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezaantonius.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[  
 

Metode Skeptisisme di dalam Filsafat Modern

 
Reza A.A Wattimena

 
 Pada bab sebelumnya kita sudah melihat bagaimana para filsuf abad pertengahan menggunakan logika sebagai metode berpikir mereka. Logika nantinya akan menjadi fondasi kuat bagi perkembangan pemikiran di dalam ilmu pengetahuan. Pada bab ini dengan mengacu pada Stewart Cohen di dalam Routledge Encyclopedia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=176&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:justify;"><span> </span><span> </span><br />
<span> </span></div>
<p style="text-align:center;"><img style="width:516px;height:584px;" src="http://www.irishconfetti.com/resources/10$29+Skepticism.png" border="0" alt="" /></p>
<p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;"><span style="font-size:x-large;"><strong><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Metode Skeptisisme di dalam Filsafat Modern</span></span></strong></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">
<strong><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;"><strong><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Reza A.A Wattimena<br />
</span></span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Pada bab sebelumnya kita sudah melihat bagaimana para filsuf abad pertengahan menggunakan logika sebagai metode berpikir mereka. Logika nantinya akan menjadi fondasi kuat bagi perkembangan pemikiran di dalam ilmu pengetahuan. Pada bab ini dengan mengacu pada Stewart Cohen di dalam <em>Routledge Encyclopedia of Philosophy</em>, saya ingin memperkenalkan anda pada metode skeptisisme yang dominan pada awal filsafat modern.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref1" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn1" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Secara umum skeptisisme adalah pandangan, bahwa orang tidak mungkin bisa sampai pada pengetahuan. Di dalam pandangan para pemikir skeptis yang lebih moderat, manusia masih bisa sampai pada pengetahuan, namun tidak akan pernah sampai pada kepastian. Di dalam pandangan yang lebih radikal, pengetahuan manusia tidak pernah bisa didasarkan pada argumen yang masuk akal. Dengan kata lain pengetahuan manusia itu irasional. Argumentasi adalah sekumpulan kata-kata kosong untuk membuktikan sesuatu yang memang tidak bisa dibuktikan.</span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Pada level yang lebih luas, skeptisisme adalah suatu bentuk ketidakpercayaan pada <em>cara</em> mengetahui manusia. Misalnya ketidakpercayaan pada ingatan sebagai sumber ingatan, karena ingatan sifatnya sangat rapuh dan subyektif.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref2" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn2" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Ada juga para pemikir skeptis yang tidak percaya pada kepastian pengetahuan manusia tentang dunia di luar dirinya. Bagi mereka pengetahuan tentang dunia di luar diri manusia (<em>external world</em>) hanya sebentuk sensasi-sensasi saraf otak semata, dan bukan pengetahuan yang asli. Ada satu bentuk skeptisisme lainnya yang disebut sebagai solipsisme. Paham ini berpendapat bahwa yang ada hanyalah diri manusia dan keyakinan-keyakinan subyektifnya. Segala sesuatu di luar diri manusia tidak ada. Misalnya dunia di luar diri manusia itu sungguh ada, namun itu pun tetap tidak bisa diketahui. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Skeptisisme di dalam Sejarah</span></span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Menurut Richard H. Popkin di dalam <em>Routledge Encyclopedia of Philosophy</em>, skeptisisme memiliki akar yang panjang dalam sejarah. Pada jaman Romawi Kuno, teks-teks Cicero, Sextus Empiricus, dan Diogenes sudah memuat argumen-argumen skeptisisme. Setidaknya ada dua bentuk skeptisisme, yakni ketidakpercayaan pada pada <em>persepsi inderawi</em> (<em>sense perception</em>) manusia untuk memperoleh pengetahuan, dan ketidakpercayaan pada kemampuan <em>akal budi (reason)</em> manusia untuk mencapai pengetahuan yang universal.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref3" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn3" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jika akal budi dan persepsi inderawi tidak bisa membawa manusia pada pengetahuan, maka manusia tidak memiliki lagi alat untuk bisa mengetahui sesuatu. Pengetahuan pun menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Cara pandang ini memiliki implikasi moral tertentu. Jika manusia tidak bisa sampai pada pengetahuan, maka satu-satunya harapan adalah menyandarkan diri pada cara hidup dan aturan yang sudah mapan di dalam masyarakat. Daya dorong untuk mencapai kebenaran absolut menghilang, dan orang pun ‘dipaksa’ untuk hidup dalam harmoni dengan lingkungan sekitarnya. <span> </span></span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berdasarkan penelitian Popkin kelahiran skeptisisme sebagai metode di abad pertengahan disebabkan oleh ditemukannya kembali teks-teks kuno. Teks-teks tersebut pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh para pemikir Humanis di Italia. Kemudian teks-teks tersebut tersebar dan semakin berkembang di Eropa Barat dan Eropa Utara. Seperti sudah disinggung sebelumnya, teks-teks yang berpengaruh adalah tulisan Cicero, Diogenes, dan, yang terpenting, adalah tulisan Sextus Empiricus. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pada awalnya teks-teks tulisan Empiricus lebih dikenal sebagai teks-teks sejarah dan literatur biasa. Namun setelah terbit dua teks terjemahan milik Empiricus, yakni <em>Outlines of Pyrrhonism </em>dan <em>Against the Professors, </em>para filsuf pada waktu itu mulai menempatkan teks-teks itu sebagai teks yang memiliki problem filosofis. Dari penelitian Popkin ini dapatlah disimpulkan, bahwa konsep skeptisisme berkembang dari ditemukannya teks-teks kuno, yang kemudian membuka problem-problem filosofis baru pada abad ke 14 dan 15.</span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Konsep skeptisisme juga berkembang dalam konteks tegangan dengan agama pada abad ke-14. Tokoh yang terkait adalah Girolamo Savonarola dan muridnya yang bernama Pico della Mirandola. Savonarola sendiri adalah seorang biarawan Dominikan sekaligus seorang guru filsafat di Florence. Ia menyarankan dilakukannya reformasi besar-besaran terhadap Gereja Katolik Roma pada waktu itu. Ia bahkan menyarankan orang membaca tulisan Sextus Empiricus sebagai perkenalan kepada iman Kristiani. Ia juga meminta teman-teman biarawannya untuk menerjemahkan teks-teks Empiricus, sehingga bisa dibaca oleh banyak orang. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akan tetapi tulisan-tulisan Empiricus, berlawanan dengan cita-cita Savonarola, tidak pernah dijadikan salah satu teks Kristiani. Bahkan ia kemudian dituduh bidaah, dan dibakar pada 1498. Menurut penelitian Popkin cita-cita Savonarola sebenarnya sesuai dengan ajaran Kristiani. Dia dan muridnya yang bernama Pico sebenarnya hendak menyerang semua bentuk pengetahuan yang ada dengan teori skeptisisme, supaya orang tidak lagi menyandarkan diri pada akal budinya, melainkan bersandar hanya sepenuhnya pada iman. Hal ini nantinya juga dipergunakan oleh para Rabi Yahudi untuk menjadikan Torah sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Melanjutkan cita-cita gurunya, Pico menyerang Filsafat Yunani Kuno dan pemikiran Aristoteles. Argumen Pico memiliki pengaruh sangat besar para para pemikir Renaissance nantinya.</span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pada masa reformasi Erasmus pernah melakukan debat keras melawan Martin Luther. Masa itu adalah masa yang penuh gejolak, akibat gelombang reformasi yang deras melada Eropa. Pada 1511 dalam salah satu tulisannya yang berjudul <em>In Praise of Folly</em>, Erasmus menyerang semua bentuk pandangan skeptik. Baginya skeptisisme adalah sikap dogmatik untuk tidak mengatakan apapun tentang apapun juga. Artinya skeptisisme adalah ajaran yang kosong belaka. Pada bukunya yang berjudul <em>Philosophia Christi</em>, Erasmus menyetujui sepenuhnya ajaran Kristus sebagai satu-satunya kebenaran. Walaupun begitu ia tidak membangun sistem pemikiran apapun untuk mendasari argumennya itu.</span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berdasarkan penelitian yang dilakukan Popkin, Erasmus awalnya setuju dengan kritik tajam yang dilontarkan oleh Luther pada Gereja Katolik. Namun dalam perjalanan Erasmus melihat sikap yang semakin lama semakin keras pada argumen dan tindakan Luther. Ia pun menarik dukungannya, dan tetap memilih untuk menjadi bagian dari Gereja Katolik. Ia kini berada pada posisi yang bertentangan Luther. Yang menarik adalah menurut Popkin, Erasmus justru menggunakan argumen skeptik untuk melawan Luther. Ia berpendapat bahwa tema perdebatannya dengan Luther terlalu sulit untuk dipahami oleh akal budi manusia. Kitab suci pun tidak bisa dijadikan acuan mutlak untuk soal-soal iman dan teologi yang mereka perdebatkan. Berdasar pada argumen skeptik, bahwa manusia tidak mungkin bisa memahami sepenuhnya misteri Tuhan dan iman, Erasmus mengajak Luther untuk kembali pada pandangan tradisional, yakni pandangan Gereja Katolik, dengan penuh keterbukaan hati.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref4" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn4" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Terlihat bahwa Erasmus menerapkan metode skeptisisme untuk membela pendiriannya. Popkin bahkan menyebutnya sebagai skeptisisme lembut (<em>gentle scepticism</em>). Namun Luther sama sekali tidak bisa menerima argumen itu. Baginya seorang Kristen tidak bisa sekaligus adalah seorang skeptik. Orang yang beragama Kristen, atau agama apapun, haruslah meyakini kebenaran yang terdapat di dalam agamanya. Jika tidak maka mereka akan terancam hukuman Tuhan, seperti yang dipercaya di dalam agamanya. “Iman dan skeptisisme sama sekali tidak cocok,” demikian tulis Popkin, “karena seorang Kristen haruslah bahagia di dalam ketegasannya.”</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref5" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn5" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Luther bahkan mengatakan bahwa Roh Kudus sama sekali tidak skeptik (</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="line-height:200%;color:black;font-size:14pt;">Spiritus Sanctus non est scepticus)</span></em><span style="line-height:200%;font-size:14pt;">. Di hari pengadilan akhir (<em>judgment day</em>), Erasmus harus mempertanggungjawabkan keraguannya di hadapan Tuhan. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menurut Popkin perdebatan antara Luther dan Erasmus meninggalkan kita satu pertanyaan filosofis yang penting, bagaimana menciptakan kriteria untuk menentukan kebenaran dalam konteks kebenaran religius? Di dalam sejarah Luther menantang kebenaran tradisi yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Ia menolak mengakui otoritas iman dari Paus dan tradisi Gereja Katolik yang sudah berusia ratusan tahun. Sebagai gantinya ia ingin kembali mengacu pada Kitab Suci. Akan tetapi menurut Popkin, bukankah setiap orang membaca Kitab Suci dengan tafsiran dan gayanya masing-masing? Menjawab ini Luther mengatakan, bahwa tafsirannya langsung didasarkan dari inspirasi roh kudus. Akan tetapi bagaimana memastikan itu? Pada akhirnya Luther hanya mengacu pada keyakinan subyektifnya semata. Keyakinan subyektif yang dipercayainya sebagai bisikan roh kudus. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari kisah di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwa skeptisisme seringkali berperan besar di dalam perdebatan religius. Argumen yang ditawarkan biasanya begini, jika tidak ada yang dapat diketahui sepenuhnya oleh manusia, maka ia hanya perlu mempercayainya. Para pemikir reformis Protestan menggunakan argumen ini untuk melawan tradisi Gereja Katolik. Dan Gereja Katolik menggunakan argumen yang kurang lebih serupa melawan Calvinisme. Semua pihak kemudian menganjurkan fideisme, yakni iman merupakan sumber utama dari pengetahuan manusia. “Jika sikap skeptis terhadap pengetahuan tidak bisa diselesaikan dengan akal budi”, demikian Popkin, “maka ajaran agama haruslah diterima hanya dengan berdasar pada iman semata.”</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref6" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn6" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[6]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tentu saja pandangan ini memiliki banyak kelemahan. Bagaimana mungkin orang bisa beriman tanpa menggunakan akal budinya? Jika itu terjadi bukankah agama lebih menjadi ilusi irasionil semata yang justru memperbodoh manusia? Bukankah orang akan begitu mudah menjadi fanatik terhadap agamanya sendiri, dan menutup mata atau bahkan menindas perbedaan yang ada? Pada hemat saya skeptisisme mengajarkan orang untuk bersikap kritis terhadap semua bentuk pengetahuan. Sikap kritis itu tidak bertujuan untuk membawa orang pada kebingungan, melainkan justru untuk menjernihkan pengetahuan orang tersebut. Inilah yang menjadi inti dari skeptisisme di dalam filsafat modern, yakni mengajarkan orang untuk berpikir kritis, sehingga ia bisa menemukan kebenaran yang sesungguhnya, dan tidak berpuas diri dengan kebenaran-kebenaran palsu.</span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Skeptisisme sebagai Metode</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref7" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn7" target="_blank"><span><span><span><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[7]</span></strong></span></span></span></a></span></strong></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Bapak dari filsafat modern adalah Rene Descartes. Ciri utama filsafatnya adalah refleksi yang mendalam dan berkelanjutan tentang tema kesadaran. Para filsuf setelah Descartes juga pada akhirnya menjadikan tema kesadaran sebagai tema refleksi filosofis mereka. Berdasarkan penelitian Budi Hardiman, Descartes memberikan suatu bentuk metode baru di dalam berfilsafat, yakni yang disebutnya sebagai metode skeptisisme, atau bisa juga disebut sebagai skeptisisme metodis. Tujuan dari metode ini adalah untuk mendapatkan kepastian dasariah dan kebenaran yang kokoh. Inilah tujuan utama filsafat menurut Descartes.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref8" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn8" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[8]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Untuk mendapatkan kepastian dasariah dan kebenaran yang kokoh itu, Descartes mulai dengan meragukan segala sesuatu. Ia meragukan kepastian benda-benda material yang ada di sekitarnya, dan bahkan sampai meragukan keberadaan dirinya sendiri. Jika semua hal di dunia ini bisa diragukan, lalu apakah yang bisa dijadikan sebagai pegangan kokoh? Pada hemat Descartes satu hal setidaknya yang tidak bisa diragukan, yakni fakta bahwa saya sedang meragukan. Jadi walaupun seluruh dunia adalah hasil penipuan, namun fakta bahwa aku sedang meragukan seluruh dunia bukanlah sebuah penipuan. Inti dari sikap meragukan adalah berpikir, maka berpikir juga adalah sebuah kepastian dasariah yang tidak terbantahkan. Jelaslah bahwa keraguan Descartes tidak mengantarkannya pada kekosongan, melainkan justru membawanya pada kepastian yang tidak terbantahkan. Skeptisisme Descartes bisa juga disebut sebagai skeptisisme yang konstruktif. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Cara berpikir skeptik yang lebih radikal dapat ditemukan pada seorang filsuf Inggris yang bernama David Hume. Dengan membaca tulisan-tulisan Hume, orang akan mendapatkan kesan, bahwa ia hendak menghancurkan filsafat. Namun menurut Budi Hardiman, tujuan dasar Hume bukanlah menghancurkan filsafat, melainkan mau melengkapi filsafat dengan sebuah metode berpikir yang ketat dan sistematis. Untuk itu Hume kemudian menggunakan cara berpikir skeptisisme.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref9" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn9" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Yang menjadi obyek utama kritik Hume adalah metafisika tradisional. Baginya metafisika bersifat sangat tidak pasti, dan melebih-lebihkan kemampuan akal budi manusia. Dalam arti ini metafisika bukan lagi sekedar merupakan penyelidikan terhadap realitas dengan menggunakan akal budi manusia, tetapi sudah menjadi mirip dengan mitos dan takhayul. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Berdasarkan penelitian Budi Hardiman dapatlah disimpulkan, bahwa Huma ingin melakukan kritik tajam terhadap tiga bentuk pemikiran, yakni pandangan rasionalisme bahwa seluruh realitas terdiri dari unsur-unsur yang saling berhubungan, pemikiran-pemikiran religius, konsep sebab akibat yang berada di dalam ilmu pengetahuan, dan konsep substansi yang dianut oleh para pemikir empiris (meyakini bahwa sumber utama pengetahuan adalah pengalaman inderawi).</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref10" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn10" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[10]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Coba kita bahas tiga bentuk kritik ini satu per satu. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Yang pertama, para pemikir rasionalis yakin bahwa realitas itu adalah suatu substansi. Artinya realitas adalah satu kesatuan yang bersifat utuh dan mutlak. Ide kesatuan itu biasanya muncul dari pengamatan. Jadi kesatuan adalah kesan yang muncul, ketika orang mulai secara detil mengamati sesuatu. Karena hanya didasarkan pada kesan, maka kesatuan, atau substansi, tidak lebih dari sekedar khayalan manusia semata. Substansi adalah kumpulan persepsi semata. Jadi seluruh realitas adalah kumpulan persepsi (<em>a bundle of perceptions</em>) manusia semata.</span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Kritik kedua Hume yang sampai sekarang masih relevan adalah kritiknya terhadap kausalitas (sebab akibat). Konsep kausalitas mengandaikan bahwa jika peristiwa B terjadi tepat setelah peristiwa A, maka A pasti yang menyebabkan terjadinya B. Bagi Hume konsep sebab akibat di dalam kasus itu sama sekali tidak bisa dipastikan. Konsep kausalitas lebih didasarkan pada kebingungan daripada kejernihan. Hume sendiri mengakui bahwa setiap peristiwa memiliki hubungan yang satu dengan yang lainnya. Namun hubungan itu tidak langsung bisa disimpulkan sebagai kausalitas. Yang bisa dilihat oleh manusia adalah urutan dari peristiwa, dan bukan kausalitas itu sendiri. Sedangkan konsep kausalitas tidak bisa dipastikan, terutama karena tidak bisa diamati secara langsung. Ungkapan terkenal Hume untuk kepercayaan manusia terhadap kausalitas adalah kausalitas sebagai kepercayaan naif (<em>animal faith</em>). </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Kritik ketiga Hume difokuskan pada agama. Baginya orang beragama haruslah menggunakan cara berpikir skeptisisme sehat, yakni cara berpikir yang meragukan berbagai aspek mitologis dan takhayul dari agama. Agama harus dikembalikan kepada karakternya yang rasional dan empiris. Di sisi lain Hume juga bersikap sangat kritis terhadap mukjizat. Ada beberapa argumen yang ditawarkannya. Yang pertama adalah bahwa mukjizat tidak pernah disaksikan oleh sekelompok orang-orang cerdas. Yang kedua, Hume meyakini bahwa orang memang suka pada peristiwa-peristiwa yang sensasional. Mukjizat adalah salah satunya. Namun hal itu sama sekali tidak membuktikan, bahwa mukjizat itu ada. </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Yang ketiga bagi Hume, mayoritas mukjizat terjadi, ketika ilmu pengetahuan belum berkembang. Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa mukjizat hanya menjadi obyek pikiran orang-orang yang sempit dan picik. Yang keempat bagi Hume, mukjizat terdapat di setiap agama, dan setiap agama mengklaim bahwa mukjizat merekalah yang paling benar. Hal ini sulitnya menemukan titik temu yang obyektif tentang konsep mukjizat. Dan yang kelima bagi Hume, banyak sejarahwan yang meragukan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah yang dianggap mukjizat. Semakin mereka terlibat dalam penelitian yang semakin intensif, maka keraguan itu semakin besar. Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa mukjizat lebih merupakan tafsiran subyektif dari orang-orang yang ingin memperkenalkan ajaran agama baru.</span><a name="122a6bf91c970491__ftnref11" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftn11" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:14pt;">[11]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Hume mengajak orang untuk kembali berpijak pada rasionalitas dan cara berpikir kritis. Kedua hal itu membuat orang tidak mudah percaya pada segala bentuk klaim-klaim kebenaran yang ada di masyarakat, termasuk klaim yang mengatasnamakan Tuhan. Metode skeptisisme yang ditawarkan Hume memang terdengar radikal. Namun niat dibaliknyalah yang harus kita hayati bersama, yakni pencarian kebenaran terus menerus, tanpa pernah terjebak pada klaim-klaim yang seringkali tidak memiliki dasar yang kuat.*** </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span></span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;color:black;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="line-height:200%;font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><br />
<hr size="1" /></span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn1" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref1" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Untuk bagian awal bab ini, saya mengacu pada Stewart Cohen dalam <em>Routledge Encyclopedia of Philosophy.</em></span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn2" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref2" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Saya membahas problem ini dalam Reza A.A Wattimena, “Ingatan Sosial, Trauma, dan Maaf”, <em>Jurnal Respons</em>, Mikhael Dua (ed), Jakarta, Atma Jaya, 2009.</span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn3" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref3" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Untuk bagian ini dan berikutnya saya mengacu pada Richard H. Popkin dalam <em>Routledge Encyclopedia of Philosophy. </em></span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn4" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref4" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Lihat, <em>ibid. </em></span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn5" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref5" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid. </em></span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn6" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref6" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid. </em></span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn7" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref7" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[7]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Untuk berikutnya saya mengacu pada F. Budi Hardiman, <em>Filsafat Modern</em>, Jakarta, Gramedia, 2004, hal. 37-93.</span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn8" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref8" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[8]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Lihat, <em>ibid,</em> hal. 38.</span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn9" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref9" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Lihat, <em>ibid</em>, hal. 87.</span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn10" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref10" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[10]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Lihat, <em>ibid, </em>dst.</span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0;"><a name="122a6bf91c970491__ftn11" href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=js&amp;name=js&amp;ver=oQSANZu1eHs.en.&amp;am=%21g-7ZRXWCxC65RfXmwdQ-Qmp-nY5NdHJYCoWUCIwHyA#_ftnref11" target="_blank"><span><span><span><span style="line-height:150%;font-family:'Times New Roman',serif;font-size:10pt;">[11]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Lihat, Budi Hardiman, 2004, hal. 92-93.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rezaantonius.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rezaantonius.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rezaantonius.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rezaantonius.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rezaantonius.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rezaantonius.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rezaantonius.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rezaantonius.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rezaantonius.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rezaantonius.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rezaantonius.wordpress.com&blog=1329793&post=176&subd=rezaantonius&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rezaantonius.wordpress.com/2009/07/23/metode-skeptisisme-di-dalam-filsafat-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65b2d35a4f9235b7f902d5b68614b5f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rezaantonius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.irishconfetti.com/resources/10$29+Skepticism.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>