Knowledge is Power Brother!!!

Manusia Multidimensional

Manusia dan Dimensi-dimensi Hakikinya

Reza A.A Wattimena

Pada bagian pendahuluan ini, saya hendak memberikan survey singkat tentang manusia dan dimensi-dimensi hakikinya. Refleksi semacam ini banyak ditemukan pada buku filsafat manusia sebelumnya. Saya mengacu pada diktat MKU yang dibuat oleh tim dosen UNIKA Widya Mandala, Surabaya. Diktat tersebut juga banyak mengacu pada tulisan-tulisan A. Sudiarja dan Louis Leahy tentang manusia. Dengan memberikan outline singkat yang menjadi inti dari buku-buku filsafat manusia lainnya, buku ini hendak memberikan tambahan refleksi baru yang kiranya lebih up to date dengan refleksi filsafat terbaru tentang manusia, sekaligus dengan tambahan dari displin ilmu lainnya, seperti psikologi, sosiologi, dan sebagainya.[1]

Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Manusia

Filsafat manusia adalah cabang filsafat yang hendak secara khusus merefleksikan hakekat atau esensi dari manusia. Filsafat manusia sering juga disebut sebagai antropologi filosofis. Filsafat manusia memiliki kedudukan yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, epistemologi, kosmologi, dan filsafat politik. Akan tetapi filsafat manusia juga memiliki kedudukan yang istimewa, karena semua persoalan filsafat itu berawal dan berakhir tentang pertanyaan mengenai esensi dari manusia, yang merupakan tema utama refleksi filsafat manusia.

Mirip dengan psikologi, sosiologi, dan antropologi, filsafat manusia juga ingin memahami manusia dan gejala-gejalanya. Dapatlah dikatakan bahwa obyek material keempat displin adalah sama, yakni manusia yang mengekspresikan dirinya di dalam dunia. Akan tetapi metode pendekatan yang digunakan sangatlah berbeda. Secara umum, psikologi, sosiologi, dan antropologi menggunakan metode yang berfokus pada fakta-fakta empiris yang bisa diukur. Fakta-fakta itu kemudian dianalisis dengan menggunakan metode eksperimental. Di sisi lain, filsafat manusia tidak membatasi diri pada fakta-fakta empiris semata. Yang menjadi kajian dari filsafat manusia adalah segala sesuatu mengenai manusia, sejauh bisa dipikirkan secara rasional. Dimensi metafisis, spiritual, dan universal dari manusia, yang tidak bisa didekati secara empiris, justru menjadi kajian terpenting filsafat manusia.

Ilmu-ilmu lain tentang manusia terbatas pada apa yang tampak secara empiris. Aspek-aspek manusia yang bermakna, namun tak tampak secara empiris, tidak mendapat tempat di dalam analisis ilmu-ilmu empiris. Akibatnya, banyak pertanyaan terkait dengan esensi manusia yang tidak akan bisa dijawab oleh ilmu-ilmu manusia yang bersifat empiris tersebut, seperti apakah esensi dari manusia? Siapa itu manusia, dan bagaimana kedudukannya di alam semesta ini? Apa yang menjadi makna dari hidup manusia? Apa tujuan hidup manusia? Apa yang harus dilakukan manusia untuk menjaga dan mengembangkan kehidupan diri dan dunianya? Masih banyak pertanyaan lainnya yang tidak disentuh oleh psikologi, antropologi, ataupun sosiologi.

Ciri Filsafat Manusia

Ciri utama dari filsafat manusia adalah pendekatannya yang sekaligus meluas dan mendalam di dalam memahami manusia. Disebut mendalam, karena filsafat hendak mencari inti, akar, atau struktur dasar yang melandasi seluruh realitas manusia, baik yang ada di dalam kehidupan sehari-hari, ataupun yang ada di dalam data-data ilmiah. Disebut meluas, karena filsafat manusia hendak memahami semua dimensi manusia dari sisinya yang paling mendasar, seperti manusia sebagai mahluk yang memiliki motivasi, kesadaran, kebebasan, agresi, dan sebagainya.

Manfaat Mempelajari Filsafat Manusia

Filsafat manusia menawarkan suatu bentuk pengetahuan yang luas, dalam, dan kritis tentang keseluruhan manusia. Pengetahuan semacam itu sekaligus memiliki manfaat teoritis dan praktis. Secara praktis, filsafat manusia mampu membantu kita membuat keputusan-keputusan praktis di dalam kehidupan sehari-hari dengan berbekal pengetahuan yang kita miliki tentang diri kita sendiri. Filsafat manusia juga dapat membantu memberikan makna pada apa yang tengah kita alami, menentukan tujuan hidup, dan sebagainya. Secara teoritis, filsafat manusia dapat membantu kita meninjau secara kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di dalam teori-teori tentang manusia yang terdapat di dalam ilmu pengetahuan. Filsafat manusia, pada akhirnya, dapat membuat kita semakin menyadari, betapa manusia adalah mahluk yang sangat rumit. Manusia adalah suatu enigma yang tak mungkin sepenuhnya bisa dipahami, bahkan oleh dirinya sendiri.

Metode Filsafat Manusia

Filsafat manusia tidak mau memberikan fakta-fakta baru tentang manusia, melainkan berusaha mencari pengetahuan yang lebih mendalam dari data-data yang telah banyak diketahui sebelumnya. Oleh karena itu, filsafat manusia lebih bersifat refleksif, yakni melihat diri sendiri dan melakukan olah pikir untuk mendapatkan pengetahuanya tentangnya. Filsafat manusia juga berkembang dengan metode dialektis, yakni melalui proses pengajuan jawaban dan pertanyaan, yang kemudian intensitas dan tingkat refleksinya terus berkembang.

Manusia sebagai Mahluk yang Hidup

Pertama-tama menurut A. Sudiarja, manusia adalah mahluk yang hidup. Akan tetapi kehidupan manusia berbeda dengan mahluk hidup lainnya, baik hewan ataupun tumbuhan. Tidak hanya itu mesin juga sering dikatakan “hidup”. Lalu apa sebenarnya ciri khas dari kehidupan manusia? Menurut Sudiarja jawaban atas pertanyaan ini sangatlah penting, terutama untuk memahami alasan mengapa orang harus menghargai hidupnya.

Semua mahluk hidup dapat dikatakan sebagai hidup, jika ia bergerak dan melakukan kegiatan. Dalam arti ini sebenarnya mesin juga bisa dikatakan sebagai benda hidup. Namun jika diperhatikan lebih jauh, gerak mesin berbeda secara kualitatif dengan organisme yang hidup. Mesin bergerak karena ada intervensi dari luar. Ia juga mati karena intervensi yang kurang lebih sama. Maka kehidupan mesin adalah sesuatu yang artifisial. Kehidupan mesin adalah kehidupan tiruan dari organisme yang sungguh hidup. Mesin hanyalah benda mati.[2]

Mahluk hidup adalah entitas yang secara konstan mempertahankan dan memperkembangan dirinya. Kedua kecenderungan itu paling tampak di dalam diri manusia. Dalam arti ini pendekatan biologis dan kimia belumlah cukup untuk memahami manusia, karena manusia lebih dari sekedar entitas biologis dan kimiawi. Pendekatan psikologi pun tidak mencukupi untuk memahami manusia, karena manusia lebih dari sekedar mahluk yang merasa di dalam hidupnya. Kehidupan manusia kaya akan cinta, penderitaan, perjuangan, dan harapan. Semua itu tidak dapat diterangkan dengan pendekatan biologis atau psikologis semata.

Secara umum dapatlah dikatakan, bahwa setiap organisme hidup memiliki jiwa. Jiwa adalah prinsip integritas atau pemersatu seluruh kegiatan yang dilakukan organisme itu. Benda mati tidaklah memiliki jiwa semacam ini.[3] Filsafat manusia membedakan tiga tingkatan dari jiwa organisme. Pada masing-masing tingkatan, jiwa berperan secara berbeda. Yang pertama adalah jiwa vegeter. Jiwa vegeter bertindak dengan kualitas raganya. Kegiatan jiwa vegeter, dengan demikian, identik dengan kegiatan fisiknya. Contonya adalah tanaman. Gerak tanaman adalah pertumbuhan batang, daun, dan akar, dan itu semua sudah merupakan semua kegiatannya.

Yang kedua adalah jiwa sensitif. Kegiatan jiwa ini melampaui kegiatan ragawi. Artinya kegiatan jiwa ini memang masih melibatkan raga, tetapi sekaligus tidak tergantung dengannya. Kegiatan jiwa sensitif menghasilkan perasaan-perasaan seperti senang, sedih, nikmat, dan sakit. Ini adalah kegiatan mental manusia yang tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan kegiatan fisik, walaupun masih melibatkan fisik itu sendiri. Yang ketiga adalah jiwa rohani. Menurut Sudiarja jiwa rohani mengatasi raga, sehingga bisa bertindak melampaui perasaan dan organ-organ material. Hasilnya berupa pemikiran, argumentasi, dan cita-cita yang bersifat menetap.

Sebagai mahluk hidup manusia adalah individu yang memiliki kesatuan. Kesatuan ini disebut juga sebagai kesatuan substansial. Pada manusia kesatuan substansial ini sangat kuat, sehingga menghasilkan fenomena kesadaran dan subyektivitas. Subyektivitas ini memungkinkan orang untuk mengatakan “aku” sebagai orang yang bertanggungjawab. Kesatuan substansial ini adalah kesatuan yang kompleks dari keseluruhan dimensi manusia. Kesatuan ini juga berbeda dengan bagian-bagian yang membentuknya. Kesatuan bagian lebih tinggi dari sekedar kumpulan dari bagian-bagian itu. Kesatuan inilah yang merupakan inti kehidupan manusia.

Sifat dan Fungsi Tubuh Manusia

Di dalam buku ini, saya akan mengajukan satu bab penuh refleksi tentang tubuh dengan menggunakan metode fenomenologi. Sebagai pengantar ada baiknya saya menuangkan beberapa refleksi filsafat sebelumnya tentang sifat dan fungsi tubuh manusia. Yang pertama adalah tubuh manusia itu sangatlah kompleks, baik unsur pembentuknya, seperti sistem saraf, otot, mata, dan sebagainya, maupun relasi antara berbagai sistem itu. Kompleksitas ini dapat dipandang sebagai keistimewaan manusia. Yang kedua adalah bahwa tubuh manusia mengalami strukturasi.[4] Binatang lain langsung berdikari, ketika mereka lahir. Sementara manusia baru bisa mandiri minimal setelah ia berusia beberapa tahun. Ketika lahir manusia masih lemah, dan belum mampu membela diri.

Yang ketiga adalah tubuh manusia bersifat umum, tidak terspesialisasi. Tubuh binatang dan tumbuhan sudah final, dan tidak berkembang lagi. Sementara manusia masih bisa mengembangkan kemampuan tubuhnya dengan berbagai kemampuan. Kita bisa melihat orang yang belajar menari, lalu menjadi penari. Orang yang menjadi atlet, karena ia rajin berlatih mengembangkan tubuhnya. Yang keempat adalah bahwa tubuh manusia tidak terkurung dalam satu lingkungan, melainkan bisa beradaptasi. Binatang haruslah hidup sesuai dengan habitatnya. Tubuh mereka berhubungan langsung dengan habitatnya. Manusia tidak seperti itu. Ia bisa membentuk tubuhnya sedemikian rupa, sehingga bisa tinggal di tempat manapun. Bisa juga dibilang bahwa manusia tidak memiliki habitat. Kelemahan manusia, bahwa ia tidak memiliki habitat, justru menjadi kekuatannya, karena ia justru lebih terbuka pada berbagai kemungkinan.

Yang terakhir adalah bahwa tubuh manusia itu tegak. Posisi ini secara jelas membedakan manusia dengan binatang. Posisi tegak ini membuat manusia harus memperhatikan keseluruhan tubuh dan mengembangkannya semaksimal mungkin. Akan tetapi posisi tegak ini tidaklah alamiah, karena manusia tidak memperolehnya sedari ia lahir. Manusia harus berlatih supaya ia bisa berdiri tegak. Maka dalam arti ini, posisi tegak juga merupakan suatu bentuk kebebasan manusia terhadap kondisi alamiahnya. Secara spekulatif juga bisa dikatakan, bahwa posisi tegak menggambarkan keterhubungan manusia dengan sesuatu yang lebih tinggi daripadanya. Manusia bisa selalu terhubung pada yang transenden.

Tubuh selalu hadir di dalam setiap aktivitas manusia. Tubuh berperan ganda sekaligus sebagai penghubung ke dunia luar, dan juga sebagai partisipasinya dalam pembentukan subyekifitas. Ada beberapa fungsi mendasar dari tubuh. Yang pertama adalah fungsi penduniaan. Tubuh membuat manusia berada di dunia. Dengan tubuhnya manusia menjadi bagian dari dunia. Manusia menjadi terbatas karena tubuhnya berada pada ruang dan waktu tertentu. Tanpa tubuh manusia tidaklah bisa bereksistensi di dunia. Ia bagaikan entitas spiritual yang mengambang tanpa realitas. Dengan tubuhnya manusia membuat semua hal di sekitarnya menjadi dunianya. Tubuh seolah menjadi titik referensi bagi benda-benda material. Tubuh menjadi pusat horison, menjadi ukuran bagi semua benda di sekitarku, dan menjadi pusat dari semua mata angin bagi diriku.

Fungsi kedua adalah fungsi epistemologis, yakni bahwa tubuh berfungsi untuk mengetahui, memahami, menganalisis, dan memeriksa dunia beserta obyek-obyeknya. Proses mengetahui ini terjadi, karena adanya indera di dalam tubuh. Pengetahuan konseptual juga dimungkinkan, karena terlebih dahulu telah ada pengetahuan yang diperoleh melalui indera. Kesadaran diri juga tidak mungkin ada tanpa tubuh. Tubuh juga memungkinkan orang mengenali bagian dari dirinya. Seorang dokter, pengacara, dosen, dan astronot bisa menjadi seperti itu, karena mereka menempatkan tubuh mereka pada profesi tertentu. Tubuh memiliki fungsi pengetahuan ke dalam untuk memahami subyektivitas, dan keluar untuk memahami dunia.

Fungsi ketiga adalah fungsi sosial. Dengan tubuhnya manusia bisa hadir untuk manusia lain. Ia pun menjadi manusia sosial. Menurut Merleau-Ponty manusia menjadi ada di dunia berkat tubuhnya. Eksistensi manusia itu tidak hanya diukur dengan kategori spasial temporal yang kaku saja, tetapi juga relasinya dengan manusia lain. Relasinya itulah yang bisa memberikan makna pada dirinya sendiri, dan bukan hanya sekedar spasial temporal. Fungsi keempat adalah fungsi kepemilikan. Pertama adalah bahwa setiap orang memiliki tubuhnya. Lalu dengan dasar itu, orang kemudian bisa memiliki hal-hal lainnya. Semua milikku bisa menjadi milikku, karena relasinya dengan tubuhku. Dalam arti ini milik bisa menjadi perpanjangan dari tubuhku. Organ yang paling jelas melaksanakan fungsi kepemilikan itu adalah tangan. Dengan tangan manusia bisa menguasai sesuatu. Tangan juga merubah dan membentuk segala sesuatu.

Fungsi kelima adalah fungsi asketis. Tubuh merupakan bagian dari manusia, supaya ia bisa menjadi utuh. Manusia menjadi bisa mencapai keutamaan, jika ia mempunyai tubuh. Peranan tubuh dalam mencipta keutamaan dan mencegah keburukan sangatlah jelas. Kebiasaan buruk manusia, seperti mengkonsumsi minuman keras, melakukan seks bebas tanpa kontrol, dan hal-hal negatif lainnya dapat dicegah, jika ia bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Kelima fungsi tubuh ini memang memberikan identitas kepada manusia. Akan tetapi manusia tetaplah lebih dari sekedar tubuhnya. Subyektivitas manusia memang juga muncul dari peran tubuh. Namun subyektivitas itulah yang membuatnya bisa melampaui tubuhnya sendiri. Walaupun tubuhnya kecil ia tetap bisa meluas, dan berpikir tentang segala sesuatu lepas dari keterbatasan tubuh itu.

Manusia Berbicara

Menurut Sudiarja tindakan berbicara manusia menunjukkan apa yang hakiki di dalam dirinya. Pertama, tindakan berbicara menunjukkan adanya kesatuan substansial orang berbicara. Ia mandiri dan tetap. Jika ia berganti-ganti nama atau identitas, pembicaraannya tidak akan bisa dimengerti orang lain. Rujukan pada subyek sama sangatlah berpengaruh pada arah pembicaraan. Kedua, tindakan berbicara juga menunjukkan adanya interioritas dari si pembicara. Orang berbicara dengan mengalirkan makna dari permenungannya, yakni dari interioritas dirinya. Tanpa interioritas semacam itu, orang tidak akan mampu berbicara.

Ketiga, tindakan berbicara juga mengandaikan keterbukaan manusia. Ia terbuka pada dunia, dan siap berelasi dengan orang lain. Inilah yang disebut Sudiarja sebagai ciri eksteriorisasi manusia. Ciri inilah yang memungkinkan sosialitas manusia. Keempat, tindakan berbicara juga menandakan kemampuan manusia untuk menerima dari luar dirinya, dan kemudian mencipta kembali apa yang ia terima. Orang menerima ide dari luar, lalu kemudian diolah, dan digunakan untuk pengembangan pemikiran maupun kepribadiannya.

Manusia Merasakan

Fenomena merasakan di dalam diri manusia disebut Sudiarja sebagai afeksi. Ada tiga pemahaman mendasar mengenai afeksi. Afeksi adalah tarikan dari obyek. Tepatnya afeksi adalah kegiatan batin dari subyek, ketika ia merasa ditarik atau ditolak oleh obyek. Afeksi juga merupakan suatu kegiatan mendasar manusia. Mirip dengan bernafas afeksi merupakan tindakan yang mendukung hidup. Yang jelas afeksi bukanlah pengetahuan. Afeksi lebih luas daripada nafsu, dan afeksi bukanlah sumber kejahatan. Dengan afeksi manusia bisa lebih menyentuh realitas untuk sungguh memahami denyut mendasar dari realitas tersebut.

Sudiarja juga menunjukkan beberapa syarat yang memungkinkan afektivitas manusia. Afektivitas muncul karena adanya kesamaan antara subyek dan obyek, atau antara subyek yang satu dengan subyek lainnya. Rasa tertarik bisa muncul, karena ada landasan ketertarikan di antara keduanya. Tanpa ikatan ketertarikan ini, afeksi tidak akan muncul. Cinta misalnya. Cinta tumbuh dari landasan kesamaan yang menciptakan ketertarikan, seperti sesama manusia, sama minat, sesama cita-cita, dan sebagainya. Tanpa kesamaan orang tidak mungkin saling mencintai.

Dalam hal cinta nilai dan kebaikan juga merupakan syarat akan terciptanya afeksi. Nilai adalah sesuatu yang menempel pada benda, sehingga membuatnya berharga, layak dikejar, dan sebagainya. Hal-hal seperti keadilan, kebenaran, dan cinta merupakan sesuatu yang bernilai secara intrinsik. Artinya nilai itu sudah otomatis melekat pada obyeknya. Dari sudut subyek nilai adalah sesuatu yang berada di kejauhan. Nilai membangkitkan gairah, menimbulkan rasa hormat, kagum, sehingga subyek merasa lebih sempurna. Oleh karena itu subyek perlu bekerja keras dan siap mengorbankan diri untuk mendapatkannya. Walaupun begitu nilai memiliki tingkatannya sendiri. Beberapa nilai lebih tinggi daripada yang lain, sehingga layak untuk dikejar dengan penuh kerja keras.

Syarat kedua bagi afeksi adalah kebaikan. Menurut Sudiarja kebaikan dapat menjadi obyek afeksi, karena memberikan kegunaan tertentu, menyenangkan, dan memenuhi standar kelayakan tertentu. Untuk bisa berafeksi orang perlu menyadari dan mengembangkan kemampuan-kemampuan afektifnya, yakni kemampuan untuk menggerakkan emosi, minat, dan gairahnya. Orang juga perlu mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum ia bisa memberikan afeksinya kepada orang lain. Pengenalan juga merupakan syarat bagi afeksi. Tanpa pengenalan tidak ada pengetahuan. Dan tanpa pengetahuan tidak akan ada afeksi.

Pandangan Singkat Beberapa Filsuf Besar Tentang Manusia[5]

Menurut Platon manusia itu adalah mahluk pribadi yang memiliki martabat. Di dalam dirinya ada dua entitas terpisah yang kemudian menyatu, yakni tubuh dan jiwa. Akan tetapi martabat manusia sebagai pribadi tersebut tidaklah terbatas pada persatuan tubuh dan jiwa pada awal penciptaan dirinya. Thomas Aquinas, filsuf abad pertengahan, menyatakan bahwa manusia memili martabat yang lebih tinggi daripada mahluk hidup lainnya. Hal itu terjadi karena manusia memiliki pikiran yang dimilikinya dalam kesatuan dengan badan. David Hume dan Immanuel Kant, yang dapat digolongkan sebagai filsuf modern, menyatakan bahwa manusia memiliki identitas diri. Identitas inilah yang membuat orang tetap sama, walaupun waktu telah berlalu.

Masih dalam jajaran para filsuf modern, John Stuart Mill berpendapat bahwa pribadi manusia sangatlah berharga. Dalam arti tertentu pribadi itu lebih bernilai daripada kepentingan masyarakat. Individu tidaklah boleh dikorbankan melulu demi kepentingan masyarakat. John Dewey berpendapat bahwa konsep pribadi lebih tepat ditujukan untuk menggambarkan individu dengan peran tertentu di dalam masyarakat. Sementara John Macmurray berpendapat, bahwa manusia baru menjadi pribadi, ketika ia bertindak berdasarkan fokus dan intensi tertentu.

Apa yang tulis dalam bab ini merupakan dasar bagi perjalanan filsafat untuk memahami apa artinya menjadi manusia otentik. Yang tertulis di dalam bab ini juga merupakan dasar bagi filsafat manusia, yang selama ini telah menjadi tema utama refleksi filsafat manusia. Buku yang saya tulis ini merupakan update lebih jauh dari refleksi di atas dengan menggunakan literatur-literatur terbaru yang bersifat multidispliner dalam memahami manusia, dan apa artinya menjadi manusia yang otentik.




[1] Seluruh bagian ini mengacu pada Tim Dosen UPT-MKU Unika Widya Mandala, Diktat Filsafat Manusia, Surabaya, tidak dipublikasikan. Diktat kuliah kumpulan tim dosen MKU ini juga banyak mengacu pada catatan kuliah yang dibuat oleh A. Sudiarja di Yogyakarta.

[2] Lihat, ibid, hal. 17.

[3] Lihat, ibid, hal. 19.

[4] Lihat, ibid, hal. 25.

[5] Saya mendasarkan pada diktat MKU Tim Dosen Universitas Widya Mandala, Surabaya, tidak dipublikasikan.

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.